32 C
Semarang
Selasa, 22 Juni 2021

Sekolah Perlu Wujudkan Pendidikan Keluarga

KEBERHASILAN sebuah pendidikan bukan hanya terletak pada kualitas guru, kualitas peserta didik, kelengkapan sarana penunjang, tetapi juga dukungan dari orang tua siswa. Untuk itu, melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 11 Tahun 2015 pemerintah telah membentuk Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga. Hal ini dilakukan sebagai upaya peningkatan kemitraan antara keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat (tri pusat pendidikan).

Akhir-akhir ini kita sering disuguhi dengan aneka berita dalam dunia pendidikan terkait kasus-kasus yang di sekolah. Kasus tersebut  melibatkan siswa, guru dan orangtua siswa ke ranah hukum. Hal tersebut terjadi karena miskomunikasi antara siswa dengan guru,  juga pihak sekolah dan orangtua. Sebenarnya hal ini tak perlu terjadi apabila semua pihak mengantisipasi sejak dini. Antisipasi dapat dilakukan baik oleh orangtua siswa maupun pihak sekolah sejak awal siswa memasuki sekolah.

Untuk menumbuhkan kerja sama yang baik antara sekolah dengan orang tua, diperlukan langkah yang jelas. Sejalan dengan pendidikan keluarga (pendikel), maka peran orang tua di sekolah sangat diharapkan. Orang tua dan sekolah menjalin hubungan yang terbuka, saling mengisi, tanpa tendensi dan gotong royong.

Untuk itu, sekolah perlu melakukan langkah antara lain: pertama, mewajibkan orang tua peserta didik baru untuk mengantar sekolah bagi putra-putrinya ke sekolah. Perhatian pertama orang tua ketika mengantar dan menunggui anaknya di sekolah, menjadi bentuk pendidikan yang sebenarnya diberikan orang tua kepada anaknya. Di sinilah dibangun iklim yang hangat antara orangtua dan pihak sekolah. Orang tua yang hadir dikenalkan dengan program-program sekolah, lingkungan sekolah, guru-guru dan juga karyawan.

Kedua, yakni dengan membentuk paguyuban orang tua. Paguyuban yang ada dikoordinasi dan dikelola oleh orang tua serta dimanfaatkan bersama untuk mendukung kemajuan peserta didik dan sekolah. Bahkan bentuk paguyuban bisa menggunakan media sosial dengan grup medsos, sehingga mempermudah komunikasi antara orangtua dengan sekolah.

Dengan paguyuban ini, maka masalah-masalah yang timbul dapat diminimalisasi. Sehingga jika  masalah muncul, maka orang tua akan segera cepat merespons, menganalisis,  dan mengkonfirmasi kepada pihak sekolah. Hasilnya masalah yang muncul  bisa cepat diselesaikan.

Kelas Inspirasi

Ketiga, dengan membentuk Kelas Inspirasi yang disebut sekolah orang tua (parenting school). Bentuk kelas ini dapat dijadikan alternatif dalam mengurai masalah pendidikan keluarga di sekolah. Dalam kelas ini dapat dihadirkan narasumber yang berasal dari kalangan orangtua siswa atau alumni yang sukses dalam mendidik putra-putrinya. Kehadiran mereka akan mampu menginspirasi bagi orang tua lainnya dalam memberikan pengasuhan positif bagi putra-putrinya. Sedang kelas parenting dapat dikhususkan bagi orangtua yang jarang hadir ke sekolah atau yang putra-putrinya mengalami masalah di sekolah.

Melalui parenting school, orang tua bisa memperoleh pendidikan keilmuan secara langsung dari pakar. Beberapa materi yang bisa dibahas melalui parenting school, antara lain mengenai psikis anak, fisiologis remaja, dan sebagainya. Melalui pola parenting school di sekolah, maka kerjasama membina anak bukan semata tanggungjawab sekolah. Orangtua hadir secara langsung, karena kepedulian orangtua di sekolah menjadi bentuk jalinan harmonisasi yang mampu menjadi stimulus positif bagi anak.

Langkah keempat,  untuk mengapresiasi prestasi, karya, dan karsa siswa sekolah dapat menyelenggarakan kegiatan pentas seni dan karya siswa yang diselenggarakan satu tahun sekali. Dalam kegiatan ini orang tua perlu dilibatkan. Ketika siswa menampilkan karya dan seni, orang tua dapat berpartisipasi membeli produk siswa. Kondisi ini akan memunculkan rasa senang dan bangga bagi siswa karena hasil karyanya dihargai.  Hal ini menumbuhkan semangat wirausaha dan percaya diri bagi siswa. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Izzo dkk, 1999 (dalam American Journal of Community Psychology, 27 (6)), yang menunjukan bahwa ketika orang tua dan sekolah berkolaborasi secara efektif, siswa dapat berperilaku dan menunjukkan prestasi yang lebih baik di sekolah. Selain itu, harapan pemerintah bahwa kemitraan antara orang tua dan sekolah diperuntukkan bagi terbangunnya ekosistem pendidikan yang menumbuhkan karakter dan budaya prestasi dapat segera terealisasi. Selain itu, keberhasilan pendidikan karakter akan mudah tercapai untuk generasi milenial. (*/aro)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here