Ternyata Bahasa Jawa ‘Masih Ada’

  • Bagikan
Oleh: Susy Yuanike SPd
Oleh: Susy Yuanike SPd

PERUBAHAN peradaban dan kemajuan teknologi diyakini menjadi salah satu penyebab rendahnya minat terhadap Bahasa Jawa. Penutur Bahasa Jawa pada kelompok usia produktif semakin menurun. Keengganan untuk berkomunikasi menggunakan Bahasa Jawa di percakapan sehari-hari turut memperparah nasib Bahasa Jawa. Bahkan dukungan yang minim dari pemerintah daerah, turut andil terhadap”mati suri” Bahasa Jawa.

Lalu bagaimana sebenarnya nasib Bahasa Jawa ke depan? Memang, pemerintah daerah telah mencoba hadir untuk menyelamatkan Bahasa Jawa. Alih-alih menyelamatkan nasib Bahasa Jawa, yang terjadi malah penutur Jawa semakin tidak percaya diri(PD). Di forum-forum resmi, misalnya rapat RT/RW, kelurahan, semakin jamak menggunakan Bahasa Indonesia.

Bahasa Jawa ditanggalkan dalam konteks komunikasi verbal. Pemerintah daerah kemudian mengeluarkan aturan yang mengatur penggunaan Bahasa Jawa. Baik melalui Peraturan gubernur (Pergub), Peraturan Daerah (Perda) dan edaran lainnya. Bahkan forum tertinggi Kongres Bahasa Jawa (KBJ) juga terus secara rutin dilaksanakan oleh 3 provinsi (Jawa Tengah, DI Jogjakarta, dan Jawa Timur). Namun, sampai dimanakah efektivitas regulasi dan rekomendasi yang telah dihasilkan?

Terus apa perlunya Perda-Pergub dan semisalnya soal aturan penggunaaan bahasa Jawa tersebut? Penulis berharap Perda dan Pergub itu hanya berfungsi sebagai regulasi antisipatis Sebagai perisai sebelum masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah lupa dengan bahasa ibunya sendiri. Indikasi tersebut memang ada, dan semakin terlihat dalam keseharian.

Pada masyarakat tutur usia produktif, dan mereka yang berada di perkotaan rentan dengan gesekan bahasa kedua dan ketiga. Namun dalam beberapa bagian saja. Kalau Bahasa Jawa ngoko seratus persen masih aman. Namun bila kita telisik ke sisi lain, misalnya Bahasa Jawa krama, maka indikasinya makin kuat menuju dilupakan. Apalagi mengenal dan belajar aksara Jawa dan seni budaya Jawa, semakin parah.

Peran Guru dan Orang Tua 

Meskipun pemerintah sudah melakukan berbagai upaya pelestarian Bahasa Jawa, namun partisipasi aktif masyarakat tetap dibutuhkan. Utamanya guru dan orang tua. Kalau soal Bahasa Jawa (baca: ngoko) sudah pasti aman dari kepunahan, maka yang jadi masalah kini adalah bagaimana dengan bahasa Jawa (baca: krama) dan aksara Jawa serta budaya Jawa dengan seni dan tradisinya?

Pasti tidak aman dari kepunahan. Apalagi untuk bertutur bahasa krama tidak mudah, dibutuhkan ketekunan belajar .Termasuk juga mempelajari aksara Jawa dan seni tradisi Jawa.
Disinilah letak pentingnya peran seorang guru bahasa Jawa. Pemerintah sudah menetapkan bahasa Jawa sebagai muatan lokal yang wajib diajarkan ke siswa. Untuk menyelaraskan maksud Perda dan Pergub dalam upaya melestarikan bahasa Jawa ini dibutuhkan pengajar bahasa Jawa yang andal. Setidaknya guru bahasa Jawa harus bisa menyampaikan materi materi teori dan praktik berbahasa Jawa yang baik (ngoko dan krama).

Kepiawaian bahasa bagi guru Bahasa Jawa wajib hukumnya. Kemampuan berikutnya guru harus bisa menulis dan membaca  aksara Jawa. Kemudian yang terakhir guru Bahasa Jawa  harus punya kemampuan dalam hal seni dan budaya Jawa. Bisa berupa karawitan, tembang tembang,  parikan dan lain lain. Meskipun kemampuan ini bisa diwakilkan ke sanggar sanggar seni.

Sejalan dengan kondisi saat ini, guna mempermudah dalam pelestarian nilai budaya Jawa, diperlukan terobosan yang praktis dan efektif. Misalnya, karya sastra dan seni Jawa dimodifikasi ke media digital. Media digital pada generasi millenial mudah mengakses. Jika ada kemudahan akses, maka semakin menarik bagi generasi muda Jawa untuk belajar Bahasa Jawa.

Untuk itu, peran  masyarakat dan lingkungan di luar sekolah yang juga harus mengambil peran. Terutama orang tua harus membiasakan diri berbahasa Jawa yang baik (ragam krama) di depan anak-anaknya di rumah  dan lingkungannya. Apabila orang tua di rumah  berbahasa krama kepada anak anaknya, maka pasti anak anaknya akan ikut serta bertutur  Bahasa Jawa krama yang dipraktikkan orang tuanya. Maka fungsi keteladanan bertutur Bahasa Jawa lebih baik dari pada sekadar banyak memerintah terhadap anak muda Jawa.

Melihat kenyataan sampai hari ini, Bahasa Jawa masih ada kok. Meski sebatas Bahasa Jawa ngoko dengan bermacam ragam dialek di seantero wilayah Jawa Tengah.. Bahasa Jawa tetap masih jadi pilihan cara  bertututur orang  Jawa. Pada akhhirnya, penutur Bahasa Jawa akan memiliki loyalitas terhadap bahasa ibunya. (*/aro)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *