MENURUN: Salahsatu perajin gula merah di Dusun Kemasan Desa Ngasinan Kecamatan Susukan saat memperlihatkan proses pembuatan gula merah, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENURUN: Salahsatu perajin gula merah di Dusun Kemasan Desa Ngasinan Kecamatan Susukan saat memperlihatkan proses pembuatan gula merah, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN – Produksi gula merah atau sering disebut gula jawa di Kabupaten Semarang menurun. Pemicunya yaitu dampak dari perubahan musim. Beberapa perajin gula merah di Desa Ngasinan Kecamatan Susukan mengungkapkan, penurunan produksi sudah terjadi sejak memasuki musim penghujan. Produksi gula merah di Ngasinan masih dilakukan secara konvensional.

“Sejak musim penghujan sudah berkurang produksinya,” ujar salah seorang pengrajin gula merah Dusun Kemasan, Desa Ngasinan, Suratih, 56, Selasa (21/11).

Suratih menjelaskan, bahan baku gula merah yaitu getah pohon aren. Setelah getah tersebut diambil, kemudian direbus di atas bara api selama 5 jam. Setelah direbus, gula merah ditiriskan menggunakan tempurung kelapa dan dijemur.

Saat musim penghujan seperti saat ini, proses penjemuran tidak bisa dilakukan dengan maksimal. Hasilnya, kualitas gula merah pun menurun. Selain kualitas, produktivitas juga menurun.

“Kalau cuaca seperti ini jelas menurun, karena proses jemurnya kita tidak bisa secara maksimal,” katanya. Dikatakan Suratih, dalam sehari biasanya ia bisa memproduksi gula merah hingga 7 kilogram. Tapi saat musim penghujan, hanya bisa mendapat 3 kilogram.

Adapun harga gula merah dari produsen saat ini mencapai Rp 13 ribu per kilogram. “Satu cetakan (batok kelapa) ini beratnya 13 ons,” ujarnya.

Pengrajin lain, Tumini, 52, mengatakan kondisi cuaca juga mempengaruhi getah nira. “Tidak seperti biasanya dan kalau dibuat rasanya juga berbeda saat musim kemarau,” kata Tumini. Saat musim penghujan, produksi gula merah Tumini hanya mencapai 2,5 kilogram perhari. Di luar musim penghujan ia bisa memproduksi 6 kilogram gula merah.

Kepala Desa Ngasinan Habib Sudarmono mengatakan, menurunnya produksi gula merah tersebut secara tidak langsung berpengaruh kepada tingkat perekonomian masyarakatnya. “Kalau produksi dan kualitas turun, otomatis yang terjual tidak banyak dan itu pasti mengurangi pendapatan mereka,” kata Habib. Saat ini jumlah produsen gula merah di Desa Ngasinan mencapai 40 perajin. (ewb/ton)