Calon Praja IPDN Tewas di Akpol

Saat Mengikuti Diksarmendispra

892
KETERANGAN PERS: Gubernur Akpol Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel (kiri) bersama Gubernur IPDN Ermaya Suradinata memberikan keterangan pers di Masjid RS Bhayangkara, Minggu (1/10). (Kanan) Dhea Rahma Amanda (AFIATI TSALATSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
KETERANGAN PERS: Gubernur Akpol Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel (kiri) bersama Gubernur IPDN Ermaya Suradinata memberikan keterangan pers di Masjid RS Bhayangkara, Minggu (1/10). (Kanan) Dhea Rahma Amanda (AFIATI TSALATSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG – Seorang calon praja Institut Pemeritahan Dalam Negeri (IPDN) tewas saat mengikuti Pendidikan Dasar Mental Disiplin Praja (Diksarmendispra) di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang. Dhea Rahma Amanda, 17, menemui ajal usai melaksanakan lari pagi, sekitar pukul 07.40.

Calon praja dari Provinsi Lampung tersebut jatuh usai melaksanakan lari di lapangan Resimen Akpol. Korban kemudian dibawa ke RS Akpol untuk mendapat pertolongan pertama. Namun setelah 30 menit dilakukan tindakan resusitasi (RJP), Dhea dinyatakan meninggal pukul 08.15.

“Pengakuan ke teman-temanya sesak napas, gejalanya ada. Setelah makan dia bilang ke temannya kalau perut dia agak kenyang. Kemudian muter satu dua kali, tidak ada yang berlebihan dan prosedur juga sudah ditempuh,” ungkap Gubernur IPDN, Ermaya Suradinata di RS Bhayangkara Semarang, Minggu (1/10).

Dhea Rahma Amanda
Dhea Rahma Amanda

Korban kemudian dibawa ke RS Bhayangkara untuk dilakukan otopsi luar. Sementara itu, pihak keluarga korban di Lampung juga telah diberitahu dan langsung menuju Semarang. Nantinya setelah mendapatkan izin keluarga, akan dilakukan otopsi lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti meninggalnya calon praja IPDN tersebut.

Ermaya menjelaskan, pemeriksaan kesehatan sebelumnya sudah dilakukan kepada calon praja lainnya. Bahkan sudah dua kali, yakni pada calon praja tingkat daerah dan pusat. Sebelum dimulai kegiatan latihan pun, pihak Akpol telah melakukan pemeriksaan luar.

“Jadi, pemeriksaan di daerah itu kerja sama dengan Rumah Sakit Angkatan Darat , ada yang angkatan Laut. Kemudian lebih lengkapnya di pusat dengan teknologi canggih, hasilnya juga baik,” papar Ermaya.

Menurutnya, tahapan Laksar yang digelar bersama pihak Akpol selama ini sudah memenuhi standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Ermaya mengatakan Laksar 2017 merupakan tahun ketiga yang digelar bersama Akpol. Itu, lanjutnya, merupakan program Diksar Mendik.

“Itu latihan buat Diksar Mendik. Sudah dua angkatan berjalan baik, makanya tahun ini kita gelar lagi selama sebulan terakhir,” katanya.

Gubernur Akpol, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, mengatakan, kondisi Dhea semula masih sehat saat mengikuti latihan dasar di Lapangan Resimen. Awalnya, Dea bersama rekan-rekannya bangun pagi pukul 04.00 untuk mengikuti salat berjamaah dan pengajian.

“Dia (korban) juga masih ikut makan bersama lalu dilanjutkan apel pagi pukul 07.45. Setelah itu, almarhumah mengambil kegiatan fisik dengan lari satu putaran,” terangnya.

Tetapi, saat diminta berbaris untuk merapat ke setiap kelas, Dea tiba-tiba terjatuh dan tak sadarkan diri.  Ia mengaku turut berduka cita atas meninggalnya Dea. Padahal, rangkaian diksar di Akpol yang dimulai sejak 9 September, akan berakhir pada 6 Oktober mendatang.

“Makanya kita ingin tahu jejak rekam medisnya di IPDN. Yang jelas tidak ditemukan kekerasan fisik karena Laksar Praja putri dipisah dengan putra,” ujar Rycko.

Seperti diketahui, Diksarmendispra bagi para calon praja di Akpol tersebut adalah yang ketiga kalinya. Sebanyak 1.545 capraja menjadi peserta dalam diksar yang merupakan program arahan dari KemenpanRB ini. (tsa/aro)