Ewuh Pakewuh, Ubah Rasa Takut Siswa pada Guru

spot_img

BUDAYA membaca dan mendengarkan cerita dari orang tua kita, ternyata menjadi strategi yang jitu untuk menanamkan nilai budaya dan pendidikan budi pekerti luhur kepada siswa. Melalui budaya tutur tersebut, melahirkan stimulus respon pada siswa, sehingga nilai-nilai didaktif dalam cerita bisa dicerna siswa sebagai asupan nilai tradisi positif. Nilai positif yang digali dari budaya Jawa juga bisa menjadi nilai pendidikan karakter yang kuat. Misalnya melalui upaya menubuhkan dan menanamkan tradisi ewuh pakewuh (sungkan).

Kondisi pendidikan saat ini sangat kering dengan penanaman nilai. Nilai kearifan lokal seakan ditinggalkan generasi milenial. Proses pembelajaran di kelas terasa kering. Di sisi lain siswa memiliki rasa takut yang timbul pada mereka, yakni ketika mereka tidak mampu menyerap semua ilmu yang diberikan oleh gurunya. Takut akan kebodohan jika tidak giat dalam belajar. Ada rasa tanggungjawab secara moral terhadap lingkungan mereka tinggal. Berbeda dengan apa yang terjadi pada dunia pendidikan saat ini. Sangat ironis sekali ketika kita mau melirik apa yang terjadi pada generasi saat ini.

Era globalisasi seperti sekarang ini benar-benar harus disikapi dengan bijak. Segala sesuatu yang serba modern, dari pembangunan, kesehatan, hingga pendidikan. Banyak materi pembelajaran dihapuskan, hanya karena sikap pragmatis belaka. Tata krama, sopan santun, unggah-ungguh mulai hilang bahkan tidak diperhatikan. Sementara pendidikan yang utama adalah pendidikan dasar dari manusianya. Unsur pendidikan yang utama salah satunya tata krama, sopan-santun, dan unggah ungguh, serta rasa ewuh pakewuh.

Ewuh pakewuh bisa diartikan sikap  segan seseorang terhadap orang lain. Sikap tersebut harus tepat penggunaannya. Kalau memang itu untuk menegakkan kebenaran, maka jangan segan atau ewuh pakewuh . Di dalam dunia pendidikan lebih baik menerapkan rasa ewuh pakewuh ini untuk menjalin komonikasi antara guru dan murid. Dengan cara itu, maka kesadaran siswa tumbuh dari hatinya dalam menjalankan semua yang diberikan oleh guru.

Baca juga:   PBL Mempermudah Menentukan Luas Permukaan Prisma

Salah satu contoh kecil siswa mendapat tugas pekerjaan rumah dari gurunya, maka siswa benar-benar akan berusaha mengerjakannya sendiri apapun hasilnya nanti. Berbeda kalau hanya takut sama gurunya, maka siswa mengerjakannya meminta orang lain yang mengerjakannya. Siswa tersebut tinggal terima jadi, dan dibawa ke sekolahnya. Tentu gurunya akan mengacungkan jempol pada siswa tersebut karena mengerjakannya dengan baik dan benar.

Kualitas Siswa

Apabila kondisi seperti ini berlangsung terus, maka hasilnya  tidak akan memuaskan. Bahkan kualitas siswa sangat tidak bermutu. Parahnya lagi, di saat ulangan atau ujian anak mengandalkan contekan atau komunikasi dengan yang di luar sekolah untuk menjawab soal-soal dengan handphone-nya. Rasa ewuh pakewuh siswa terhadap guru hilang.

Bagaimana caranya agar siswa lebih sadar perlunya belajar? Salah satunya penerapan ewuh pakewuh pada guru harus mulai diterapkan.  Guru memberi contoh dengan cara menyapa duluan, mengingatkan dengan baik dan bersahabat, hilangkan rasa takut siswa pada gurunya, tapi rasa hormat yang benar dari hatinya. Tidak sekadar hormat saat di depan guru, sementara di belakang, siswa mengejek (ngiwi-iwi). Langah selanjutnya, guru harus mengajak  berdiskusi, beri kepercayaan dan tanggung jawab, sehingga siswa menjadi dekat, siswa bisa mengungkapkan segala kesulitannya.  Jika komunikasi yang baik ini terjalin, maka kesadaran siswa untuk belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah akan tumbuh dari hatinya. Bahkan hal tersebut akan menjadi dinamika dalam belajar siswa yang menyenangkan. Tentu saja hasil pembelajarannya akan baik. Akan menghasilkan siswa-siswa yang berdedikasi tinggi, sopan, dan bisa menghargai orang lain.

Baca juga:   Lunturnya Sopan Santun Siswa, Salah Siapa?

Dari uraian tersebut, bisa dipahami bahwa anak atau siswa harus mengenal ewuh pakewuh, bukan sekadar rasa takut. Karena dengan rasa ewuh pakewuh, maka di manapun berada  selalu mengedepankan tanggung jawabnya, dan menjalani apapun dengan hati. Ewuh pakewuh di dalam pendidikan saat ini harus ditanamkan dan dibiasakan kepada siswa. Dengan demikian, maka penguatan pendidikan karakter (PPK) di sekolah akan berhasil. (*/aro)

Author

Populer

Lainnya