Gagal Atasi Banjir, Pejabat Dilengser

134
HARUS TANCAP GAS: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat melantik sejumlah pejabat di lingkungan Pemkot Semarang, kemarin (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG).
HARUS TANCAP GAS: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat melantik sejumlah pejabat di lingkungan Pemkot Semarang, kemarin (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANGWali Kota Semarang Hendrar Prihadi kecewa dengan kinerja sejumlah pejabat di Pemkot Semarang yang dinilai lambat dalam penanganan banjir. Sebab, selama tiga hari hujan, sejumlah titik jalan tergenang banjir. Hal ini mengindikasikan pejabat yang seharusnya bertanggungjawab tak mampu berbuat banyak.  Kegeraman orang nomor satu di Kota Atlas ini pun dilampiaskan dengan mencopot sejumlah pejabat tersebut.

Rabu (4/10) kemarin, sejumlah pejabat dilengser dan dipindahtugaskan ke posisi lain, karena dinilai tidak mampu mengemban tugas dengan baik.  “Nyatanya hujan 3 hari, jalan tergenang. Nyatanya kemarin saya lewat Kemijen, masih ada jalan rusak,” kata Hendi –sapaan akrab Hendrar Prihadi geram.

Hendi mengungkapkan kekecewaannya saat memberi pengarahan kepada para pejabat di lingkungan Pemkot Semarang. “Kita ini wong Jowo punya budaya pakewuh (budaya malu). Jadi, kalau panjenengan tidak bisa mengemban tugas baik, seharusnya ewuh (malu) dengan yang memberi posisi, ewuh dengan keluarga, ewuh dengan masyarakat,” ujarnya dengan nada tinggi.

Sedikitnya ada 339 pejabat dimutasi untuk ditempatkan ke jabatan lain. Salah satunya adalah Kepala UPTD Pompa Banjir Wilayah Tengah I Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang, Dodik Brilianto. Jabatan Dodik digantikan oleh Guntur Rachmanto.

Pemangku wilayah yang selama tiga hari ini sebagian wilayahnya tergenang banjir juga terkena sanksi mutasi. Camat Semarang Timur, Ari Djoko Santoso, saat ini diganti oleh Sutrisno. Sedangkan Camat Genuk Sumardjo, digantikan oleh Ali Muhtar.

Tidak hanya itu, Kepala Seksi Pengawasan Tata Ruang dan Bangunan Gedung Dinas Penataan Ruang Kota Semarang, Lisa Oktavia Tutuarima,  juga dicopot. Ia digantikan oleh  Sugeng Yusiyanto. Jabatan ini dinilai berpengaruh untuk memaksimalkan pencegahan banjir melalui optimalisasi pendirian bangunan yang dapat berpotensi menghambat saluran.  “Pejabat harus memiliki pola pikir inovatif.  Pejabat harus berupaya menemukan alternatif solusi apabila dalam pekerjaan ditemukan kendala,” tegasnya.

Hal itu merupakan upaya untuk mencapai tujuan program yang telah ditetapkan.  Menurut dia, rotasi jabatan yang dilakukan saat ini menjadi pertimbangan yang terbaik. “Jangan kecewakan kepercayaan yang saya berikan, jaga betul amanah yang diberikan,” pesannya.

Sementara itu, warga di sejumlah wilayah di Semarang bagian timur hingga kini masih dihantui banjir. Warga waswas, ketika hujan turun dalam kurun waktu tiga jam bisa dipastikan permukiman langsung terendam.

Ada tiga kelurahan, yakni Tambakrejo, Kaligawe dan Sawah Besar yang saat ini masih kerap terendam banjir saat hujan datang. Luapan air diperkirakan datang dari dua sungai, yakni Banjir Kanal Timur dan Kali Tenggang. Tidak hanya permukiman, sejumlah titik di Jalan Kaligawe juga tergenang air.

Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Semarang di lapangan, lalu-lintas di sepanjang jalan Kaligawe, Terboyo, Genuk, arah ke Demak padat merayap. Jalur padat mengakibatkan deretan lalu-lintas yang didominasi kendaraan jenis muatan berat.  Terutama dari depan Terminal Terboyo ke arah Demak.

“Banjir sudah empat hari lalu, karena setiap hari hujan. Kondisi banjir pasang surut,” kata salah satu warga, Suyati, 40, Rabu (4/10).

Dikatakannya, beberapa hari lalu banjir sempat masuk rumah warga. Tetapi hanya beberapa jam bisa surut. Tetapi banjir tersebut sangat mengganggu aktivitas warga. “Ya, jelas terganggu, saya jualan jarang ada yang beli. Hanya satu-dua pembeli mampir warung, karena di depan warung (jalan raya) tergenang air setinggi dengkul,” ujarnya.

Camat Genuk Sumardjo yang kemarin dilengser mengatakan, genangan air tersebut bukan rob, melainkan banjir. “Bukan rob, tapi banjir. Semua pompa sudah dihidupkan semua. Karena intensitas hujan cukup tinggi. Pompa on semua. Saat ini sudah surut, yang masih tergenang hanya di depan Jalan Padi Raya dan depan Polsek Genuk. Sudah mulai surut kok, di titik lain sudah mulai kering. Banjir mulai malam Sabtu lalu,” bebernya.

Saat ini, banjir di wilayah tersebut telah ditangani oleh tim Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang. “BBWS dan DPU sudah turun tangan karena intensitas air hujan cukup tinggi. Banjir kali ini berasal dari Kali Tenggang. Ada luapan air kemudian berbalik, dulunya menggenang di sekitar rel kereta api Kaligawe, sekarang beralih posisi ke saluran sekitar Padi Raya dan depan Polsek Genuk. Jadi, banjir ini berasal dari Kali Tenggang mengalir di Jalan Kaligawe,” jelasnya.

Penanganan yang dilakukan oleh BBWS saat ini dengan cara dibuatkan dam di sekitar RSI Sultan Agung. “Ditutup dan dipompa. Sehingga air dari Kali Tenggang tidak mengalir ke sepanjang Kaligawe. Ini sifatnya penanganan sementara. Lalu lintas sudah mulai lancar. Memang agak tersendat, karena berjalan merambat. Agak terganggu juga, tapi tidak macet. Cuma merambat dan tersendat. Nggak tinggi kok, ketinggian air kurang lebih 15 cm,” katanya.

Dikatakan, banjir di sejumlah wilayah permukiman, sudah surut. Ada beberapa titik di antaranya di Trimulyo. “Trimulyo hanya sebagian warga yang banjir, terutama di dataran rendah masih tergenang. Tapi rata-rata, permukiman warga sekarang sudah aman, hanya beberapa titik jalan raya yang tergenang,” ujarnya.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kelurahan Sawah Besar, Mulyadi, mengatakan, permasalahan banjir masih terjadi di tiga kelurahan, yakni Tambakrejo, Kaligawe dan Sawah Besar. “Dampak banjir masih sangat terasa. Rencana kan Banjir Kanal Timur mau dinormalisasi. Sampai sekarang belum ada normalisasi. Otomatis masyarakat berharap secepatnya dilakukan normalisasi,” harapnya.

Untuk wilayah Sawah Besar, penanganan sementara dilakukan dengan memanfatkan Polder Pasar Waru. ‘Penyebab utamanya karena sedimen sungai besar, yakni Banjir Kanal Timur. Paling parah di tiga kelurahan tersebut. Tiga hari ini hujan deras, hanya dalam waktu tiga jam langsung tergenang. Genangan air di permukiman ketinggian antara 30 – 50 cm. Kondisi warga tetap baik-baik saja, mereka tetap di rumah. Hanya saja kakinya pada rangen (terserang penyakit kutu air),” katanya.

Sekretaris Komisi C DPRD Kota Semarang, Wachid Nurmiyanto, mengatakan, saat ini di Kota Semarang masih kekurangan kolam retensi atau polder-polder. “Pembangunan polder seharusnya ditambah. Sehingga bisa untuk menampung luapan air. Saat ini baru ada sedikit polder,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, hal yang tidak kalah penting adalah sistem penataan drainase. Salah satu contoh adalah sistem drainase di wilayah Kelurahan Muktiharjo, terutama mulai Jalan Raya Kaligawe masuk di tepi rel kereta api menuju Kelurahan Muktiharjo. Bahkan sejak bertahun-tahun silam kondisi jalan tersebut meski sudah ditinggikan tetap saja tergenang rob hingga sekarang.

“Perawatan drainase di Kota Semarang harus mendapatkan perhatian serius. Kami melihat banyak titik sirkulasi drainase terutama di Semarang Utara dan Semarang Timur terganggu. Bahkan antara tanah dengan airnya sudah tinggi airnya, maka air rob meluber,” katanya. (amu/aro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here