31 C
Semarang
Rabu, 12 Mei 2021

Hendi: Sampah Sumbat Saluran, Biang Banjir

SEMARANGMemasuki  musim penghujan, bencana banjir dan rob kembali menghantui warga Kota Semarang, terutama di wilayah Semarang bagian timur. Namun Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi berkomitmen bahwa persoalan banjir dan rob di Kota Semarang harus tuntas.  Masalah banjir dan rob di Kota Semarang, menurut dia, dipengaruhi beberapa sebab.

“Kalau kemarin kering, berarti kita bisa mengatasi persoalan rob. Ternyata begitu hujan masih ada banjir dan genangan di mana-mana,” kata Hendi –sapaan akrab Hendrar Prihadi, kemarin.

Ada dua evaluasi, lanjut Hendi, pertama mengenai saluran-saluran kecil. Terutama di wilayah dataran tinggi Kota Semarang seharusnya tidak terjadi banjir dan rob. Tapi, ternyata cukup banyak terjadi banjir.

Nah, evaluasi kami lakukan. Pertama saluran tidak berfungsi dengan baik. Saluran tidak berfungsi dengan baik ini bisa karena mungkin ada pihak pengembang developer membangun perumahan, kemudian mereka tidak memberikan fasilitas umum yang baik. Terutama drainase. Airnya tidak bisa mengalir ke bawah,” ujarnya.

Kedua, ternyata meskipun salurannya sudah baik, terkadang air tidak bisa mengalir dengan lancar. “Itu berarti akibat sampah. Jalan Pahlawan kemarin sempat tergenang, kami turunkan tim dan ternyata akibat sampah. Termasuk di Jalan Majapahit karena sampah,” katanya.

Sedangkan evaluasi untuk wilayah timur, terutama di wilayah Kaligawe. Mengapa begitu hujan kemudian terjadi banjir, kata Hendi, ternyata memang belum didesain untuk pompa-pompa besar.

“Kami memiliki rencana project ini terus berkesinambungan, diteruskan dengan normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur. Kalau itu selesai, Banjir Kanal Timur akan selesai elevasinya. Air hujan juga bisa mengalir ke Banjir Kanal Timur. Hari ini, Banjir Kanal Timur belum dikerjakan. Nanti kalau sudah selesai, juga akan kami tambah pengadaan pompa-pompa besar,” ujarnya.

Kalau hari ini (kemarin) Semarang sudah mulai hujan, Hendi menyarankan agar masyarakat bisa bersama-sama memelihara lingkungan.  “Saluran, parit, sungai itu bukan tempat sampah. Kalau ditemukan sampah ya kerja bakti bersama. Kalau ditemukan drainase yang tidak berfungsi secara teknis. Nggak ada sampahnya, tapi kok airnya tidak bisa mengalir. Nah, itu pasti tidak berfungsi secara teknis. Informasikan kepada kami, nanti kami perbaiki,” ungkap dia.

Sekretaris Komisi C DPRD Kota Semarang, Wachid Nurmiyanto, mengatakan, penanganan banjir dan rob di Kota Semarang sejauh ini telah terlihat progres secara positif. Tetapi untuk mengatasi banjir dan rob sekarang ini perlu menyeluruh. Baik normalisasi sungai, normalisasi drainase hingga pembuatan polder-polder atau kolam retensi. “Coba lihat di Kali Tenggang bagian selatan, masih banyak sungai yang menyempit. Masih banyak yang belum normal,” katanya.

Hal yang tidak kalah penting adalah sistem penataan drainase. Salah satu contoh adalah sistem drainase di wilayah Kelurahan Muktiharjo, terutama mulai Jalan Raya Kaligawe masuk di tepi rel kereta api menuju Kelurahan Muktiharjo. Bahkan sejak bertahun-tahun silam kondisi jalan tersebut meski sudah ditinggikan tetap saja tergenang rob hingga sekarang.

“Kami melihat banyak titik sirkulasi drainase terutama di Semarang Utara dan Semarang Timur terganggu. Bahkan antara tanah dengan airnya sudah tinggi airnya, maka air rob meluber,” ujarnya.

Menurutnya, perawatan drainase di Kota Semarang harus mendapatkan perhatian serius. Baik penanganan yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang.

“Jalan Kaligawe menuju Kelurahan Muktiharjo yang masih rob setiap hari, semestinya mendapat penanganan mendesak. Tanggul-tanggul drainase perlu dilakukan penanganan. Terjadinya rob, salah satunya karena sistem drainasenya tidak berfungsi normal,” katanya. (amu/aro)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here