33 C
Semarang
Minggu, 9 Agustus 2020

Ternyata Bahasa Jawa ‘Masih Ada’

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

PERUBAHAN peradaban dan kemajuan teknologi diyakini menjadi salah satu penyebab rendahnya minat terhadap Bahasa Jawa. Penutur Bahasa Jawa pada kelompok usia produktif semakin menurun. Keengganan untuk berkomunikasi menggunakan Bahasa Jawa di percakapan sehari-hari turut memperparah nasib Bahasa Jawa. Bahkan dukungan yang minim dari pemerintah daerah, turut andil terhadap”mati suri” Bahasa Jawa.

Lalu bagaimana sebenarnya nasib Bahasa Jawa ke depan? Memang, pemerintah daerah telah mencoba hadir untuk menyelamatkan Bahasa Jawa. Alih-alih menyelamatkan nasib Bahasa Jawa, yang terjadi malah penutur Jawa semakin tidak percaya diri(PD). Di forum-forum resmi, misalnya rapat RT/RW, kelurahan, semakin jamak menggunakan Bahasa Indonesia.

Bahasa Jawa ditanggalkan dalam konteks komunikasi verbal. Pemerintah daerah kemudian mengeluarkan aturan yang mengatur penggunaan Bahasa Jawa. Baik melalui Peraturan gubernur (Pergub), Peraturan Daerah (Perda) dan edaran lainnya. Bahkan forum tertinggi Kongres Bahasa Jawa (KBJ) juga terus secara rutin dilaksanakan oleh 3 provinsi (Jawa Tengah, DI Jogjakarta, dan Jawa Timur). Namun, sampai dimanakah efektivitas regulasi dan rekomendasi yang telah dihasilkan?

Terus apa perlunya Perda-Pergub dan semisalnya soal aturan penggunaaan bahasa Jawa tersebut? Penulis berharap Perda dan Pergub itu hanya berfungsi sebagai regulasi antisipatis Sebagai perisai sebelum masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah lupa dengan bahasa ibunya sendiri. Indikasi tersebut memang ada, dan semakin terlihat dalam keseharian.

Pada masyarakat tutur usia produktif, dan mereka yang berada di perkotaan rentan dengan gesekan bahasa kedua dan ketiga. Namun dalam beberapa bagian saja. Kalau Bahasa Jawa ngoko seratus persen masih aman. Namun bila kita telisik ke sisi lain, misalnya Bahasa Jawa krama, maka indikasinya makin kuat menuju dilupakan. Apalagi mengenal dan belajar aksara Jawa dan seni budaya Jawa, semakin parah.

Peran Guru dan Orang Tua 

Meskipun pemerintah sudah melakukan berbagai upaya pelestarian Bahasa Jawa, namun partisipasi aktif masyarakat tetap dibutuhkan. Utamanya guru dan orang tua. Kalau soal Bahasa Jawa (baca: ngoko) sudah pasti aman dari kepunahan, maka yang jadi masalah kini adalah bagaimana dengan bahasa Jawa (baca: krama) dan aksara Jawa serta budaya Jawa dengan seni dan tradisinya?

Pasti tidak aman dari kepunahan. Apalagi untuk bertutur bahasa krama tidak mudah, dibutuhkan ketekunan belajar .Termasuk juga mempelajari aksara Jawa dan seni tradisi Jawa.
Disinilah letak pentingnya peran seorang guru bahasa Jawa. Pemerintah sudah menetapkan bahasa Jawa sebagai muatan lokal yang wajib diajarkan ke siswa. Untuk menyelaraskan maksud Perda dan Pergub dalam upaya melestarikan bahasa Jawa ini dibutuhkan pengajar bahasa Jawa yang andal. Setidaknya guru bahasa Jawa harus bisa menyampaikan materi materi teori dan praktik berbahasa Jawa yang baik (ngoko dan krama).

Kepiawaian bahasa bagi guru Bahasa Jawa wajib hukumnya. Kemampuan berikutnya guru harus bisa menulis dan membaca  aksara Jawa. Kemudian yang terakhir guru Bahasa Jawa  harus punya kemampuan dalam hal seni dan budaya Jawa. Bisa berupa karawitan, tembang tembang,  parikan dan lain lain. Meskipun kemampuan ini bisa diwakilkan ke sanggar sanggar seni.

Sejalan dengan kondisi saat ini, guna mempermudah dalam pelestarian nilai budaya Jawa, diperlukan terobosan yang praktis dan efektif. Misalnya, karya sastra dan seni Jawa dimodifikasi ke media digital. Media digital pada generasi millenial mudah mengakses. Jika ada kemudahan akses, maka semakin menarik bagi generasi muda Jawa untuk belajar Bahasa Jawa.

Untuk itu, peran  masyarakat dan lingkungan di luar sekolah yang juga harus mengambil peran. Terutama orang tua harus membiasakan diri berbahasa Jawa yang baik (ragam krama) di depan anak-anaknya di rumah  dan lingkungannya. Apabila orang tua di rumah  berbahasa krama kepada anak anaknya, maka pasti anak anaknya akan ikut serta bertutur  Bahasa Jawa krama yang dipraktikkan orang tuanya. Maka fungsi keteladanan bertutur Bahasa Jawa lebih baik dari pada sekadar banyak memerintah terhadap anak muda Jawa.

Melihat kenyataan sampai hari ini, Bahasa Jawa masih ada kok. Meski sebatas Bahasa Jawa ngoko dengan bermacam ragam dialek di seantero wilayah Jawa Tengah.. Bahasa Jawa tetap masih jadi pilihan cara  bertututur orang  Jawa. Pada akhhirnya, penutur Bahasa Jawa akan memiliki loyalitas terhadap bahasa ibunya. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Wisuda Diiringi Gamelan

RADARSEMARANG.COM, MUNTILAN – SMAN 1 Muntilan Sabtu (5/5) lalu mewisuda siswa kelas XII. Kegiatan dimulai dengan kirab wisudawan dan wisudawati. Diikuti oleh kepala sekolah, 4 wakil kepala sekolah, 7 wali...

Leaflet Untuk Mengembangkan Kemampuan Dialog

RADARSEMARANG.COM - BERBICARA merupakan salah satu keterampilan penting yang harus dikuasai siswa dalam mempelajari bahasa Inggris. Dengan berbicara, siswa berkesempatan untuk mengungkapkan ide, pikiran...

Satu Lipatan Dihargai Rp 90

BATANG-Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Batang melibatkan 350 orang untuk melibat 612.630 Surat Suara (SS). Tenaga pelipat diambil dari panitia pemungut suara (PPS) tingkat kecamatan...

Berdayakan Warga dengan Jamur Tiram

MAGELANG–Warga dan Ibu-ibu Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Kedungsari, Rabu (13/12) malam, memanen hasil budidaya jamur tiram di ‘Kelompok Tani Jamur Berkah’ Kedungsari, Magelang Utara,...

Gaet Millenial, Targetkan 25 Kursi

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Tengah menegaskan siap untuk memenangi kompetisi dalam Pemilu 2019. Sebab, usia 20 tahun adalah usia yang...

RKB Bagi Ilmu Desain Produk dan Kemasan pada IKM

PEKALONGAN – Untuk membantu para pelaku industri kecil menengah (IKM) meningatkan kemampuan teknologi industri, Dinas Perindustrian dan Teknik Industri Kota Pekalongan menggelar pelatihan desain...