Bahasa Jawa salah satu muatan lokal wajib yang diajarkan di wilayah Jawa Tengah dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sekolah yang sederajat. Pembelajaran bahasa Jawa semula hanya diajarkan di tingkat Sekolah Dasar (SD ) dan (Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Setelah terbit adanya surat edaran Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomer 9 tahun 2012, mata pelajaran Bahasa Jawa wajib diajarkan di seluruh jenjang sekolah di tingkat Provinsi Jawa Tengah yakni dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Belajar bahasa Jawa tidak hanya mempelajari materi-materi yang disampaikan pada kegiatan pembelajaran, akan tetapi bagaimana caranya supaya siswa dapat menerapkan pembelajaran bahasa Jawa dalam pergaulan di masyarakat sehari-hari. Siswa diharapkan mampu menerapkan tata krama dalam berkomunikasi dengan orang lain. Pada pembelajaran bahasa Jawa mempunyai empat cakupan keterampilan berbahasa yang terdiri dari: keterampilan menyimak, keterampilan membaca, keterampilan berbicara dan keterampilan menulis.

Keterampilan berbicara menerapkan unggah-ungguh supaya dapat berbicara dengan lawan tuturnya. Ungah-ungguh atau tata krama seseorang terlihat ketika seseorang melakukan dialog. Saat dialog pun harus bisa melihat siapa lawan tuturnya. Dalam unggah-ungguh bahasa Jawa ada yang disebut ragam bahasa Jawa krama dan ragam bahasa ngoko. Kedua ragam bahasa ini merupakan satu komponen dalam aspek berbicara dalam bahasa Jawa. Pada pembelajaran bahasa Jawa seharusnya mengikutsertakan siswa supaya aktif dan dapat berinteraksi alam pembelajaran. Dalam hal ini dapat dikatakan siswa sebagai pusat pada pembelajaran bahasa Jawa. Untuk itu supaya guru dapat berhasil harus memiliki karakteristik. Salah satu karakteristik terpenting bagi guru supaya dapat berhasil adalah harus menguasai keterampilan pembelajaran. Khususnya model-model pembelajaran sebagai sarana untuk mendorong siswa dalam proses pembelajaran serta meningkatnya keberhasilan pembelajaran.

Pada kenyataannya dalam pembelajaran bahasa Jawa masih sulit dirasakan, khususnya pada materi unggah-ungguh bahasa terutama penggunaan bahasa krama. Kekurangan dalam pembelajaran bahasa Jawa ini antara lain dikarenakan siswa tidak terbiasa menggunakan bahasa Jawa krama dalam percakapan sehari-hari, sehingga merasa sulit dan sungkan bahkan malu untuk berbicara bahasa krama.

Disisi lain guru sendiri belum mengembangkan metode atau model-model belajar dalam proses pembelajaran. Hal ini menyebabkan kurangnya motivasi siswa untuk lebih senang dalam mengikuti proses pembelajaran. Guru masih banyak menggunakan metode ceramah, menuntut siswa untuk mendengarkan dan menghafal. Sementara untuk kurikulum 2013 model dan metode tersebut sudah tidak cocok jika diterapkan pada siswa kita. Dengan kekurangan-kekurangan serta kelemahan alam proses pembelajaran bahasa Jawa tersebut menunjukkan bahwa pada kenyataannya motivasi belajar siswa masih sangat kurang. Peran guru juga masih sangat dominan dalam proses pembelajaran bahasa Jawa. Proses kegiatan belajar menjadi pasif, hal ini menjadikan para siswa merasa kurang berminat ataupun kurang senang sehingga menyebabkan rendahnya hasil prestasi belajar pula.

Di beberapa sekolah masih banyak dijumpai masalah-masalah yang dihadapi dalam pembelajaran, terutama pada pembelajaran bahasa Jawa khususnya materi ragam bahasa krama. Meski sudah banyak upaya inovasi yag dilaksanakan di dalam pembelajaran, namun belum mempunyai hasil yang memuaskan. Rendahnya semangat belajar bahasa Jawa dapat terlihat pada  siswa di kelas, setelah mereka melaksanakan proses pembelajaran melalui metode ceramah sangat sedikit yang terlihat aktif. Supaya dapat meningkatkan hasil pembelajaran yang ideal, guru hendaknya melaksanakan langkah-langkah inovatif yang berdasarkan hasil evaluasi serta refleksi terhadap pembelajaran yang sudah dilaksanakan. Dengan pembelajaran kooperatif siswa diharapkan dapat meningkatkan hasil serta motivasi dalam proses kegiatan pembelajaran bahasa Jawa.

Model Make a Match tingkatkan kreatifitas siswa.

Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut diatas, penulis berpendapat bahwa model pembelajaran make a match dapat menumbuhkan motivasi dan meningkatkan kreatifitas, hasil pembelajaran. Model make a match yaitu sebuah model yang menggunakan kartu-kartu sebagai media atau alat peraga  yang berisi tentang pertanyaan dan jawaban atas materi yang disampaikan. Siswa dapat berinteraksi dengan teman sekelasnyasehingga tidak merasakan jebuh an bosan alam proses pembelajaran. Dengan demikian melalui model make a match mempunyai tujuan dan harapan supaya siswa aktif an kreatif sehingga proses pembelajaran dapat aktif dan menyenangkan. (*)

(Guru SMP Negeri 2 Garung-Wonosobo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here