UKM: Pengunjung memilih kain batik di pameran Harmoni Batik dan Craft 2017  mulai 26 Oktober  -6 November 2017  yang diikuti oleh UMKM batik dari Jogja, Solo dan Pekalongan di Mal Ciputra Semarang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

TINGGINYA angka kemiskinan masih menjadi persoalan serius yang terus menjadi perhatian serius Pemprov Jateng. Data BPS mencatat Maret 2017, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Jawa Tengah mencapai 4,45 juta orang (13,01 persen). Jumlah itu sudah berkurang sebesar 43,03 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016 yang sebesar 4,49 juta orang (13,19 persen).

Berbagai upaya dan inovasi terus dilakukan, meskipun masih belum bisa maksimal untuk pengentasan kemiskinan. Salah satu upaya adalah dengan terus menggandeng keberadaan Usaha Kecil Menengah (UKM) di Jateng. Langkah tersebut sangat bagus, mengingat dalam lima tahun terakhir keberadaan UKM semakin menjamur.

Bisa dikatakan geliat berwirausaha mulai dlirik anak-anak muda di Ibu Kota Jawa Tengah dibandingkan sebagai karyawan kantoran. Kondisi ini jelas akan menajdi tren positif, karena semakin banyaknya UKM akan berimbas dengan berkurangnya angka pengangguran di Jateng. Selain itu, ekonomi masyarakat akan bisa lebih meningkat karena mereka mendapatkan lapangan pekerjaan yang layak.

Bahkan, sekarang ini banyak anak-anak muda yang sukses menggeluti bisnis baik fashion maupun kuliner. Seperti yang dilakukan Ahid Mustafidin, 26, warga Jalan Kantil Sari  No 14 RT 06 RW 01 Srondol Kulon, Banyumanik. Ia sukses dengan membuka usaha coklat dengan brand “Papa Bear Chocolate” yang dikemas dalam sachet. “Untuk meraih kesuksesan, harus terus berusaha, pantang menyerah, dan bekerja keras,” katanya.

Ia mengaku tidak mudah awalnya untuk menjalankan bisnis tersebut. Apalagi modal yang dimiliki sangat minim. Saat itu, ia mengaku hanya memiliki uang Rp 1 juta untuk menjalankan bisnis. Seiring perjalanan waktu, usaha yang dirintisnya mulai membuahkan hasil. Pesanan cokelat sachet semakin banyak. Karena kewalahan ia lantas melibatkan ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumahnya yang tidak bekerja. Sehingga Ia mampu membuka lapangan kerja bagi tetangganya. “Puluhan ibu-ibu rumah tangga di lingkungan rumah ikut terlibat. Saya sengaja mengajak mereka agar bisa menambah penghasilan keluarga masing-masing,” tambahnya.

Hal serupa dilakukan Muhamad Ginanjar Wijayanto, 27, warga asal Batang. Sudah lima tahun terakhir ia menggeluti usaha batik yang semakin sukses. Tak tanggung-tanggung, karena bisnisnya semakin meningkat, iapun mulai mengajak masyarakat di lingkungannya untuk ikut usaha batik. Apalagi ia mampu mengkreasikan batik yang terkenal dengan busana formal menjadi pakaian gaul yang rancangannya mengikuti selera masyarakat. “Bisnis batik masih sangat menjanjikan, selain tentunya karena batik merupakan warisan leluhur dan harus dilestasikan,” katanya.

Ia bersama istrinya memutuskan untuk memulai usaha batik yang sudah dirintis kecil-kecilan sejak masih kuliah. Dia mengaku, untuk membangun bisnis batik tidak mudah. Apalagi persaingan di pasaran begitu ketat, karena banyak pengusaha batik yang sudah mapan. Dengan brand “ansimeatabatik” ia memproduksi batik dalam jumlah besar dan pesanan mulai Jakarta, Bandung, sampai Brunei Darussalam. “Saya akan terus menekuni bisnis untuk batik. Tidak hanya sebatas materi, tetapi ia ingin mengajak dan memperkenalkan batik sebagai warisan leluhur yang harus dilestarikan. Selain itu, ternyata juga bisa membuka lapangan pekerjaan,” tambahnya

Kepala Biro Perekonomian Jawa Tengah, Budiyanto Eko Purwono mengatakan, Pemprov terus melakukan berbagai upaya pengentasan kemiskinan. Misalnya seperti Bank Jateng yang memiliki program Mitra 25 atau program Mikro Bersama dari BPR BKK se Jateng. Pemprov memberikan suntikan modal agar masyarakat bisa memulai usaha untuk meningkatkan ekonomi keluarga. “Di Salatiga, kami lewat BPR BKK memberikan bantuan dengan bunga rendah. Bahkan ada yang mengajukan Rp 2 juta untuk memulai usaha dan sekarang sudah berhasil,” katanya.

Pemprov menegaskan akan terus melakukan inovasi agar bisa mengrangi angka kemiskinan di Jateng. Pihaknya juga terus memberdayakan keberadaan UKM karena sudah bisa membuka lapangan pekerjaan baru. “UKM terus kami perhatikan, karena bisa meningkatken ekonomi kerakyatan di Jateng,” tambahnya. (miftahul.a’la/ap)