31 C
Semarang
Sabtu, 28 November 2020

Belajar Bahassa Inggris dengan Promesolis

Menarik

Semut Raksasa

RADARSEMARANG.COM-DUNIA tidak jadi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa satu perusahaan mendapat suntikan dana sebanyak Rp 500 triliun (USD 35 miliar) secara tiba-tiba. Itulah dana yang akan...

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

PADA usia 12 tahun, Jack Ma (Pemilik Alibaba) belajar Bahasa Inggris sendiri. Selama delapan tahun, dia sengaja gowes naik sepeda selama 40 menit setiap hari ke sebuah hotel di dekat distrik West Lake Hangzhou agar bisa bertemu turis asing.  Ia menawarkan diri menjadi pemandu turis, gratis, hanya untuk berlatih Bahasa Inggris. Dia juga membeli radio sehingga ia bisa mendengarkan siaran bahasa Inggris setiap hari.

Point penting dari cerita Jack Ma adalah kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris. Cerita ini yang mengilhami saya sebagai guru Bahasa Inggris dalam mengajarkan materi kepada siswa. Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, salah satu kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik SMA adalah keterampilan. Untuk mencapai kompetensi keterampilan tersebut, kemampuan menulis dan berbicara merupakan bagian penting dari kompetensi berbahasa yang harus dikuasai oleh mereka khususnya kelas XI.

Seiring dengan tuntutan HOTS (Higher Order Thinking skills) di dalam kurikulum 2013, penguasaan menulis dan berbicara Bahasa Inggris untuk kelas XI tidaklah sederhana. Karena mereka harus mampu menganalisis, mengevaluasi dan menciptakan. Ini berarti bahwa siswa tidak sekedar menulis atau berbicara, namun diperlukan proses menspesifikasikan aspek-aspek dari sebuah konteks tertentu, mengambil keputusan berdasarkan fakta atau informasi, dan membangun gagasan-gagasan ide mereka dengan harapan bahwa proses tersebut memberikan pembelajaran yang tidak mudah terlupakan dari pikiran mereka.

Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, masalah utama siswa XI dalam menulis dan berbicara adalah grammar dan diction; serta pronunciation (khusus untuk keterampilan berbicara). Melihat kondisi seperti ini, kemudian Promesolis dijadikan sebagai model pembelajaran oleh penulis untuk mengatasi masalah tersebut. Promesolis bukan sejenis obat atau ramuan belajar agar siswa pintar, tapi kata ini adalah akronim dari kata proyek dan mesolis yakni membuat soal listening. Pembelajaran seperti ini adalah salah satu bentuk project based learning dengan cara menyuruh siswa membuat serangkaian soal listening untuk meningkatkan kemampuan menulis dan juga berbicara mereka sendiri.

Proses pembelajaran yang dilakukan dalam bentuk kelompok yang terdiri dari 4 anggota. Kelompok ini diberi tugas menemukan masalah mendasar dalam materi yang telah dipelajari; mendesain 10 soal listening dengan bentuk menjawab soal berdasarkan dialog, (Untuk langkah ini, siswa tidak diperbolehkan menggunakan google translate dalam menerjemahkan kata-kata sulit); satu kelompok dengan kelompok lain saling mendiskusikan hasil kerja mereka tentunya tidak lepas dari monitoring guru sehingga siswa mengetahui kesalahan-kesalahan yang telah mereka buat.

Di pertemuan berikutnya, siswa diperkenalkan aplikasi media listening yang berisi suara native dan skrip soal listening yang telah mereka buat diterapkan dalam aplikasi tersebut; siswa membandingkan hasil rekaman suara mereka sendiri dengan hasil suara aplikasi (dalam sesi ini, siswa mengetahui kesalahan-kesalahan mereka dalam pengucapan atau pronunciation).

Melalui proses pembelajaran Promesolis, terlihat peningkatan sikap, kemampuan menulis dan berbicara pada siswa. Mereka terlihat antusias dalam melaksanakan proses pembelajaran. Hasil akhir dari unjuk kerja mereka (menulis dan berbicara) terlihat meningkat dibanding sebelum menerapkan Promesolis. Promesolis tidak hanya memberi manfaat bagi siswa yang terlibat, namun juga bagi guru. Karena hasil proyek siswa bisa dijadikan media pembelajaran Bahasa Inggris untuk tahun pelajaran baru atau untuk latihan listening ujian nasional bagi kakak kelas mereka. Promesolis bisa menjadi model pembelajaran alternatif yang perlu dicoba untuk meningkatkan kemampuan menulis dan berbicara siswa. (*/ida)

*) Guru SMA N 2 Semarang

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Semut Raksasa

RADARSEMARANG.COM-DUNIA tidak jadi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa satu perusahaan mendapat suntikan dana sebanyak Rp 500 triliun (USD 35 miliar) secara tiba-tiba. Itulah dana yang akan...

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...