Disiplin Positif (Dipo)  untuk Cegah Bullying

spot_img

MENARIK untuk terus dibicarakan terkait maraknya kasus bullying pada anak di sekolah. Fenomena tersebut menyedot atensi masyarakat, termasuk para guru dan orang tua siswa. Penanganan anti bullying pada anak tidak bisa hanya dilakukan oleh guru saja, tetapi juga membutuhkan peran serta orang tua, dan masyarakat lainnya.  Bullying bisa terjadi kapan pun, oleh siapa pun, dan di mana pun.  Kasus bullying (perundungan) menjadi kasus yang marak terjadi di sekolah-sekolah, sehingga diperlukan langkah pencegahan yang komprehensif.

Fakta empirik ketika penulis melakukan diskusi dengan beberapa siswa terkait bullying, siswa sangat antusias. Bahkan ketika penulis menemui langsung siswa yang terkena bullying, banyak hal yang unik. Siswa tidak serta merta baik korban maupun pelaku mau terbuka kepada guru. Umumnya siswa enggan untuk melaporkan kasus bullying kepada  guru.

Tidak heran ketika kita mendengar ada oknum guru yang dipidanakan karena diduga melakukan kekerasan kepada siswanya. Pasalnya, selama ini budaya hukuman sering dan terus dilakukan oleh guru. Dosa hukuman menjadi  ajang “balas dendam” guru kepada siswanya. Apakah cukup dengan  hukuman, kemudian siswa akan disiplin?

Kenyataan sekolah sudah menyusun tata tertib/aturan  sekolah. Karena selama ini peraturan sekolah hanya disusun sepihak oleh sekolah. Keterlibatan siswa nihil di sana. Sehingga efek yang muncul merupakan “pembangkangan” siswa terhadap sekolah. Kemudian muncullah bullying, kekerasan, dan sejenisnya.

Bullying dalam bahasa Indonesia bisa diartikan “penindasan/perisakan.” Lazimnya bullying merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan sengaja oleh satu atau kelompok orang yang lebih kuat  terhadap orang lain, bertujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus  (sudah dong.2015)

Baca juga:   Teknologi sebagai Sarana Pendidikan Berorganisasi di Madrasah

Teasing

Dalam kehidupan sosial sehari –hari, ada orang-orang yang jahil, saling usil, dan bercanda. Hal tersebut biasa disebut teasing. Bullying dan teasing sering terjadi di sekolah-sekolah. Bullying lebih menekankan kepada kekuasaan kekuatan yang membuat orang lain tersakiti, direndahkan, dan dilakukan berulang-ulang, sehingga ada dampak psikis maupun fisik.

Untuk itu, diperlukan tindakan dan penerapan disiplin positif  (dipo), terhadap siswa dan guru. Disiplin positif merupakan bentuk kegiatan pemahaman bersama yang terdiri atas konsekuensi logis, penguatan, dan dorongan positif. Ketiganya perlu dilakukan untuk mencegah kekerasan dan bullying di sekolah. Disiplin positif perlu diintegrasikan di dalam rencana dan pelaksanaan pembelajaran. Guru perlu menyusun disiplin positif sejak awal kegiatan pembelajaran.

Di dalam konsekuensi logis ada 4 pilar, yakni berhubungan (related), menghormati anak (respectful), logis (reasonable), dan dialogis. Jadi, apapun yang siswa lakukan ada dampak logisnya. Ada 2 bentuk konsekuensi, yakni  konsekuensi natural dan ada konsekuensi logis. Misalnya, anak tidak makan, maka dampak naturalnya si anak kelaparan.

Konsekuensi logis terjadi karena campur tangan dari orang lain. Misalnya, siswa yang membuang sampah sembarangan, maka konsekuensi logisnya, siswa harus membersihjan. Dalam setiap konsekuensi logis, siswa diberi pengertian bahwa apa yang dilakukannya berdampak kepada orang lain.

Keberhasilan kita dalam menerapkan konsekuensi logis sebagai unsur disiplin positif (dipo) antara lain: Pertama, kita harus mendesain untuk mengajarkan anak bahwa tindakan mereka tidak tepat. Jangan buat anak dalam suasan ketakutan.

Baca juga:   Penerapan Fungsi Pendidikan dalam Lembaga Keluarga

Kedua, identifikasi bahwa konsekuensi yang diambil bukan kekerasan atau serangan pada anak. Guru dan orang tua harus mendampingi anak menjalani konsekuensi logis. Ketiga, guru tidak boleh menunjukkan kekuatan dan kekuasannya di depan siswanya. Keempat, menerapkan konsekuensi logis, jelaskan kepada siswa yang tepat dengan apa yang telah mereka lakukan. Misalnya ketika ada siswa memukul temannya, maka katakana “memukul orang lain tidak baik, karena akan menyakitinya,” dari pada mengatakan” kamu telah memukul dia .”

Kelima, jika konsekuesi logis ingin berhasil yakni harus dilakukan secara adil, wajar, jujur, dan dengan tenang. Sering guru karena kondisi psikologis tertentu, meluapkan amarahnya kepada siswa. Jadi, konsekuensi logis tidak berhasil karena menunggu mood guru. Selanjutnya jangan mengambil keputusan konsekuensi logis tanpa melibatkan siswa. Siswa perlu diajak untuk berdiskusi konsekuensi dari tindakannya. Terakhir, konsisten terhadap aturan dan kesepakatan yang dibuat. Semua pihak harus konsisten dalam menegakkan disiplin pisitif.

Langkah tersebut, kemudian dipraktikkan guru di awal tahun ajaran melalui kegiatan brainstorming (curah pendapat) dengan siswa secara terbuka di kelas. Dengan adanya keterbukaan, kesepakatan, dan keterlibatan siswa dalam membuat konsekuensi logis, maka bisa mengurangi kekerasan terhadap siswa di sekolah. Karena masing-masing pihak sudah ada kesepakatan dari awal. Jika disiplin positif ini berhasil, maka konsekuensi logis bisa dikembangkan, sehingga akan terbentuk control community atau kelompok pengontrol jika ada pelanggaran di kelas. Control community tersebut merupakan siswa yang telah muncul karakter pedulinya untuk mengurani kekerasan dan bullying di sekolah. Semoga. (*/aro)

Author

Populer

Lainnya