Keluarga Tolak Dhea Diotopsi

Kematian Calon Praja IPDN di Akpol

421
SELAMAT JALAN NAK: Ibu korban menangis saat menabur bunga di makam Dhea Rahma Amanda (RADAR LAMPUNG).
SELAMAT JALAN NAK: Ibu korban menangis saat menabur bunga di makam Dhea Rahma Amanda (RADAR LAMPUNG).

.”Ya, kami menerima, ini mungkin sudah ajal dan garisan takdir. Awalnya memang kami minta otopsi, tapi saya mendengar keterangan Gubenur Akpol dan IPDN bahwa tidak terjadi apa-apa.”

Edi Hanafia (Ayah Dhea Rahma Amanda)

SEMARANG- Pihak rumah sakit Bhayangkara Semarang batak melakukan otopsi terhadap jenazah calon praja (capra) Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Dhea Rahma Amanda, 17. Pasalnya, pihak keluarga Dhea menolak putrinya dilakukan otopsi. Orang tua Dhea juga sudah mengikhlaskan putrinya pergi untuk selamanya.

“Ya, otopsi tidak jadi dilakukan karena tidak diizinkan oleh orang tuanya sendiri,” ungkap Humas Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang Kombes Pol Aloysius Liliek Darmanto, Senin (2/9).

Liliek menjelaskan, pihak orangtua Dea lebih memilih membawa pulang jenazah putrinya ke rumah duka di Jalan Untung Suropati No 33B, Kelurahan Labuhan Ratu Raya, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung. Jenazah Dhea, Senin (2/10) sekitar pukul 04.00 dibawa ke Bandara Ahmad Yani, lalu diterbangkan ke Lampung. Calon Praja IPDN Tingkat I Angkatan 28 itu tiba di rumah duka pukul 11.00, Kemudian dikebumikan di Pemakaman Keluarga Jambat Bungai, Depan UBL.

Paman Dhea, Herniyanto, mengatakan, pihak keluarga memilih mengikhlaskan kepergian Dhea. Pihak keluarga mengurungkan niat untuk melakukan otopsi.”Kami dari keluarga sudah tak menginginkan adanya otopsi. Kami sudah ikhlas. Kasihan dengan almarhumah (Dhea),” ungkapnya.

Menurutnya, pihak keluarga tidak melihat adanya tindak kekerasan terhadap almarhumah. Alasan itulah yang melatarbelakangi pihak keluarga menerima kepergian Dhea untuk selama-lamanya. “Kemarin sore adik saya nelepon. Dia bilang setelah melihat almarhumah di rumah sakit, tidak ada tanda-tanda kekerasan. Tapi memang dulu almarhumah pernah sakit sesak napas dan sudah sembuh,” tuturnya.

Pantauan Radar Lampung (Jawa Pos Group) di rumah duka, ratusan pelayat menyambut jenazah di rumah duka. Tampak  Kapolresta Bandar Lampung Kombes Murbani Budi Pitono yang menunggu kedatangan almarhumah. Jenazah Dhea tiba di rumah duka sekitar pukul 10.50 menggunakan ambulans serta dilakukan upacara penyambutan.

Setelah sampai di rumah duka, tak lama kemudian jenazah dibawa ke Masjid Nurul Yaqin untuk disalati. Jenazah lantas dikembumikan di makam keluarga Jambat Bungai.

Edi Hanafia, ayah Dhea mengaku menerima kematian putri pertamanya saat mengikuti pendidikan dasar (Diksar)  IPDN.”Ya, kami menerima, ini mungkin sudah ajal dan garisan takdir. Awalnya memang kami minta otopsi, tapi saya mendengar keterangan Gubenur Akpol dan IPDN bahwa tidak terjadi apa-apa,” terangnya di sela pemakaman.

Menurutnya, Gubenur Akpol dan Gubenur IPDN menyaksikan langsung dan menyakinkan jika tidak terjadi apa-apa, semisal tindak kekerasan. “Jadi saya ikhlas dan membatalkan otopsi. Dulu memang waktu kecil pernah sesak nafas, dan sampai besarnya masih ada alergi,” terangnya.

Kepala Biro Administrasi Keprajaan IPDN Dr Andi Oni P MSi mengatakan, terkait kasus meninggalnya Dhea sudah dilakukan pemeriksaan sesuai SOP yang berlaku. “Hasilnya tidak ada apa-apa. Namun memang sebelumnya tidak sakit apa-apa,” terangnya seusai pemakaman.

Andi menegaskan, selama ini bukan berarti pihaknya tidak melakukan evaluasi. Setiap tahun, kata dia, IPDN selalu melakukan koreksi. “Seperti yang dikatakan oleh Gubenur IPDN bukan baru ada kejadian kita baru melakukan evaluasi, tetapi setiap pelaksanakan kegiatan yang berlangsung satu tahun sekali, kita selalu adakan evaluasi,” sebutnya.

Terkait pemeriksaan kesehatan, Kepala Biro ini mengatakan setiap praja melalui seleksi yang ketat, dari tingkat daerah hingga pusat. “Di daerah ada dua kali, hingga ke IPDN pun masih dilakukan tes kesehatan oleh Dinas TNI Angkatan Darat. Nah setelah itu pelaksanaan di Akpol,” lanjutnya.

Pihak Akpol, sambung dia, juga memiliki fasilitas kesehatan yang fungsinya untuk mengecek kesehatan para praja yang mengikuti pendidikan dasar. “Jadi selalu dilakukan pengecekan kepada setiap praja yang mengikuti Diksar Mendispra secara rutin. Terakhir kita ke sana kunjungan untuk memonitoring praja, yang bersangkutan (Dhea) tidak sakit,” tutupnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Dhea Rahma Amanda ditemukan meregang nyawa ketika mengikuti rangkaian latihan Diksar Mendispra di Lapangan Resimen Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, Minggu (1/10) pukul 08.15. Dhea Rahma merupakan calon praja asal kontingen Lampung. Dia calon praja kelahiran 9 Oktober 1999 silam. (pip/c1/sur/mha/aro)