33 C
Semarang
Sabtu, 15 Agustus 2020

Berbagi Ilmu, Cegah Bulutangkis Dicoret dari Olimpiade

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Sebanyak 35 atlet dari 7 negara mendalami olahraga bulutangkis dari legenda hidup bulu tangkis Indonesia, Christian Hadinata. Mereka belajar langsung dari Juara All England 1972 & 1973 itu selama 12 hari di GOR Djarum Magelang.

KEPALA Tim Pelatih, Christian Hadinata, Kamis (5/10), mengatakan, 35 atlet itu terdiri dari 21 putra dan 14 putri yang berusia di bawah 19 tahun. Adapun 7 negara yang ikut adalah Brasil, Armenia, Georgia, New Zealand, Australia, Bulgaria, dan Timor Leste. “Mereka belajar di sini dalam program Blibli Com Training Camp 2017 Road to World Junior Championships dari 23 September sampai 5 Oktober. Ini adalah program PBSI yang bertujuan membantu negara yang badmintonnya belum berkembang,” kata pemegang gelar juara dunia ganda putra dan ganda campuran tahun 1980 tersebut.

Christian mengatakan, ia mendengar kabar kurang mengenakkan terkait posisi cabang olahraga (cabor) bulutangkis di Olimpiade. “Tersiar kabar cabor badminton tidak akan dimainkan dalam Olimpiade, karena kekuatan tidak merata. Selama dua dekade ini memang kekuatan badminton ada di benua Asia, seperti Indonesia, Malaysia, Tiongkok, Korea (Selatan), dan Jepang. Sementara negara-negara maju di Eropa dan Amerika, apalagi di benua Afrika kalah jauh,” ungkap Christian.

Atas dasar itulah, menurut Christian, BWF sebagai induk olahraga bulu tangkis dunia meminta negara-negara yang kuat badmintonnya untuk membina negara-negara yang masih berkembang. Salah satunya Indonesia yang diharuskan memiliki “anak asuh” dengan tujuan meningkatkan kekuatan bulutangkisnya.

“Nah, training camp ini salah satu cara kita untuk mengangkat badminton negara-negara yang berkembang itu. Harapannya agar badminton tidak dicabut dari Olimpiade, karena ke depan kekuatan akan lebih merata,” kata mantan Juara All England 1972 & 1973 tersebut.

Salah satu pelatih fisik training camp 2017, Reni S menjelaskan, para atlet peserta dikenalkan dengan 16 macam tes fisik, seperti push up, sit up, skipping, lari, jump, dan lainnya. Selain itu, peserta juga wajib mengikuti serangkaian tes fisik dengan indikator yang sudah tersistem baik.

“Menariknya, banyak dari mereka ternyata tidak mengenal aneka tes fisik tersebut. Padahal, tes fisik ini penting untuk mengukur kekuatan pemain, karena bermain bulutangkis membutuhkan fisik yang kuat dan prima,” imbuh Reni.

Pelatih Teknik Training Camp 2017 lainnya, Engga Setiawan menambahkan, setelah mengikuti kegiatan ini, banyak dari mereka yang mengalami kemajuan bagus. Kemajuan tidak hanya di fisik, tetapi juga teknik setelah mereka memahami betul arahan dan instruksi pelatih.

“Ada kemajuan bagus, terutama peserta dari Brasil dan Bulgaria yang mampu masuk final mini tournament. Harapannya, setelah ini mereka tambah berkembang dan maju lagi,” kata Engga. (cr3/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Wajib Periksa Tenggorokan dan Mulut sebelum “Bekerja”

RADARSEMARANG.COM - Para penghuni lokalisasi Argorejo, Kalibanteng Kulon, Semarang kembali “bekerja” setelah libur panjang puasa Ramadan dan lebaran. Sebelum bekerja melayani tamu, para pekerja...

Biasakan Hidup Sehat

SALATIGA - Sebanyak 230 kader yang tergabung dalam Forum Kesehatan Kelurahan (FKK) mengikuti Jambore Kelurahan Siaga. Kegiatan yang digelar oleh Dinas Kesehatan Kota (DKK)...

Benahi Jembatan Timbang

MESKI sudah ada roadmap pembenahan jembatan timbang, namun belum semua dibenahi. Kondisi jembatan timbang yang dikelola melalui Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) masih...

Terkesan Mendaki Gunung Prau

MENDAKI gunung bukan hal yang asing lagi bagi gadis  bernama lengkap Febriani Dara Puspita Ramadhani ini. Baginya, mendaki gunung adalah hal yang sangat menarik,...

Suwal Kaget Putrinya Ditangkap, Agus Dikenal Ramah

RADARSEMARANG.COM - Pasca kericuhan di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap sejumlah terduga teroris. Dua...

MUI Jateng Luncurkan Mualaf Centre

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng menginisiasi pendirian Mualaf Centre sebagai pusat pembinaan bagi warga yang terpanggil untuk beragama Islam....