UNGGULKAN BUDAYA DAN ALAM:Pemberdayaan masyarakat untuk penurunan kemiskinan di wujudkan oleh para pemuda membuat kerajinan limbah akar kayu dan para pedagang menjajakan buah-buahan hasil kekayaan alam sekitar di Desa Wisata Kandri Gunungpati Kota Semarang,Sabtu(28/10/2017),Kemarin (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).
UNGGULKAN BUDAYA DAN ALAM:Pemberdayaan masyarakat untuk penurunan kemiskinan di wujudkan oleh para pemuda membuat kerajinan limbah akar kayu dan para pedagang menjajakan buah-buahan hasil kekayaan alam sekitar di Desa Wisata Kandri Gunungpati Kota Semarang,Sabtu(28/10/2017),Kemarin (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Pengembangan desa wisata memiliki multiplier effect dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Program tersebut akan memberdayakan masyarakat untuk membuka lapangan kerja baru melalui pengembangan usaha kerajinan souvenir, bisnis kuliner dan lainnya. Seperti apa?

KONSEP Desa Wisata yang sudah diusung sejak tahun 2008, telah menjadi nilai plus bagi desa tersebut. Dalam sebulan, puluhan orang luar desa kerap menghabiskan waktu di desa yang memiliki luas wilayah 6,82 km2 dan kepadatan penduduk 1.311 tiap km2 di kaki Gunung Ungaran, hanya untuk belajar bagaimana cara membudidayakan sapi yang baik dan benar.

Kepala Desa (Kades) Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang, Sumariyadi mengungkapkan pencanangan konsep desa wisata tersebut memang bermula dari banyaknya warga luar desa yang menginap di rumah warga. “Mereka ingin menikmati alam Desa Lerep dan keberadaan lokalisasi (peternakan, red) sapi yang dikelola oleh warga di Dusun Indrokilo,” kata Sumariyadi, Sabtu (28/10) kemarin.

Sempat ada pro kontra, kata Sumaryadi, bahkan banyak yang menolak program Desa Wisata. Karena mayoritas tingkat pendidikan warga Desa Lerep hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) dengan keterbatasan finansial atau rata-rata miskin. Bahkan, daripada untuk bersekolah, warga lebih memilih merantau keluar daerah mencari pekerjaan.

Sumariyadi (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
Sumariyadi (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Di sisi lain, Desa Lerep merupakan desa yang memiliki banyak potensi alam dan kearifan lokal yang layak untuk dikembangkan. Di antaranya, ada kebun kopi, sawah, irigasi, dan kearifan lokal yang masih terjaga dan banyak lagi. “Kami akhirnya melakukan pendekatan dan pendampingan perlahan-lahan untuk membangun kesadaran masyarakat,” ujarnya.

Mulailah para perangkat desa dan beberapa perwakilan warga dikirim ke daerah-daerah wisata yang pengelolaannya langsung oleh warga. “Kami kirim warga ke Dieng, ke Jawa Timur, hanya untuk mencari tahu bagaimana pengelolaan sebuah desa wisata,” katanya.

Di sisi lain, Pemerintah Desa (Pemdes) juga giat membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di masing-masing dusun. Pokdarwis pertama yang berhasil didirikan yaitu Dusun Indrokilo yang memiliki potensi alam luar biasa. Selain kultur lokal masyarakat yang masih menjaga alam, juga keberadaan lokalisasi sapi yang menjadi magnet bagi pengunjung. “Kami bentuk pokdarwis, warga kami satukan pemikirannya, jika Desa Wisata bisa menjadi nilai jual keluar dan akan banyak pengunjung yang mendatangi Desa Lerep,” katanya.

Meski sudah sukses membuat Pokdarwis Indokilo, namun masih banyak kendala. Yaitu, pemahaman masyarakat yang menganggap sama antara destinasi wisata dan Desa Wisata. Sehingga harus diluruskan. “Destinasi wisata yaitu sebuah tempat wisata yang tidak harus berhubungan langsung dengan masyarakat setempat. Kalau desa wisata harus mempertahankan kultur aslinya yaitu adanya gotong royong dan budaya masyarakat setempat. Hal itu, perlahan kami benahi,” katanya.

Semula kemiskinan menjadi persoalan yang sulit terangkat dari Desa Lerep, dengan pengembangan Desa Wisata, saat ini warga Desa Lerep mencapai 10 ribu jiwa dan terdiri dari 8 dusun meningkat tingkat perekonomiannya. Di antaranya Dusun Indrokilo, Lerep, Soka, Tegalrejo, Lorog, Karangbolo, Kretek, Mapagan. “Keberhasilan pembentukan Pokdarwis Indrokilo akhirnya diikuti oleh pokdarwis yang lain,” tuturnya.

Dusun Indrokilo lebih difokuskan untuk wisata alam dan keberadaan lokalisasi sapi, maka Dusun Lerep lebih difokuskan untuk wisata air yaitu embung desa, camping ground dan outbond. “Ternyata banyak pengunjung yang datang ke dusun itu,” katanya.

Saat ini sudah ada tiga dusun lagi yang memiliki Pokdarwis dan potensinya langsung dikelola oleh warga setempat. Seperti Dusun Soko yang dikenal dengan Dusun Proklim (Program Kampung Iklim). Dimana warga setempat menunjukkan bagaimana kepiawaiannya dalam mengelola sampah dan lingkungan menjadi barang bernilai ekonomis tinggi.

Pengelolaan yang baik tersebut mendorong tumbuhnya usaha mikro kecil menengah (UMKM) di desa tersebut. Dusun Karangbolo merupakan sentra UMKM kuliner khas Desa Lerep seperti jajanan yang kerap ditemui di pasar-pasar tradisional. Seperti halnya makanan keripik tempe yang dikelola oleh Asroh warga Karangbolo. Bahkan kripik tempe tersebut sudah masuk pasar internasional. Sayangnya, kripik tersebut dalam pengemasan belum diberikan label/merek, sehingga tidak banyak yang mengenal Kripik Tempe tersebut produksi warga Dusun Karangbolo Desa Lerep. Meski begitu, UMKM Kripik Tempe tersebut saat ini menjadi tumpuan kehidupan sebagian besar warga di dusun itu. “Kini banyak pengunjung yang membeli oleh-oleh kripik tempe dari UMKM Desa Lerep. Tentu saja menjadi salah satu faktor mengurangi tingkat kemiskinan di desa tersebut,” tandasnya.

Kemudian Dusun Tegal Rejo yang memiliki pengelolaan PKK yang baik. Seperti pemanfaatan pekarangan untuk apotek hidup. Kesemuanya tersebut kini dapat dinikmati pengunjung dengan model sistem paket, untuk wisatawan dewasa dan anak-anak. Untuk paketan wisatawan anak-anak akan diajak keliling kampung, menebar ikan di embung, cara bercocok tanam padi di sawah, camping ground, dan outbond.

Saat ini, hampir semua warga sudah teredukasi. Diakui Sumaryadi, dulu banyak warga yang kurang mampu, kini sudah bisa membangun rumahnya menjadi homestay. “Biasanya untuk perkemahan siswa, langsung kami arahkan untuk menginap di rumah penduduk yang disulap menjadi homestay. Sehingga meningkatkan perekonomian warga setempat,” katanya.

Sementara itu, untuk paket dewasa pengunjung akan diajak untuk menikmati kondisi alam Desa Lerep, melihat cara mengelola peternakan sapi, belajar bagaimana pengelolaan dan membuat pernak-pernik dari sampah. “Saat ini, Pemdes dan warga mempersiapkan wisata kearifan lokal berupa upacara adat Iriban. Yaitu rasa syukur warga terhadap alam yang sudah sejak lama dilakukan,” tuturnya.

Ketua Pokdarwis Rukun Sentosa Dusun Lerep, Sudiyanto mengungkapkan pengelolaan desa wisata, Pemdes hanya memberikan bimbingan teknis bagaimana memperlakukan para wisatawan dengan baik. “Hasilnya 100 persen dinikmati sendiri oleh warga,” ujar Sudiyanto.

Ia mencontohkan, semenjak dicanangkan menjadi desa wisata banyak pengunjung yang datang ke Desa Lerep. Catatannya dalam satu bulan sedikitnya 3000 pengunjung dari semua usia berkunjung ke Desa Wisata Lerep. Untuk pengunjung masih di dominasi siswa-siswa sekolah. Mereka tertarik belajar cara penanaman padi, hingga pengolahan menjadi beras. Bahkan mereka tidak hanya satu hari belajar, sampai 3 hari dua malam.

Kini proses pengenalan Desa Wisata Lerep juga dilakukan tidak hanya menggunakan cara konvensional, tapi sudah memanfaatkan teknologi internet. Data desa setempat setidaknya 60 persen warga Desa Lerep sudah melek teknologi. Mereka secara mandiri memasarkan desa wisatanya melalui internet.

Karena nama yang semakin banyak dikenal oleh masyarakat luas, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga pernah menyempatkan diri mengunjungi desa wisata tersebut. Selain itu, orang nomor satu di Jateng tersebut juga sempat mengadakan dialog dengan masyarakat Desa Wisata Lerep.

Tak hanya itu, Desa Munding, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang juga gencar menggarap desa wisata dengan mengunggulkan potensi alamnya. Di antaranya, gumuk kembar dan dua curug, yakni Curug Tirto Wening dan CurugTirtowati. ”Kearifan lokal Desa Munding sangat luar biasa. Dengan sedikit sentuhan, akan menjadi tujuan wisata yang patut dipertimbangkan,” kata Kepala Desa Munding, Romdoniyatun yang akrab disapa Dany.

Menurutnya, potensi tersebut dikembangkan Desa Munding dengan menggunakan dana Bagi Hasil Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (BHPDRD) dan Dana Desa (DD). Sebenarnya banyak investor yang menawarkan investasi pembangunan wisata, terutama di gumuk kembar yang masterplan-nya sudah terbentuk. Namun, Dany belum menerima karena dirinya mengutamakan sistem bagi hasil demi kesejahteraan warga. ”Saya tidak ingin menjual desa ini. Syaratnya, investor yang masuk, harus mau dengan sistem bagi hasil,” ujar kepala desa yang sudah sejak lama bergelut di bidang seni ini.

Biaya membangun desa wisata, kata Dany, diperlukan dana sekitar Rp 8 miliar. Mengingat kontur tanah yang miring, sehingga memerlukan pembangunan infrastruktur penyangga agar tidak terjadi longsor dan sebagainya. Sedangkan, pembangunan objek wisatanya hanya diperlukan kurang lebih Rp 500 juta. Pengelolaan desa wisata ini, Dany mengandalkan Pokdarwis yang telah dibentuk. ”Ke depan akan kami berikan porsi kepada para remaja,” jelasnya.

Saat ini, usaha masyarakat setempat tumbuh signifikan. Selain jualan makanan dan minuman, para petani juga bisa menjual hasil pertanian kepada wisatawan yang datang. “Wisatawan bisa memetik langsung sayuran yang mereka pilih,” kata Dany.

Demikian juga dengan Desa Bejalen yang dikenal sebagai kampung pelangi, telah menarik perhatian pengunjung tidak hanya dari dalam kota, bahkan dari luar pulau Jawa. Eksesnya, membangkitkan UMKM di desa setempat.

Sekretaris Desa Bejalen, Rina Fatkhiyati mengatakan UMKM warga Desa Bejalen semakin tumbuh pesat. Ticketing Desa Wisata dipercayakan kepada UMKM. Misalnya, tiket yang seharusnya Rp 2000, dinaikkan Rp 5000 dengan memberikan tambahan snack hasil olahan warga. Seperti cheese stick pelangi, olahan stick dengan kombinasi ikan betutu. “Istilahnya, kami jual paksa. Tapi tentunya tidak merugikan pengunjung,” ujar Rina.

Tidak hanya menjual warna-warni desa sebagai spot foto, desa wisata yang dicanangkan sejak 2014 ini menawarkan kearifan lokal setempat, seperti membuat telur asin, handycraft, menganyam enceng gondok dan lainnya.

”Hasilnya ini bisa mereka bawa pulang sebagai oleh-oleh di rumah. Ini tentunya menambah penghasilan warga. Belum lagi para wisatawan menginap selama beberapa hari. Rumah warga sekitar bisa dimanfaatkan sebagai homestay,” jelasnya.

Pemdes Bejalen terus menambah fasilitas-fasilitas dari pemasukan program desa wisata. Fasilitas seperti gazebo dan fasilitas umum lainnya terus ditambahkan untuk menunjang keberadaan desa wisata yang mampu memberikan tambahan Pendapatan Asli Desa (PADes) maupun pendapatan bagi warga yang cukup besar.

Tak hanya itu, di wilayah Kota Semarang juga dikembangkan Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kabupaten Semarang. Tak hanya remaja, ibu rumah tangga dilibatkan untuk memajukan desa wisata tersebut. Bahkan, anak-anak yang putus sekolah hingga remaja yang belum bekerja, didapuk untuk memproduksi kerajinan di bidang kuliner dan kerajinan tangan.

“Kalau ditotal ada ratusan kreasi dan inovasi warga, yang tidak terpusat di satu tempat saja. Hampir semua wilayah Kandri kami ubah menjadi objek wisata yang dijual dengan sistem paket,” kata Pengurus Desa Wisata Kandri, Zubaedi saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.

Dibeberkan juga, di Kandri ada bidang UMKM yang memiliki anggota 40 orang. Kalau ada wisatawan datang, diarahkan ke UMKM Mekarsari yang anggotanya mayoritas ibu-ibu rumah tangga.

Ada juga divisi pemandu wisata, yang diikuti oleh 15 remaja kampung, mayoritas anak putus sekolah hingga pengangguran. Sebelum dijadikan pemandu wisata, pihak penggiat desa wisata memberikan pelatihan melalui dinas terkait agar punya skill yang baik. “Dampaknya setelah diubah menjadi desa wisata sangat besar, kami bisa memberdayakan masyarakat sekitar agar bisa memiliki penghasilan tambahan,” ujarnya.

Untuk menjual paket wisata, lanjut pria yang akrab disapa Baedi ini, dijual melalui online dengan sistem paket field trip ataupun outbond, yang isinya paket wisata tradisional seperti dolanan sawah, hingga lebalar kebudayan Jawa. Hal ini dilirik wisatawan asing ataupun siswa usia SD, SMP, dan SMA. “Paket ini kami jual sekitar Rp 70 ribu per orang, Alhamduililah kami semakin dikenal, hampir satu minggu dua kali pasti ada wistawan yang datang. Entah itu anak-anak tingkat SD, SMP, atau SMA, masyarakat umum, maupun turis wisatawan asing,” katanya.

Pihaknya juga memberdayakan masyarakat agar mengolah limbah sampah. Di antaranya, ranting kayu dan daun kering yang dinamai Kandri Etnic. Beberapa waktu lalu, Baedi mengaku ada wisatawan dari Timor Leste yang meminta pembuat kerajinan tersebut untuk memberikan pelatihan. “Selain dijual di galeri, juga dijual melalui sosial media. Laku keras karena tergolong unik dan menarik,” ucapnya.

Dalam sebulan, lanjut Baedi, Desa Wisata Kandri dikunjungi sekitar 2.000 wisatawan lokal dan 200 wisatawan asing. Bahkan, mereka tinggal di home stay milik warga sekitar. “Setiap kali ada wisatawan yang datang, hampir semua warga kebagian rejeki. Kesadaran warga untuk membangun desa wisata cukup besar. Bahkan mereka sudah paham tentang potensi yang ada di Kandri,” bebernya.

Selain wahana field trip dan out bond, M Nur Khusaeni yang juga penggiat wisata di Desa Wisata Kandri, merelakan lahan dan rumahnya untuk diubah menjadi wahana baru dan disebut dengan omah alas. Dalam wahana miliknya, diberdayakan 15 remaja pengangguran dan putus sekolah. “Kalau di omah alas ini, lebih ke wisata budaya dan tradisional. Kami rutin mengadakan tarian ataupun pertunjukan yang mengusung budaya Jawa,” tambahnya.

Beda halnya dengan wilayah Talun Kacang, berdekatan dengan Goa Kreo dan Waduk Jati Barang, namun masih satu kelurahan dengan Kandri. Warga di Talun Kacang memadukan keindahan Waduk Jati Barang dengan membuat spot foto yang diberi nama spot foto di atas awan. Spot foto tersebut persis di belakang pekarangan rumah milik salah satu warga sekitar dan pemandangan berupa Waduk Jati Barang. “Ini digagas oleh Mas Tumadi, beliau menggerakkan warga sekitar untuk membuat karangka bambu, kemudian dihias sehingga orang foto disini mirip berada di awan,” kata Murti Sari Dewi, pengelola spot foto atas awan.

Dalam wahana tersebut, setidaknya dijaga oleh sekitar 7 remaja sekitar. Tarifnya Rp 5.000 per orang dan diberi durasi waktu agar tidak terjadi antrean panjang. “Kami menyediakan properti untuk foto, seperti tenda, bantal, boneka gitar dan masih banyak lagi. Setidaknya dalam sehari ada 60 nomor antrean, kalau libur bsia mencapai 150 nomor antrean,” tuturnya.

Semakin banyaknya desa wisata di Jateng ciri khas atau keunikan sendiri-sendiri, merupakan nilai lebih. Jika potensi tersebut tak digarap maksimal justru akan menjadi bomerang. “Semakin banyaknya desa wisata ini bagus, artinya tinggal bagaimana mengelola biar semakin berkembang,” kata Ketua Komunitas Penggiat Wisata Jateng, Benk Mintosih.

Misalnya seperti Desa Wisata Kreo di Semarang yang menonjolkan wisata alam dan monyet, harus lebih dioptimalkan. “Bukan berarti ikut latah, tapi buatlah desa wisata yang benar-benar natural dan memikat. Itu jelas membutuhkan campur tangan Pemprov Jateng maupun Pemerintah Kota Semarang,” ujarnya.

Setidaknya ada tiga unsur yang bisa meningkatkan potensi desa wisata di Jateng. Pertama branding, siapa yang terlibat dalam pengelolaanya baik unsur masyarakat lokal sampai pemerintah. Kemudian advertaising bagaimana promosi agar dikenal publik serta selling apa yang dijual dan menarik agar banyak yang tertarik ke desa wisata. “Nuansa alamiah itu yang sekarang menjadi jujugan wisatawan. Misalnya budaya membajak sawah dengan sapi atau ramai-ramai cari kodok, itu kan menarik dan jadi ciri khas. Jateng cukup banyak desa wisatanya, sehingga harus digarap maksimal,” tambahnya.

Berkembangnya desa wisata akan berdampak pada ekonomi masyarakat. Misalnya kuliner lokal atau warga yang memiliki kamar atau rumah kosong bisa diubah menjadi home stay. Pihaknya mengaku siap mendampingi dan aktif mempromosikan wisata di Jateng. “Tapi itu tidak cukup, karena peran Pemprov maupun kabupaten/kota masih minim. Harus ada sinergisitas untuk mengembangkan desa wisata terutama pemerintah,” tambahnya.

Ia mengapresiasi semakin banyaknya desa wisata di Jateng. Harapanya itu bisa menjadi alternatif dan pilihan untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang datang. “Ciri khas atau keunikan yang ada harus dipertahankan, karena itu yang menarik,” tambahnya. (eko.wahyu.budianto/ida)