33 C
Semarang
Kamis, 13 Agustus 2020

Hendi: Pintar Saja Tidak Cukup

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

SEMARANG– Bangsa Indonesia saat ini membutuhkan pemuda yang pintar, cerdas dan peduli terhadap bangsanya. Bukan pemuda yang hanya sekadar mengandalkan penampilan fisik saja.

Hal itu dikatakan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat membuka acara pelatihan jurnalistik di SMA N 12 Semarang, Rabu (8/11).

“Hari ini, yang dibutuhkan oleh negara adalah orang-orang yang pintar, yang punya prestasi. Kalau perlu, difabilitaspun sepanjang dia cerdas, pintar, punya kepedulian, dia akan dibutuhkan negara. Hari ini, penilaian terhadap anak muda berubah secara fisik,” tegas Hendi, sapaan akrabnya.

Hendi juga menyatakan jika jenjang pendidikan formal dari TK, SD, SMP, SMA hingga kuliah tidak menjamin pemuda untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang baik. Pasalnya, perusahaan besar saat ini tidak hanya membutuhkan pemuda yang secara akademik mempunyai nilai yang bagus. Namun yang dicari adalah pemuda yang juga mempunyai prestasi dan ketrampilan lainnya.

“Hari ini yang dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan besar adalah anak muda yang secara akademik keren. Nilainya bagus-bagus tapi dia juga punya nilai tambah ketrampilan yang baik,” ujar wali kota.

Hendi pun membeberkan, ada empat golongan anak muda yang dinilainya tersesat akibat pergaulan bebas selama mengenyam pendidikan formal. Keempat kriteria pemuda itu tidak layak untuk ditiru oleh anak-anak muda sekarang. Pertama, anak muda tidak pintar dan tidak peduli. Anak muda itu biasanya mencari aktualisasi dirinya dengan hal-hal yang sesat.

Kedua, pemuda ingin cepat terkenal tapi dengan cara menggunakan narkoba dan menggelar aksi balap liar. Golongan ketiga, pemuda pintar tapi tidak peduli dengan bangsanya sendiri. Padahal bangsanya telah memberikan beasiswa ke luar negeri tetapi dia bertahan dan tidak ingin kembali ke negaraya sendiri untuk membangun bangsanya.

“Begitu lulus di Inggris, begitu lulus di Amerika, begitu lulus di Jerman tapi dia nggak mau pulang  di Indonesia? Kenapa? pasti gajinya lebih gede di sana. Dia lupa, bahwa kecil dia lahir di Indonesia, dia bernafas di Indonesia, dia diberi beasiswa oleh negara Indonesia dan dia tidak peduli pada saat Indonesia membutuhkan ilmunya. Itu namanya kelompok kedua,” ujarnya.

Jenis pemuda yang terakhir adalah, lanjut Hendi,  pemuda yang mempunyai kepintaran namun dirinya tidak peduli. Seorang anak muda yang dia ingin membangun bangsanya, ingin membangun kotanya tapi kemudian dia tidak punya kemampuan untuk membaca bahwa yang dia bantu keliru.

“Contohnya suka ngeshare-ngeshare berita hoax. Lho kamu kok ngeshare berita hoax? Saya ingin memberitahu yang lain. Bahwa Indonesia sedang begini-begini. Padahal itu tidak benar,” pungkas Hendi. (amu/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

TNI-Polri Pastikan Netralitas Anggota

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Pastikan netralitas dan satu komando dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal...

Waktu Zakat Fitrah

Assalamu’alaikum Warahmatullah Pak Izzuddin yang saya hormati, terkait dengan zakat fitrah, benarkah zakat itu sebelum salat Id? Lalu bagaimana dengan kebiasaan masyarakat kita yang...

Kampung Bandeng Angkat Perekonomian

Warga Kampung Bandeng Jalan Dorowati Kota Semarang merapikan ikan bandeng sebelum dimasukkan ke mesin presto, Kamis (30/11). Setelah Pemkot Semarang menetapkan wilayah tersebut sebagai...

Melahirkan Banyak Spot yang Instagramable

RADARSEMARANG.COM - Di bawah kepemimpinan Wali Kota Hendrar Prihadi, kemajuan Kota Semarang sangat terasa. Sejumlah permasalahan utama, seperti banjir dan rob mulai terpecahkan, dengan...

Rumah Ghozi

"Ini pasti Ghozi," kata saya dalam hati. "Ting... ting..", berbunyi lagi ponsel saya setengah tidak terdengar. Saya pun menatap jam di dinding: pukul 02.51. "Kok senyum-senyum...,"...

Project Based Learning, Tingkatkan Kreativitas Siswa

RADARSEMARANG.COM - ERA pasar bebas menuju abad 21 menuntut para generasi muda harus lebih kreatif dan inovatif, persaingan semakin lebih ketat, keinginan dan kebutuhan...