Kelola Perpusdes Berbasis Sampah

  • Bagikan
BERBASIS SAMPAH: Salah seorang perangkat Desa saat merapikan buku-buku di Perpusdes Kalisidi, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERBASIS SAMPAH: Salah seorang perangkat Desa saat merapikan buku-buku di Perpusdes Kalisidi, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN – Peningkatan literasi membaca dapat dilakukan dengan berbagai hal. Seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat. Dimana dalam meingkatkan literasi membaca, Perpustakaan Desa (Perpusdes) didirikan.

Namun berbeda dengan Perpusdes yang lain. Dimana setiap anak-anak yang sebagai anggota Perpusdes sistem peminjamannya yaitu dengan menyetor sampah terlebih dahulu. Kepala Desa (Kades) Kalisidi, Dimas Prayitno mengungkapkan sistem peminjaman menggunakan sampah tersebut sebagai bentuk keresahan kodisi lingkungan saat ini.

Dimana kepedulian generasi pemuda akan lingkungan masih saat minim. Sehingga ia ingin memulai merubah pemikiran tersebut melalui sistem peminjaman di dalam Perpusdes. Dijelaskan Dimas, ide awal munculnya Perpusdes tersebut dimulai pada 2009.“Dimana saat itu kita dapat bantuan hibah buku dari perpustakaan daerah, sayaratnya ada gedung dan ruangan dan kita sudah memenuhi syarat-syaratnya,” ujar Dimas, kemarin.

KADES KALISIDI: Dimas Prayitno. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KADES KALISIDI: Dimas Prayitno. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Belum berbentuk Perpusdes, saat itu masih berbentuk Taman Belajar masyarakat (TBM). Pengelolaan juga masih menggunakan cara konvensional. “Ketidak mampuan kita untuk mengelola saat itu, sehingga kita kelola secara konvensional dan gedung belum serapi sekarang,” katanya.

Sasaran TBM saat itu yaitu anak-anak, meski di dalamnya terdapat buku-buku untuk semua segmen. Pengelolaan sendiri dilakukan oleh relawan-relawan perpusdes. Dari kondisi tersebut, muncul sebuah gagasan menarik untuk merubah TBM menjadi Perpusdes.“2012 kita mulai dibantu teman-teman relawan, dan sasaran anak-anak untuk peduli lingkungan, dengan cara yang sederhana,” katanya.

Dimana cara tersebut yaitu para anggota Perpusdes yang sebelumnya melakukan pendataan anak-anak untuk menjadi anggota dapat meminjam buku namun dengan sampah. “Dimana satu buku oleh anggota yang hampir 100 persen itu anak-anak setiap pinjam harus menyetor 13 cup bekas untuk sekali pinjam,” tuturnya.

Ternyata antusiasme anak-anak sangat baik. Mereka banyak yang pinjam. Malahan terkadang anak-anak tersebut deposit sampah sebelum mereka pinjam buku.“Kebetulan penataan relawan dari pengelola perpusdes cukup baik, yaitu dengan mendata anak-anak. Dasar kita memang memberikan pembelajaran melalui perpusdes,” katanya.

Perpusdes itu sendiri dibuka tidak setiap hari. Dimana hanya dibuka saat Senin sore, Rabu sore, dan Minggu sore pukul 15.00 – 17.00 WIB. Orientasinya, buku tersebut juga tidak dibaca ditempat, namun dibawa pulang oleh si peminjam. Sistem tersebut dilakukan untuk meminimalisir hal yang tidak diinginkan.

Karena mayoritas peminjam yaitu anak-anak, dikhawatirkan jika buku harus dibaca ditempt maka akan digunakan alasan saat anak ingin ijin keluar rumah kepada orang tua. “Jadi kita meminimalkan kejadian hal yang tidak diinginkan. Takutnya, si anak ijin keluar rumahnya keperpusdes ternyata malah trek-trekan atau tongkrong ditempat. Jadi ke perpusdes hanya alibi,” katanya.

Para anggota Perpusdes dapat meminjam dua buah buku hanya dengan menyetor 10 cup sampah plastik. “Kita ingin anak-anak di Kalisidi ini untuk sadar akan kebersihan lingkungan,” katanya.

Meski memiliki Perpusdes, namun keberlangsungannya ternyata tidak ada pembiayaan dari APBDes. Berkembangnya era teknologi juga diikuti dengan metode peminjaman buku. Saat ini Pemdes sudah melakukan digitalisasi buku di Perpusdes tersebut dan menggunakan sistem barcode.

Dimana setiap kartu anggota dan buku Perpusdes dilengkap dengan sistem barcode. Supaya lebih mudah untuk melakukan pendataan. “Di 2015 kita dibantu buku dari pemprov APBD 1. Di 2017 awal kita dapat komputer dari sebuah perusahaan untuk mendigitalisasi buku-buku yang kita miliki,” ujarnya.

Adapun buku-buku yang ada di Perpusdes Kalisidi saat ini berjumlah ribuan. Mulai dari buku pengetahuan terkait pertanian, novel, cerita fiksi, dan kesehatan. Apabila sampah-sampah tersebut sudah terkumpul banyak pihak Pemdes menjual sampah tersebut.

Uang hasil penjualan dibelikan alat tulis untuk diberikan para anggota yang paling banyak melakukan peminjaman buku. Menurut Dimas hal itu bisa menjadi stimulan bagi para anggota untuk lebih sering meminjam buku.

Untuk buku-buku yang sudah dilakukan digitalisasi, anggota dapat membacanya melalui komputer yang ada di teras perpusdes setiap hari. Dijelaskan Dimas, APBDes Desa Kalisidi saat ini Rp 1.822.079.500.

Orientasi warga setempat yang ingin mempercepat pembangunan fisik membuat perpusdes tersebut tidak mendapat penganggaran dari APBDes. “APBDes bidang pembangunan hampir 70 persen. Infrastruktur 58,02 persen. Ini sedang fokus DD (Dana Desa) tahap dua. Rata-rata ADD habis di pemerintahan dan pembinaan,” kata Dimas. (ewb/bas)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *