33 C
Semarang
Sabtu, 11 Juli 2020

Disiplin Positif (Dipo)  untuk Cegah Bullying

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

MENARIK untuk terus dibicarakan terkait maraknya kasus bullying pada anak di sekolah. Fenomena tersebut menyedot atensi masyarakat, termasuk para guru dan orang tua siswa. Penanganan anti bullying pada anak tidak bisa hanya dilakukan oleh guru saja, tetapi juga membutuhkan peran serta orang tua, dan masyarakat lainnya.  Bullying bisa terjadi kapan pun, oleh siapa pun, dan di mana pun.  Kasus bullying (perundungan) menjadi kasus yang marak terjadi di sekolah-sekolah, sehingga diperlukan langkah pencegahan yang komprehensif.

Fakta empirik ketika penulis melakukan diskusi dengan beberapa siswa terkait bullying, siswa sangat antusias. Bahkan ketika penulis menemui langsung siswa yang terkena bullying, banyak hal yang unik. Siswa tidak serta merta baik korban maupun pelaku mau terbuka kepada guru. Umumnya siswa enggan untuk melaporkan kasus bullying kepada  guru.

Tidak heran ketika kita mendengar ada oknum guru yang dipidanakan karena diduga melakukan kekerasan kepada siswanya. Pasalnya, selama ini budaya hukuman sering dan terus dilakukan oleh guru. Dosa hukuman menjadi  ajang “balas dendam” guru kepada siswanya. Apakah cukup dengan  hukuman, kemudian siswa akan disiplin?

Kenyataan sekolah sudah menyusun tata tertib/aturan  sekolah. Karena selama ini peraturan sekolah hanya disusun sepihak oleh sekolah. Keterlibatan siswa nihil di sana. Sehingga efek yang muncul merupakan “pembangkangan” siswa terhadap sekolah. Kemudian muncullah bullying, kekerasan, dan sejenisnya.

Bullying dalam bahasa Indonesia bisa diartikan “penindasan/perisakan.” Lazimnya bullying merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan sengaja oleh satu atau kelompok orang yang lebih kuat  terhadap orang lain, bertujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus  (sudah dong.2015)

Teasing

Dalam kehidupan sosial sehari –hari, ada orang-orang yang jahil, saling usil, dan bercanda. Hal tersebut biasa disebut teasing. Bullying dan teasing sering terjadi di sekolah-sekolah. Bullying lebih menekankan kepada kekuasaan kekuatan yang membuat orang lain tersakiti, direndahkan, dan dilakukan berulang-ulang, sehingga ada dampak psikis maupun fisik.

Untuk itu, diperlukan tindakan dan penerapan disiplin positif  (dipo), terhadap siswa dan guru. Disiplin positif merupakan bentuk kegiatan pemahaman bersama yang terdiri atas konsekuensi logis, penguatan, dan dorongan positif. Ketiganya perlu dilakukan untuk mencegah kekerasan dan bullying di sekolah. Disiplin positif perlu diintegrasikan di dalam rencana dan pelaksanaan pembelajaran. Guru perlu menyusun disiplin positif sejak awal kegiatan pembelajaran.

Di dalam konsekuensi logis ada 4 pilar, yakni berhubungan (related), menghormati anak (respectful), logis (reasonable), dan dialogis. Jadi, apapun yang siswa lakukan ada dampak logisnya. Ada 2 bentuk konsekuensi, yakni  konsekuensi natural dan ada konsekuensi logis. Misalnya, anak tidak makan, maka dampak naturalnya si anak kelaparan.

Konsekuensi logis terjadi karena campur tangan dari orang lain. Misalnya, siswa yang membuang sampah sembarangan, maka konsekuensi logisnya, siswa harus membersihjan. Dalam setiap konsekuensi logis, siswa diberi pengertian bahwa apa yang dilakukannya berdampak kepada orang lain.

Keberhasilan kita dalam menerapkan konsekuensi logis sebagai unsur disiplin positif (dipo) antara lain: Pertama, kita harus mendesain untuk mengajarkan anak bahwa tindakan mereka tidak tepat. Jangan buat anak dalam suasan ketakutan.

Kedua, identifikasi bahwa konsekuensi yang diambil bukan kekerasan atau serangan pada anak. Guru dan orang tua harus mendampingi anak menjalani konsekuensi logis. Ketiga, guru tidak boleh menunjukkan kekuatan dan kekuasannya di depan siswanya. Keempat, menerapkan konsekuensi logis, jelaskan kepada siswa yang tepat dengan apa yang telah mereka lakukan. Misalnya ketika ada siswa memukul temannya, maka katakana “memukul orang lain tidak baik, karena akan menyakitinya,” dari pada mengatakan” kamu telah memukul dia .”

Kelima, jika konsekuesi logis ingin berhasil yakni harus dilakukan secara adil, wajar, jujur, dan dengan tenang. Sering guru karena kondisi psikologis tertentu, meluapkan amarahnya kepada siswa. Jadi, konsekuensi logis tidak berhasil karena menunggu mood guru. Selanjutnya jangan mengambil keputusan konsekuensi logis tanpa melibatkan siswa. Siswa perlu diajak untuk berdiskusi konsekuensi dari tindakannya. Terakhir, konsisten terhadap aturan dan kesepakatan yang dibuat. Semua pihak harus konsisten dalam menegakkan disiplin pisitif.

Langkah tersebut, kemudian dipraktikkan guru di awal tahun ajaran melalui kegiatan brainstorming (curah pendapat) dengan siswa secara terbuka di kelas. Dengan adanya keterbukaan, kesepakatan, dan keterlibatan siswa dalam membuat konsekuensi logis, maka bisa mengurangi kekerasan terhadap siswa di sekolah. Karena masing-masing pihak sudah ada kesepakatan dari awal. Jika disiplin positif ini berhasil, maka konsekuensi logis bisa dikembangkan, sehingga akan terbentuk control community atau kelompok pengontrol jika ada pelanggaran di kelas. Control community tersebut merupakan siswa yang telah muncul karakter pedulinya untuk mengurani kekerasan dan bullying di sekolah. Semoga. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Puasa, Wisata Pantura Tetap Buka

RADARSEMARANG.COM, BATANG - Kekhawatiran penikmat hiburan malam dan relaksasi yang tidak bisa menyalurkan hobi selama bulan puasa, tidak terbukti. Karena hiburan di Kabupaten Batang, masih...

Pesona Curug Gondoriyo Ngaliyan

SEMARANG - Temuan curug atau air terjun unik di RT 4 RW 4 Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang, belakangan ini ramai diperbincangkan di media sosial. Publik...

Eks BPP DKP Semarang Divonis 18 Bulan

MANYARAN – Terdakwa eks Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) DKP Semarang, yang terjerat kasus dugaan korupsi dana kegiatan pengelolaan taman dan ruang terbuka hijau (RTH)...

 Jalan Pantura Kendal Makin Parah

RADARSEMARANG.COM, KENDAL—Belum lama diperaiki, jalur Pantai Utara Jawa (Pantura) Kendal, rusak lagi. Bahkan kerusakan cukup parah. Pantauan di lapangan, lubang jalan terpantau mulai dari Kaliwungu,...

Siswa Kepo, Mengapa Tidak?

Oleh : Nur Rakhmat,S.Pd. “PAK sedang membaca apa?” tanya Sinta ketika saya yang sedang membaca buku pada waktu jeda istirahat di perpustakaan. Sebuah pertanyaan sederhana dari...

Akan Hapus Program Tidak Penting

BATANG-Untuk mewujudkan visi misi dan program kerja di era kepemimpinan Bupati Wihaji dan Wakil Bupati (Wabup) Suyono, program yang tidak penting akan dihapus. Sedangkan...