Oleh: Ani Nugrahani SPd
Oleh: Ani Nugrahani SPd

MILLENNIAL dapat disebut juga sebagai Generasi Millenial atau  Generasi Y adalah kelompok demografis yang lahir antara tahun 1980-an sampai 2000-an setelah Generasi X. Jadi, generasi millennial adalah generasi muda masa kini yang saat ini berusia di kisaran 15–34 tahun. Kaum milenial ini tidak terlepas dari penggunaan teknologi dan budaya pop/musik. Kehidupan generasi millennial tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet, entertainment/hiburan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi generasi ini.

Teknologi terutama internet menjadi kebutuhan pokok yang tidak boleh lepas dari kehidupan generasi milenial. Pelajar sampai dengan mahasiswa termasuk ke dalam rentangan umur generasi millenial yang harus mendapat perhatian, karena penggunaan internet yang intens menjadikan mereka memiliki sifat hedonis. Pelajar dan mahasiswa terutama yang berada di kota-kota besar mulai menarik diri dari kehidupan sosial yang nyata. Mereka lebih asyik dengan dunia maya. Internet yang berfungsi sebagai sarana berbagi informasi berubah menjadi taman bermain yang membuat anak-anak millenials enggan untuk beranjak, bahkan sebagian dari mereka membangun kastil kehidupan di dalamnya. Dengan pudarnya rasa sosial dan sikap hedonis yang merasuk dalam diri generasi millenial, maka akan sangat mudah terjadi perundungan melalui dunia maya (cyber bullying).

Dalam sejarah mencatat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada akhir 1980 mulai melaksanakan penelitian-penelitian lintas bangsa setiap empat tahun sekali, berkenaan dengan perilaku sehat pada anak-anak usia sekolah. Sampel usia 11, 13, dan 15 tahun dari berbagai dunia dinilai dan perundungan dimasukkan sebagai suatu aspek penting dari penelitian tersebut. Jepang menjadi pelopor di Asia yang melakukan upaya-upaya untuk memahami perundungan dan mengembangkan cara-cara untuk mencegahnya.

Jepang menggunakan kata ijime untuk menerjemahkan bullying. Menurut Kawabata (2001), ijime merujuk pada bullying yang menyebabkan hasil-hasil dalam trauma dan dalam beberapa kasus fobia sekolah atau tindakan sekolompok teman sebaya secara kolektif yang mengabaikan dan mengeluarkan seorang korban dari kelompoknya.

Perundungan yang memiliki makna perbuatan mengganggu, mengusik secara terus-menerus kepada orang lain secara fisik maupun emosional dalam bentuk kekerasan verbal, sosial, dan fisik. Kata perundungan ini sebagai padanan bahasa Indonesia untuk kata bully. Banyaknya aksi perundungan di kalangan masyarakat akhir-akhir ini. Pola perundungan tidak lagi pada kekerasan fisik yang biasanya dilakukan dengan cara memukul, mendorong, atau menyakiti secara fisik, tetapi beralih menjadi kekerasan verbal, seperti menyebarkan rumor, menghina, mengancam, atau merongrong seseorang melalui media internet. Berbagai kasus perundungan yang terjadi di kalangan pelajar maupun mahasiswa sebagian basar didasari pada ketersinggungan di sosial media.

Rasa Empati

Pelaku perundungan adalah mereka yang tidak memiliki rasa empati. Mereka menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya. Kurangnya kecerdasan emosi pada seseorang dapat memicu munculnya perilaku perundungan. Selain kurang empati, lingkungan dapat mempengaruhi perilaku anak-anak millenial. Pengasuhan otoriter yang selalu menekan memungkinkan anak menjadi pemberontak. Mereka mencoba menguasai orang lain dengan menjadi pelaku bullying di luar rumah atau lebih sering perundungan ini dilakukan lewat media sosial. Untuk itu, membangun cinta kasih antara keluarga yang ditularkan dari orang tua kepada anak sangat penting. Keluarga adalah faktor penting dalam pendidikan seorang anak. Karakter seorang anak berasal dari keluarga. Sebagian sampai usia 18 tahun anak-anak di Indonesia menghabiskan waktunya 60-80 persen bersama keluarga. Sampai usia 18 tahun, mereka masih membutuhkan orang tua dan kehangatan dalam keluarga. Begitu pula sebaliknya, kekerasan dalam keluarga memicu timbulnya perundungan dan tindakan anarkistis baik fisik maupun verbal. Anak yang sering terkena aksi perundungan, mempunyai kecenderungan hubungan yang tidak harmonis pada lingkungan keluarganya. Anak tersebut biasanya bermasalah dalam menjalin komunikasi yang baik. Padahal, hal ini dapat membantu anak untuk mengembangkan pikiran yang positif tentang dirinya dan mempunyai kemampuan berinteraksi dengan sesamanya (Noller &Clan, dalam Trevi, 2010).

Santun bersosial media menjadi hal yang penting untuk diterapkan dan disosialisasikan di kalangan generasi millenial. Rasa empati dan santun dalam bersosial media perlu dipupuk untuk menghindari konflik bahkan perundungan di dunia maya. Penggunaan bahasa yang menghina, menyakiti, dan ada motif merongrong di media sosial mencerminkan bahwa rasa empati yang cenderung tipis. Perlunya pembinaan penggunaaan media sosial, karena kenyataan membuktikan bahwa kebertanggungjawaban pengguna internet dewasa ini sangat memprihatinkan, jauh dari harapan, sehingga sulit dibayangkan terwujudnya harmoni sosial. Etika dan sopan santun dalam bersosial media adalah sikap positif yang harus ditanamkan pada anak-anak millenial agar tidak terjadi pemicu perundungan di sosial media.

Pada dasarnya setiap manusia membutuhkan pengakuan atas keberadaan dirinya, terlebih pada generasi millenial yang sedang dalam masa transisi dan krisis identitas. Generasi ini lebih sering berjibaku dengan gadget dan membangun kehidupan di dunia maya, sehingga meninggalkan pergaulan sosial secara nyata. Karena itu, kewajiban guru dan orang tua adalah memberikan alternatif komunitas yang positif dan tetap memenuhi kriteria penerimaan identitas para millenials. Mari, putus mata rantai tindakan perundungan di kalangan generasi millenial. (*/aro)