Adu Cepat Kapal Remote Control

85
ADU KECEPATAN: Peserta lomba Design and Control Boat Competition yang digelar di kawasan wisata Grand Maerakaca, Semarang, Jumat (13/10) kemarin. (bawah) Salah satu peserta turun ke air untuk memperbaiki kapalnya yang tiba-tiba ngadat (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
ADU KECEPATAN: Peserta lomba Design and Control Boat Competition yang digelar di kawasan wisata Grand Maerakaca, Semarang, Jumat (13/10) kemarin. (bawah) Salah satu peserta turun ke air untuk memperbaiki kapalnya yang tiba-tiba ngadat (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG-Puluhan kapal mini yang dijalankan dengan remote control bersaing menjadi yang terbaik dalam lomba Design and Control Boat Competition yang digelar di kawasan wisata Grand Maerakaca, Semarang, Jumat (13/10). Lomba tersebut diikuti peserta dari 62 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Swasta (PTS) di Indonesia. Desain kapal pada lomba yang digelar Himpunan Mahasiswa Teknik Perkapalan Universitas Diponegoro (Undip) ini bertema tourism boat atau kapal wisata.

Lomba yang disaksikan ratusan pengunjung ini terbagi dalam dua kelas. Yakni, kelas remote control  (RC) dan autonomos. Untuk kelas RC sebagai penggeraknya menggunakan baterai, sedangkan autonomos berupa sensor yang bergerak mengikuti warna.

“Kapal-kapal mini itu melewati lintasan bola yang sudah terinstal di komputer. Sedangkan untuk kapal RC, pilotnya mengendalikan dengan remote control dari atas panggung. Setiap lomba adu kecepatan diikuti tiga kapal,” jelas Ketua Panitia, Mensen Pasaribu kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dijelaskan, untuk penilaian lomba, di antaranya berdasarkan kecepatan, serta keseimbangan kapal ketika melewati air, apakah kapal itu tetap berjalan stabil atau oleng. “Jadi, dalam hitungan ketiga, tiga kapal dilepaskan ke air, lalu si pilot memainkan kapal dari atas panggung,” katanya.

Salah satu peserta asal Undip, Abu Bakar, mengatakan, kapal yang dilombakan  terbuat dari bahan triplek yang didempul. Diakui, perlu trik khusus agar kapal yang dibuat stabil di air, dan berjalan tidak terlalu berat. “Ketebalan triplek dan dempul  cukup mempengaruhi kapal bisa lari kencang atau tidak? Atau justru justru memberatkan kapal, sehingga tidak bisa lari,” akunya.

Abu Bakar menambahkan, setiap satu tim lomba terdiri atas 6 orang. Mereka memiliki tugas berbeda. Mulai melepaskan kapal di air, memegang remote control, serta sebagai teknisi kapal ngadat.

Sedangkan ukuran kapal sesuai yang telah sepakati, yakni panjang 70 sentimeter. Ditanya kesulitan dalam pembuatan kapal, Abu Bakar mengaku yang sulit adalah mendesain agar  kapal tetap stabil ketika berjalan dengan kencang.  “Setiap membuat kapal ada ketentuan ukurannya, agar kapal berjalan seimbang dan stabil, serta tidak mudah tenggelam,” bebernya. (hid/aro)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here