Banjir Kaligawe Disebabkan Inlet Tertutup

101

SEMARANG – Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang mengidentifikasi terjadinya banjir yang menggenangi beberapa titik di Jalan Kaligawe Semarang. Berdasarkan identifikasi, banjir tersebut salah satunya disebabkan adanya inlet atau ceruk yang tertutup.  Sehingga inlet untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan yang berada sepanjang jalan menuju ke saluran tidak berfungsi maksimal. Akibatnya air meluap hingga mengakibatkan banjir.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Iswar Aminnudin, mengatakan, ada beberapa inlet yang tertutup akibat proses pengerjaan peninggian jalan. “Kami telah melakukan evaluasi,” kata Iswar kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (9/10).

Selain inlet yang tidak berfungsi maksimal, pompa di Sungai Sringin kurang maksimal. Pihaknya mengaku segera mengambil langkah tindak lanjut untuk menangani hal tersebut.

“Evaluasi telah disepakati akan adanya penambahan pompa untuk mengatasi banjir di Kaligawe. Selain inlet yang tertutup, pompa Sringin belum maksimal dalam pelayanan. Kami sepakat akan ada penambahan kapasitas pompa-pompa, termasuk pompa-pompa kecil untuk menarik air di Jalan Raya Kaligawe,” ujarnya.

Dikatakannya, saat ini pihaknya akan menambah sebanyak 7 pompa. Ia berharap, setelah adanya beberapa langkah tindak lanjut dari evaluasi tersebut, ke depan jalan Kaligawe diharapkan tidak lagi mengalami banjir. Selain itu, Iswar mengatakan kondisi saluran atau drainase kerap tersumbat akibat sampah. “Ini harus menjadi pembelajaran bersama. Kalau pemerintah berjalan sendiri tanpa ada perilaku positif dari masyarakat, pastinya tetap sulit terbebas banjir,” katanya.

Karena itu, pihaknya berharap semua elemen masyarakat harus bersama-sama untuk menjaga lingkungan dan tidak membuat sampah sembarangan. Meski begitu, pihaknya memastikan bahwa petugas saat hujan turun pasti di lapangan untuk mengantisipasi dan mengidentifikasi penanganan banjir. “Kami juga telah memberikan pengarahan untuk beberapa hari ini fokus di kaligawe,” tambahnya.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono, mengatakan, Pemkot Semarang harus bisa menyelesaikan masalah banjir dan rob di Kota Semarang. Sebab, anggaran yang digelontor dari pemerintah pusat untuk penanganan masalah banjir dan rob ini terbilang sangat banyak.

“Anggaran yang berasal dari pemerintah pusat untuk mengatasi banjir wilayah timur, yaitu normalisasi Banjir Kanal Timur (BKT) saja mencapai Rp 1 triliun. Pembangunan Kampung Bahari di Tambaklorok mencapai ratusan miliar. Juga puluhan miliar untuk mengatasi drainase-drainase di kawasan permukiman. Harapannya, dengan anggaran sebesar itu, maka 2018 mendatang, persoalan banjir dan rob harus teratasi secara signifikan,” katanya.

Menurutnya, penanganan persoalan banjir dan rob di Kota Semarang juga perlu secara simultan memberi kesadaran kepada warga agar cinta lingkungan dan peduli lingkungan.

Sehingga meminimalisasi tindakan yang bisa memicu terjadinya rob dan banjir. “Menjaga saluran-saluran dengan tidak membuang sampah sembarangan. Tidak sembarangan melakukan pengambilan air tanah,” bebernya.

Lebih lanjut Kota Semarang telah memiliki Perda Rencana Induk Sistem Drainase Kota Semarang. Sehingga dengan Perda tersebut memberi arah tepat mengatur drainase di Kota Semarang. Ia yakin, persoalan banjir dan rob bisa teratasi apabila rencana induk sistem drainase tersebut dilaksanakan dengan baik.

“Optimalkan 40 rumah pompa yang dikelola Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang. Selain itu ada 100-an lebih pompa portable harus bisa difungsikan dengan baik,” katanya. (amu/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here