31 C
Semarang
Sabtu, 28 November 2020

Tembang Macapat Tingkatkan Unggah-Ungguh Siswa

Menarik

Semut Raksasa

RADARSEMARANG.COM-DUNIA tidak jadi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa satu perusahaan mendapat suntikan dana sebanyak Rp 500 triliun (USD 35 miliar) secara tiba-tiba. Itulah dana yang akan...

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

FENOMENA pendidikan yang akhir-akhir ini terjadi di negara kita sangat memprihatinkan bagi penerus perjuangan bangsa di masa yang akan datang. Kemajuan teknologi dan komunikasi yang tidak digunakan sebagaimana porsi dan manfaatnya, sangat mempengaruhi sikap dan perilaku siswa. Etika dan sopan santun mulai luntur di kalangan peserta didik. Anak sekolah melakukan perbuatan yang menyimpang dari norma agama dan norma susila, mereka tidak punya rasa malu dan takut akan akibat yang mereka perbuat yang nantinya akan merugikan diri sendiri, bahkan merugikan lingkungan sekitarnya. Anak sudah tidak menghargai orang tua dan gurunya, berani membentak atau melawan apabila diingatkan.

Fenomena tersebut nampaknya mengundang polemik di kalangan masyarakat. Lunturnya nilai-nilai luhur, sikap sopan santun dan tata karma, menjadi tanggung jawab bersama antara orang tua, guru dan masyarakat. Orang tua di rumah juga harus memberi contoh perilaku atau sikap yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga halnya dengan guru dalam istilah jawa artinya “bisa digugu dan ditiru”. Guru tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pendidik dan pembimbing harus bisa menjadi figur atau sebagai salah satu model yang bisa dicontoh oleh peserta didik.

Bahasa Jawa sebagai muatan lokal diharapkan menjadi salah satu mata pelajaran yang dapat membentuk moralitas tinggi dan budi pekerti luhur. Keberadaan pelajaran bahasa Jawa sebagai muatan lokal wajib merupakan suatu tantangan, karena siswa yang dihadapi jauh berbeda dengan karakteristik siswa 10-15 tahun yang lalu. Siswa sudah banyak terkontaminasi berbagai pola kebudayaan yang belum tentu sesuai dengan kepribadian bangsa. Pendidikan tidak hanya menghasilkan generasi yang cerdas secara akademik, namun juga berakhlak mulia.

Penulis melakukan upaya melalui tembang macapat dapat meningkatkan unggah-ungguh (tata krama) pada siswa. Tembang Macapat merupakan bentuk puisi Jawa yang terikat oleh aturan-aturan tertentu. Tembang Macapat merupakan media penyampaian pesan-pesan moral dan ajaran-ajaran atau hakekat hidup manusia. Teks tembang Macapat tersebut mengandung ajaran budi pekerti yang disamarkan melalui lirik yang puitis dan irama /nada yang mendayu-dayu saat ditembangkan.

Unggah-ungguh berbahasa Jawa tidak hanya terbatas pada bentuk tuturan, tetapi juga menyangkut pada tindak tanduknya, yang dapat dikatakan sebagai patrap dan pocapan, seperti disebutkan oleh Poerwadarminta bahwa unggah-ungguh: tata pranataning basa miturut iungguhing tata krama, dan tata krama: unggah-unguhing gunem tuwin tindak-tanduk (1939). Dari pengertian tentang unggah-ungguh ini dapat disimpulkan bahwa unggah-ungguh bahasa Jawa merupakan suatu pedoman atau aturan tentang perilaku berbahasa yang harus mengingat pada pemilihan bentuk bahasa dan dibarengi dengan tindak-tanduk yang sesuai.

Penerapan unggah-ungguh berbahasa Jawa sebagai bentuk perwujudan sopan santun di masyarakat Jawa yang terdiri dari pocapan dan patrap. Sebagai manusia kita tidak dapat bertindak berdasarkan kemauan kita sendiri, kita hidup di masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anggota masyarakat lainnya. Di sinilah pentingnya unggah-ungguh atau tata krama atau sopan santun diterapkan dengan baik.

Jadi, unggah-ungguh harus melalui pewarisan keteladanan keluarga, para orangtua dan masyarakat. Kita sepakat bahwa pembudayaan karakter tidak cukup oleh guru saja. Masyarakat luas dan orangtua memiliki peran strategis yang sama. Dengan demikian, siswa akan merasa mendapatkan hak-haknya untuk meneladani nilai pendidikan unggah-ungguh. Bahkan melalui lirik dan syair tembang macapat sekalipun.

Oleh karena itu, penulis mengajak kepada seluruh pembaca khususnya guru bahasa Jawa untuk bisa menerapkan upaya meningkatkan unggah-ungguh (sopan santun) melalui lantunan tembang Macapat yang halus dan lembut, sehingga bisa menyentuh perasaan siswa mempunyai sifat yang halus dan sopan di mana saja kapan saja dengan siapa saja dan selalu menjadi anak yang berbudi luhur dan berakhlak mulia, karena ditangan anak-anak itulah masa depan bangsa dan negara di masa yang akan datang. (*/aro)

Guru SMP Negeri 13 Semarang

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Semut Raksasa

RADARSEMARANG.COM-DUNIA tidak jadi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa satu perusahaan mendapat suntikan dana sebanyak Rp 500 triliun (USD 35 miliar) secara tiba-tiba. Itulah dana yang akan...

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...