Putusan Belum Siap, Sidang Akpol Ditunda

507
SIDANG AKPOL: Para terdakwa penganiaya taruna Akpol hingga tewas meninggalkan ruang sidang PN Semarang, kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIDANG AKPOL: Para terdakwa penganiaya taruna Akpol hingga tewas meninggalkan ruang sidang PN Semarang, kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG– Sidang dengan agenda pembacaan putusan kasus pengeroyokan hingga menyebabkan kematian  Brigadir Taruna Dua Muhammad Adam, Rabu (15/11) kemarin, terpaksa ditunda. Pasalnya, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang yang dipimpin Casmaya, didampingi dua hakim anggota, yakni Edy Suwanto dan Suparno belum siap dengan putusannya.

“Putusan belum siap, jadi kami memohon maaf ya. Dengan demikian, sidang kami tunda dan dibuka kembali Jumat (17/11) mendatang pukul 09.00,”kata hakim Casmaya yang langsung menutup sidang.

Sidang kemarin dihadiri 9 terdakwa taruna senior Akpol, yakni  Joshua  Evan Dwitya Pabisa Bin Yosman Pabisa, Reza Ananta Pribadi Bin Yongki Pribadi, Terdakwa, Indra Zulkifli Pratama Ruray Bin Idham Ruray, Terdakwa, Praja  Dwi Sutrisno Bin Agus Sutrisno, Aditia Khaimara Urfan Bin Khairul Anwar, Chikitha Alviano Eka Wardoyo Bin Wardoyo, Rion Kurnianto Bin Tukijan, Erik Aprilyanto Bin Supeno dan Hery Avianto Bin Bambang Priyambadha.

Usai sidang, kuasa hukum sembilan terdakwa, HD Djunaedi, mengatakan, majelis hakim meminta waktu memusyawarahkan putusan untuk ke sembilan terdakwa. “Tadi disampaikan hakim masih perlu waktu untuk musyawarah. Diharapkan putusannya nanti yang terbaik,” kata Djunaedi.

Djunaedi mengatakan, pihaknya telah menyampaikan pembelaan di sidang sebelumnya. Dari pembelaan tersebut, Djunaedi mengaku pihaknya berharap hakim memvonis bebas ke sembilan terdakwa. Ia menilai, tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terlalu berat dan tidak wajar. Pembinaan fisik yang dilakukan oleh senior ke junior merupakan hal wajar, sehingga tidak perlu dipidanakan. Menurutnya, sekalipun ada ancaman pasal 351, hal itu merupakan tindak pidana ringan.

“Tuntutan jaksa itu tidak wajar, terlalu berat. Masak perkara begini, tuntutannya segitu berat, tapi itu hak yang menuntut,” ujarnya.

Dia menilai, pembinaan fisik yang dilakukan para terdakwa terhadap juniornya bukanlah aksi pengeroyokan melainkan pembinaan, sehingga hal tersebut bukanlah suatu tindakan pengeroyokan. “Kita bisa lihat di lokasinya. Itu bukan tempat umum. Itupun bukan pukul-memukul tapi pembinaan,” katanya.

Dalam kasus tersebut, berkas perkara dibagi tiga. Satu berkas adalah terdakwa Rinox Lewi Wattimena alias Rinox Bin Jehosua Wattimena, dengan nomor perkara: 647/Pid.B/2017/PN Smg diperiksa majelis hakim yang dipimpin Abdul Halim Amran didampingi dua hakim anggota, yakni Manungku Prasetyo dan Pudji Widodo. Adapun jaksanya adalah Efrita dan Yosi Budi Santoso.

Empat terdakwa lain, yakni Christian Atmadibrata Sermumes Bin Yohanes Murdiyanto, Gibrail Charthens Manorek Bin Arfi Manorek, Martinus Bentanone Bin Jondarius Bentanone dan Gilbert Jordi Nahumury Al Jordi  Bin Jhon Dominggus Nahumury, dengan nomor perkara: 648/Pid.B/2017/PN Smg, dipimpin majelis hakim Antonius Widijantono, dengan jaksa Slamet Margono.

Berdasarkan hasil Visum et Repertum dari Rumah Sakit Bhayangkara Semarang Nomor : B/06/V/2017/ Biddokkes tanggal 19 Mei 2017 yang ditandatangani oleh Dr Ratna Relawati SpKF Msi Med yang dalam kesimpulan menyebutkan berdasarkan temuan-temuan yang didapat dari pemeriksaan atas jenazah Muhammad Adam, dapat disimpulkan bahwa pada korban ditemukan luka akibat kekerasan tumpul berupa memar pada dahi, leher, tungkai atas dan dada dan perdarahan luas pada paru-paru kanan dan kiri. “Sebab kematian korban adalah kekerasan tumpul pada dada yang mengakibatkan perdarahan luas pada paru-paru kanan dan kiri, sehingga menimbulkan gangguan pernafasan,”kata para jaksa saat membacakan dakwaan dalam ruang persidangan yang digelar terpisah sebelumnya. (jks/aro)