Gali Peradaban di Lemah Abang

146
PAYUNG HUKUM : Bupati Pekalongan Asip Kholbihi bersama Kepala Puslit Arkenas I Made Geria, usai melakukan penandatanganan nota kesepahaman terkait penelitian situs purbakala. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)
PAYUNG HUKUM : Bupati Pekalongan Asip Kholbihi bersama Kepala Puslit Arkenas I Made Geria, usai melakukan penandatanganan nota kesepahaman terkait penelitian situs purbakala. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)

KAJEN– Penelitian batu purbakala yang diduga peninggalan zaman Mataram kuno abad 1, di Dusun Bogol, Desa Lemah Abang, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, terus dilakukan oleh Badan Pusat Arkeologi Nasional (BPAN).

Setelah hampir setahun melakukan penelitian secara umum atau sejak 2016, kini BPAN akan melanjutkan penelitian. Kali ini lebih khusus. Lanjutan penelitian ditandai dengan penandatanganan kesepahaman antara Bupati Pekalongan Asip Kholbihi dengan Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), I Made Geria, Selasa (21/11).

Kepala Bappeda dan Litbang Kabupaten Pekalongan, Bambang Irianto, mengungkapkan bahwa penelitian yang dilakukan oleh tim arkeolog sejak 2016 sifatnya masih umum. Kemudian pada tahun 2017, ditindaklanjuti lagi secara detail lagi dan lebih  khusus, untuk menjawab dari masyarakat yang sudah tersebar luas kaitannya dengan Menhir.

“Dan hari ini akan dipaparkan hasil penelitian situs budaya Lemah Abang, dimana akan secara detail disampaikan kajian baik dari segi geologi, antropologi maupun arkeologi. Sehingga nanti diharapkan dengan penelitian ini akan diperoleh informasi terutama untuk masyarakat berkaitan dengan peninggalan purbakala yang ada di wilayah Lemah Abang,” ungkap Bambang.

Bambang juga mengatakan bahwa penandatanganan MoU, antara Kepala Puslit Arkenas dengan Pemerintah Kabupaten Pekalongan, adalah sebagai payung hukum dalam rangka kerjasama khususnya di bidang ke-arkeologi-an. Untuk itu pada tahun 2018 mendatang, kegiatan ini akan kita tindaklanjuti dengan menjadikan wilayah Lemah Abang sebagai Pusat Peradaban.

“Akan dilakukan kerjasama antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan Arkeolog untuk mengembangkan wilayah Lemah Abang. Karena di dalamnya ada pariwisata, budaya, serta alam yang harus dilestarikan,” kata Bambang.

Sementara itu, Bupati Pekalongan,  Asip Kholbihi, mengapresiasi apa yang dilakukan Puslit Arkenas atas penandatanganan MoU. Menurutnya, apa yang diimpi-impikan selama ini telah terjawab. Sejak awal dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati, pihaknya memang konsen untuk membuka peradaban yang ada di Lemah Abang Kecamatan Doro, yang secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Alhamdulillah, kerjasama yang sudah kita tandatangani akan kita tingkatkan lagi dalam bentuk yang konkret. Di tingkat Pemerintah Kabupaten telah menyiapkan beberapa item kegiatan pada tahun 2018, yang arahnya untuk mengungkap lagi tentang Watubahan atau Columnar joint,” tegas Asip.

Bupati menambahkan, untuk melengkapi Columnar joint yang sudah ada di Indonesia seperti di Wangon Baturaden, Gunung Padang Cianjur, Karangsambong Kebumen, dan lain-lain, pihaknya akan memperbaiki infrastruktur di kawasan Watubahan.

“Saya kira nanti Watubahan akan lebih eksotik, karena belum banyak tersentuh. Mungkin memiliki keunggulan komparatif. Untuk itu, tentu harus kita tangani secara hati-hati guna memperoleh nilai edukasinya,” tandas bupati. (thd/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here