33 C
Semarang
Jumat, 18 September 2020

Metode Cerita Berantai Tingkatkan Keterampilan Berbicara

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

BERCERITA lisan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai peserta didik dalam mempelajari bahasa Inggris. Bercerita lisan dapat menjadi pengalaman belajar yang menarik. Dengan bercerita, peserta didik berkesempatan mengekspresikan pikiran, gagasan, perasaan, imaginasi dan kreativitas. Mereka juga berkesempatan untuk mempelajari berbagai nilai moral tentang kebajikan dan keburukan dalam hidup yang diajarkan para tokoh cerita.

Derewianka (1995) menyatakan bahwa naratif mencerminkan komplikasi yang kita hadapi dalam hidup dan cenderung meyakinkan kita bahwa masalah tersebut dapat dipecahkan. Dengan mempelajari nilai tersebut peserta didik dapat meneladani karakter positif tokoh cerita.

Dengan melihat kebajikan dan keburukan tersebut, mereka dapat menjadikan tokoh cerita tertentu untuk diteladani. Dalam proses pembelajaran, peserta didik harus mampu menunjukkan kemampuannya untuk mencapai tujuan sosial  bercerita lisan yaitu menghibur pendengar.

Kompetensi yang ditargetkan kurikulum tersebut harus dikuasai peserta didik. Namun demikian, dalam proses pembelajaran cerita lisan selalu ditemukan berbagai  kendala. Kendala yang dihadapi peserta didik dalam bercerita lisan adalah: (a) kosa kata yang dikuasai terbatas, (b) rendahnya penguasaan grammar, (c) kurang menguasai pronunciation dan (d) rendahnya percaya diri saat presentasi.

Peserta didik yang ditugasi untuk memilih sendiri cerita yang mereka bawakan tampak kurang percaya diri. Mereka cenderung memelankan suara, berbicara terputus-putus, atau berbicara cepat, lancar tapi seperti membaca nyaring tanpa ada jeda. Membawakan cerita dengan cara tersebut, peserta didik tampak gagal menarik perhatian dan menghibur pendengarnya. Pendengar tampak lebih tertarik untuk ‘ngobrol’ dengan temannya. Situasi belajar semacam ini tentunya sangat monoton, yang menjadikan peserta didik tidak termotivasi untuk belajar.

Atasi Kendala

Untuk mengatasi kendala tersebut, penulis mengaplikasikan beberapa perubahan saat pembelajaran bercerita lisan. Perubahan pertama, cerita yang dibawakan bukan lagi pilihan peserta didik. Agar mereka termotivasi belajar teks naratif, penulis mengajak mereka menyimak film cerita kartun pendek dari video yang diunduh dari internet. Alur cerita sudah disesuaikan dengan minat dan kemampuan peserta didik untuk dipahami. Setelah menyimak film, peserta didik ditugasi untuk menceritakan isi film tersebut menggunakan kata-kata mereka sendiri.

Perubahan kedua, cerita yang semula dibawakan secara individual diubah menjadi cerita yang diceritakan secara berkelompok. Saat bercerita secara berkelompok, peserta didik harus bergotong royong  dan saling mendukung untuk menyusun teks lisan. Misalnya, peserta didik A mengawali cerita dengan satu kalimat.

Selanjutnya peserta didik B mengulang kalimat peserta didik A dan menambah satu kalimat untuk menyambung cerita peserta didik A. Setelah itu, peserta didik C mengulang cerita peserta didik A dan B dan menambahkan satu kalimatnya sendiri untuk memperpanjang cerita. Cerita diulangi penyampaiannya dan diperpanjang dengan kalimat baru hingga cerita dalam video lengkap dibawakan. Selama proses kerja kelompok, para peserta didik saling memberi koreksi dan masukan yang diperlukan.

Guru juga memantau mereka untuk mengamati perkembangan penguasaan materi ajar dan pengembangan sikap percaya diri peserta didik serta memberi bimbingan yang diperlukan. Setelah  peserta didik berlatih menyusun cerita lisan bersama kelompoknya, tahap selanjutnya mereka ditugasi untuk membawakan cerita tersebut di depan kelas.

Dengan bergotong- royong menyusun cerita lisan secara berkelompok, tanggung jawab individu tidak terlampau berat untuk membawakan cerita tertentu. Mereka dapat membagi tugas mereka bersama anggota kelompok, sehingga tanggung jawab menjadi lebih ringan.

Selain itu, peserta didik berkesempatan untuk melakukan ‘gladi bersih’ bersama anggota kelompok mereka terlebih dahulu, sebelum tampil bercerita secara mandiri di depan kelas. Saat gladi bersih, mereka berkesempatan meningkatkan kompetensi dan percaya diri mereka dalam kelompok sebelum tampil di depan audience yang lebih banyak. Dengan demikian, teknik dan media yang tepat, bercerita lisan dapat menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan. (*/aro)

Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 3 Semarang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Mahathir Kembali Urus Jembatan Bengkok

Oleh: Dahlan Iskan Mahathir ke Singapura. Kemarin. Membawa dendam lama. Mungkin. Sangat mungkin. Bahkan membawa kemarahan: tidak soal, diperlihatkan atau tidak. Tidak ada kejengkelan lebih hebat...

75 Desa Bebas Dari Kebiasaan BABS

KENDAL – Sebanyak 75 Desa di Kabupaten Kendal dinyatakan bebas dari kebiasaan Open Defecation Free (ODF) atau Buang Air Besar Sembarangan (BABS), data tersebut didapatkan...

Inquiry Tingkatkan Belajar Biologi Siswa

RADARSEMARANG.COM - Gagal paham sering dirasakan siswa saat menerima materi pelajaran sains, terutama mata pelajaran biologi. Pun hal ini menjadikan keluhan sebagian guru mata...

Baru Dua Hari Bekerja, ART Bawa Kabur Motor

MUNGKID--Kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk berhati-hati memilih Asisten Rumah Tangga (ART). D Kecamatan Mertoyudan, misalnya, seorang ART membawa kabur motor milik...

1 Juta Mercon Disita

RADARSEMARANG.COM, WONOSOBO - Jajaran Polsek Sukoharjo dan Polres Wonosobo berhasil membongkar gudang petasan yang ada di Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo. Hasilnya, ada...

Produksi Turun, Kualitas Lebih Baik

RADARSEMARANG.COM, TEMANGGUNG - Petani tembakau di lereng Gunung Sumbing dan Sindoro pada awal Agustus ini mulai memasuki masa panen. Panen musim ini diperkirakan kurang...