MENERJANG RUMAH : Jebolnya tanggul Kali Beringin sepanjang 15 meter, di RT 2 RW 3, ratusan rumah warga di Kelurahan Mangkang Wetan terendam banjir, Rabu petang (22/11) kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENERJANG RUMAH : Jebolnya tanggul Kali Beringin sepanjang 15 meter, di RT 2 RW 3, ratusan rumah warga di Kelurahan Mangkang Wetan terendam banjir, Rabu petang (22/11) kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG-Ratusan rumah warga di Kelurahan Mangkang Wetan terendam banjir, Rabu petang (22/11) kemarin. Banjir kali ini akibat jebolnya tanggul Kali Beringin sepanjang 15 meter, di RT 2 RW 3, Kelurahan Mangkang Wetan, Kota Semarang.

Banjir merendam 130 yang ada di RT 2 RW 3, rumah dengan jumlah kepala keluarga sekitar 200 orang. Banjir juga merusak 1 rumah warga milik Habib warga setempat, serta dua gedung sekolah yakni SD Mangkang Wetan 3 dan SMP Hasanuddin 5.

“Akibat hujan deras sejak siang, pukul 16.30 tanggul jebol dan air bah langsung masuk dari belakang rumah yang hanya berjarak 5 meter dari tanggul,” kata Habib, 40, korban banjir yang rumahnya rusak parah.

Akibat meluapnya sungai secara tiba-tiba, ia pun hanya bisa pasrah melihat barang berharga miliknya terendam air. Selain itu, satu kolam yang berisi lele siap panen, habis tersapu banjir. “Kalau kerugiannya mencapai jutaan rupiah. Tapi saya berharap, tanggul yang jebol bisa segera diperbaiki,” pintanya.

Terpisah Lurah Mangkang Wetan, Sugiarti menerangkan, banjir terjadi karena aliran Kali Beringin tersumbat sampah. Sehingga tanggul jebol di dua titik, yakni di RW 3 dan RW 5. “Total rumah yang terendam 130 rumah. Selain itu ada dua sekolah yakni SD Mangkang Wetan 3 dan SMP Hasanuddin 5,” tuturnya.

Pihaknya mengaku sudah melaporkan kejadian tersebut ke Pemkot Semarang. Hingga berita ini, diturunkan warga dibantu petugas masih sibuk membersihkan lumpur dan air banjir yang ada di dalam rumah. “Saat ini warga sudah mendapatkan bantuan nasi bungkus. Dan pembersihan rumah dibantu oleh petugas,” ungkapnya.

Camat Tugu, Anton Siswantoro, menerangkan jika sampah dan sendimentasi di Kali Beringin memang cukup parah, sehingga jika hujan melanda Kota Semarang daerah atas, dipastikan Kali Beringin meluap. “Jebolnya tanggul Sungai Beringin sudah berkali-kali terjadi. Selain karena sampah, sendimentasi cukup parah sehingga perlu dilakukan normalisasi,” tambahnya.

Sedangkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Agus Harmunanto memastikan tidak ada korban jiwa dalam banjir bandang di Kelurahan Mangkang Wetan tersebut.

“Tidak ada korban, itu karena memang arus biasa. Kalau arus dari arah Ungaran sebelah barat deras, maka alirannya akan masuk ke Sungai Beringin. Tepatnya di RT 2 RW 3 Kelurahan Mangkang Wetan, tanggulnya jebol. Airnya masuk ke rumah- rumah warga setinggi kurang lebih 1 meter,” kata Agus.

Sebanyak 100 kepala keluarga (KK) terkena dampak banjir bandang tersebut. Terdapat kurang lebih 200 balita, 70 lansia, 10 unit rumah rusak parah, dan 30 unit rumah rusak ringan. “Ini data sementara, karena saat ini masih dilakukan penanganan,” kata salah seorang petugas BPBD Kota Semarang, semalam.

Dikatakannya, air yang meluber akibat tanggul jebol tersebut kemudian masuk ke permukiman rumah warga. Air yang menerjang rumah warga tersebut bercampur dengan limbah, sehingga beberapa tembok rumah warga jebol. “Karena bercampur air limbah, tekanan airnya cukup kuat sehingga mengakibatkan kerusakan materiil di rumah warga,” katanya.

Pihaknya langsung menerjunkan tim untuk melakukan penanganan darurat. Petugas telah melakukan evakuasi terhadap warga dan penanangan untuk membendung tanggul jebol. “Sementara kami berikan bendungan menggunakan karung-karung berisi pasir di titik tanggul yang jebol. Ini penanganan sementara untuk mengantisipasi kalau airnya tambah deras ataupun ada hujan susulan. Bendungan karung itu untuk meminimalisasi agar air bisa dikendalikan,” katanya.

Hingga pukul 19.00, lanjut Agus, air yang masuk di permukiman warga sudah berangsur surut. Pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang dan mengecek di lokasi tanggul. “Selain itu untuk bantuan kepada warga yang terkena dampak juga sudah dikirim bantuan logistik. Ada dua RT di RW 3 Mangkang Wetan. Sementara ini, tidak ada yang mengungsi, karena airnya sudah surut. Hanya saja perlu membersihkan lumpur, karena habis diterjang air limbah. Besok pagi akan dilakukan kerja bakti bersama-sama untuk membersihkan lumpur bekas limbah tersebut,” terangnya.

Pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas PU jika dibutuhkan alat berat, termasuk jika diperlukan bantuan air bersih akan berkoordinasi dengan PDAM. Sedangkan untuk menyemprot lumpur-lumpur di permukiman warga, akan meminta bantuan Dinas Pemadam Kebakaran. “Ya memang namanya ini banjir bandang, tapi intensitas dan ketinggiannya tidak seperti banjir bandang. Airnya memang deras, jadi tembok yang nggak kuat ya jebol,” katanya.

Untuk inventarisasi kerusakan rumah warga belum bisa dilakukan karena kondisinya sudah gelap. “Yang jelas tidak ada korban jiwa, hanya kerusakan materiil. Besok dilakukan kerja bakti secara gotong royong untuk membersihkan lumpur di rumah-rumah warga,” katanya.

Komisi C Desak Lakukan Normalisasi

Sementara itu, Komisi C  DPRD Kota Semarang mendesak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juwana segera melakukan normalisasi Suungai Bringin.

Ketua Komisi C, Kadarlusman menyayangkan lambatnya normalisasi di Kali Beringin, padahal kali tersebut sangat mendesak untuk dilakukan normalisasi. “Karena ranahnya BBWS, Pemkot tidak bisa berbuat banyak. Sampai sekarang belum jelas kapan akan dinormalisasi, padahal kebutuhannya sangat mendesak,” katanya saat meninjau banjir di Kelurahan Mangkang Wetan, Rabu malam (22/11) kemarin.

Dirinya mengaku bersama Pemkot Semarang, akan mendesak Kementrian PU untuk segera merealisasikan normalisasi di Kali Beringin. Selama ini normalisasi sungai tersebut terganjal pembebasan lahan milik warga di sekitar bantaran sungai. “Pembebasan lahannya masih kurang sedikit, namun sebenarnya normalisasi secara fisik bisa dilakukan. Sifatnya sangat urgent karena kondisi cuaca saat ini tidak bisa diprediksi,” tuturnya.

Hal serupa diungkapkan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Semarang, Izwar Aminuddin. Menurutnya, normalisasi tidak bisa dilakukan lantaran Kali Beringin di bawah kewenangan BBWS Pemali-Juwana. “Bukan wewenang kami untuk melakukan normalisasi Sungai Beringin. Namun informasinya dari Pemerintah Pusat sudah siap menganggarkan normalisasi Kali Beringin,” katanya.

Ia menerangkan, dari analisa yang dilakukan, selain sendimentasi, banyak sampah yang ada di Sungai Beringin yang menjadi penyebab banjir. Sampah tersebut menyumbat di jembatan, sehingga air sungai meluber dan menjebolkan tanggul. “Langkah kami segera lakukan pembersihan sampah di sungai dengan menurunkan alat berat. Selain itu menambal sementara tanggul yang jebol dengan kantong pasir,” paparnya.

Untuk langkah ke depan, lanjut Izwar, pihaknya akan melakukan peninggian jembatan di RT 3 RW 3 Kelurahan Mangkang Wetan yang menjadi penyebab tersumbatnya sampah di Sungai Beringin. “Nanti akan dianggarkan dari APBD Kota Semarang, tahun depan saya harap bisa dikerjakan karena sifatnya sangat mendesak,” pungkasnya.(den/amu/ida)