33 C
Semarang
Jumat, 23 Oktober 2020

Ide Muncul saat Melihat Hasil Panen Dibuang karena Busuk

Dr Muhammad Nur DEA, Dosen Undip Penemu Mesin D'Ozone

Baca yang Lain

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak...

Dr Muhammad Nur DEA selalu berpikir bahwa ilmu pengetahuan, sains dan teknologi harus bisa membantu masyarakat. Dosen Universitas Diponegoro (Undip) ini pun membuat inovasi dalam bidang pertanian, yakni berupa mesin berteknologi plasma yang berfungsi untuk memperpanjang masa simpan hasil panen. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

SOSOK pria berkaca mata  ini adalah seorang peneliti fisika plasma dan dosen Fakultas Sains dan Matematika  (FSM) Undip Semarang.  Belakangan, ia bersama tim peneliti berinovasi menciptakan alat mesin yang mampu menahan proses pembusukan produk pertanian. Alat tersebut diberi nama mesin D’Ozone.

Berbagai macam sayuran, seperti cabai, sawi, brokoli, tomat, wortel, loncang, seledri dan lain-lain, bisa bertahan tidak membusuk hingga 2-3 bulan dengan kandungan gizi dan kualitas tidak berubah.

Hasil riset yang dilakukan bertahun-tahun tersebut merupakan pengembangan teknologi plasma untuk menciptakan ozone. Ozone tersebut akan dilarutkan ke air dengan konsentrasi tertentu dan mampu memperlambat proses pembusukan produk pertanian.

Pria kelahiran Batubara, Sumatera Utara 1957 silam itu, mengaku kali pertama muncul ide ini ketika ia melihat para petani seringkali membuat hasil panen karena membusuk.

“Saya selalu berpikir bahwa ilmu pengetahuan, sains dan teknologi itu harus bisa membantu masyarakat. Masyarakat kadang-kadang hasil panennya dibuang karena busuk. Hasil pertanian kalau busuk, dibuang,” kata Nur kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (5/10).

Dari situlah, kemudian muncul ide teknologi yang bisa memperpanjang hasil panen agar tidak harus dibuang.

“Kalau bisa membantu rakyat kecil, sehingga bisa menyejahterakan mereka. Sains teknologi tidak harus handphone untuk komunikasi, untuk terbang dan lain-lain. Tapi yang di bawah (untuk rakyat kecil) juga harus dipikirkan,” ujarnya.

Dia mengembangkan teknologi plasma dimulai sejak 1999 silam. Tetapi penelitian dalam bidang pangan dimulai 2009. “Awalnya penelitian kecil-kecilan, lalu penelitian yang agak besar pada 2013, 2014 dan 2015. Itu sudah mulai generator ozone dimanfaatkan untuk pangan yang lebih serius,” katanya.

Dijelaskannya, teknologi plasma bisa dimanfaatkan untuk membuat energi dalam skala besar. Tetapi hal itu membutuhkan biaya sangat mahal.

“Bisa juga dimanfaatkan untuk pangan, kesehatan dan air. Untuk ikan cukup bagus, beras bagus. Tapi beras dalam skala kecil, untuk skala gudang belum. Bawang juga, kemudian sekarang ini kami aplikasikan untuk sayur-sayuran seperti cabai, sawi, brokoli, tomat, wortel, loncang, seledri, dan lain-lain,” bebernya.

Semuanya, lanjut dia, menunjukkan bahwa dengan treatment dan disimpan di dalam storage yang di dalamnya menggunakan teknologi ozone menghasilkan masa penyimpanan lebih panjang. “Kapasitas alat saat ini mampu menampung 10 meter kubik. Kalau untuk cabai bisa memuat 1 ton lebih.

Mesin D’Ozone sekarang sudah digunakan oleh Kelompok Tani Mutiara Organik, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang dan Boyolali. Untuk bawang sudah digunakan oleh kelompok tani di Tanah Karo Sumatera Utara. Ada juga beberapa perguruan tinggi, di antaranya Universitas Padjajaran,” katanya.

Pria yang juga Ketua Center for Plasma Research (CPR) ini bersama tim peneliti Undip intens melakukan penelitian. Orang-orang di dalamnya melibatkan dari unsur multidisiplin. Ini menjadi aktivitas teaching industry.

“Ada dari kimia, fisika, biologi, dan lain-lain. Sekarang, di teaching industry ini kami memiliki prabrik kecil lah di kampus. Sudah ada peneliti kami sendiri, para pegawainya ada dari disiplin biologi, kimia, fisika dan lain. Anak-anak muda yang saya latih. Semua sudah profesional, kalau mahasiswa pun harus mahasiswa S2 dan kami gaji di atas UMR,” katanya.

Perusahaan tersebut diberi nama PT Dipo Technology, sebuah perusahaan manufaktur yang memproduksi produk berbasis teknologi plasma hasil riset. Produk-produk yang dihasilkan dimanfaatkan dan diaplikasikan di bidang pertanian pasca panen, bidang kelautan hasil tangkapan ikan laut, bidang kesehatan mengurangi penularan penyakit, membunuh mikroorganisme yang berbahaya bagi kehidupan manusia. Teknologi plasma ini dipercaya pertama kali di Indonesia, termasuk dalam hal produksi ozone. “Perusahaan ini di bawah naungan Undip. Nantinya menjadi perusahaan milik universitas. Saat ini punya 18 orang karyawan produksi,” kata mantan Dekan Fakultas Sains dan Matematika Undip ini. (*/aro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...

Setuju BTP

BTP kini sudah menjadi ''orang dalam" BUMN. Posisinya bisa dibilang menentukan, bisa dibilang kejepit. Tergantung pemegang sahamnya. Secara resmi pemegang saham BUMN itu adalah Menteri Keuangan....

Artikel yang Lain

- Advertisement -

Populer

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak,...

Apersepsi, Pembangkit Motivasi Dan Minat Siswa

RADARSEMARANG.COM - DARI tahun pelajaran 2016/2017 sampai dengan saat ini, terdapat kebijakan baru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)....

Semarang 10K, Cetak Atlet Sekaligus Kenalkan Wisata 

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang akan mengadakan event lari 10K pada 16 Desember 2018 mendatang. Rencananya kegiatan tersebut akan menjadi agenda tahunan. Selain...

Sport Center Bisa Tingkatkan Prestasi

SEMARANG - DPRD meminta agar Pemprov dan kabupaten/kota lebih serius menggarap potensi atlet di Jateng. Salah satunya dengan meningkatkan dan menambah keberadaan pusat olahraga...

Traveling di Sela Kerja

DUNIA memang tidak selebar daun kelor. Ungkapan itu yang dipegang Ratih Mega Rizkiana. Wanita kelahiran Ambarawa Kabupaten Semarang, 8 Maret 1988 ini selalu menyisihkan...

Properti di Awal Tahun Lesu

SEMARANG – Pasar properti di awal tahun masih belum terlalu bergairah. DPD Real Estate Indonesia (REI) Jateng mencatat hasil penjualan properti pada pameran awal...