Oleh : Ardan Sirodjuddin
Oleh : Ardan Sirodjuddin

KONTROVERSI tentang rencana pembelian 5.000 pucuk senjata oleh institusi di luar TNI Polri yang dilontarkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo atau pro kontra pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI ramai dibicarakan oleh masyarakat ternyata bukan menjadi bahasan yang menarik di kalangan siswa. Simpulan ini saya dapat ketika masalah tersebut dilontarkan ke siswa. Dua jawaban yang menonjol, yakni tidak tahu dan tidak mau tahu. Sebetulnya saya ingin mengukur seberapa jauh daya kritis siswa terhadap masalah-masalah yang sedang ramai di masyarakat. Keinginan saya ternyata harus saya kubur dalam-dalam. Sifat kritis siswa seakan sudah menguap dan menjadi barang yang langka.

Pertanyaannya adalah mengapa siswa seumuran anak SMA/SMK sudah hilang daya kritisnya? Ada dua jawaban yang bisa digali. Pertama, kebiasaan menonton televisi, dan yang kedua adalah kecanduan bermain game. Hasil kajian Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, misalnya, mencatat, rata-rata anak usia sekolah dasar menonton televisi antara 30-35 jam setiap minggu. Artinya pada hari-hari biasa mereka menonton tayangan televisi lebih dari 4-5 jam sehari. Sementara di hari Minggu bisa 7-8 jam. Jika rata-rata 4 jam sehari, berarti setahun sekitar 1.400 jam, atau 18 ribu jam sampai seorang anak lulus SLTA. Tayang televisi dengan konten hiburan menjadi favorit anak-anak. Sedangkan game menawarkan berbagai fitur dan aneka macam permainan menarik dan menghibur yang membuat anak senang dan ketagihan untuk selalu memainkannya.

Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan yang penting untuk dimiliki siswa agar dapat memecahkan persoalan yang dihadapi dalam dunia yang senantiasa berubah. Dengan demikian, pengembangan kemampuan berpikir kritis merupakan hal yang penting untuk dilakukan dan perlu dilatihkan pada siswa mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai jenjang pendidikan menengah.

Facione dalam Filsaime mengungkapkan empat kecakapan berpikir kritis utama yang terlibat di dalam proses berpikir kritis. Pertama,  Interpretasi adalah memahami dan mengekspresikan makna atau signifikansi dari berbagai macam pengalaman, situasi, data, kejadian- kejadian, penilaian, kebiasaan atau adat, kepercayaan, aturan, prosedur atau kriteria. Kedua, Analisis adalah mengidentifikasi hubungan-hubungan inferensial yang dimaksud dan aktual diantara pernyataan, pertanyaan, konsep, deskripsi atau bentuk representasi lainnya yang dimaksudkan untuk mengekspresikan kepercayaan, penilaian, pengalaman, alasan, informasi atau opini. Ketiga, Evaluasi berarti menaksir kredibilitas pernyataan atau representasi yang merupakan laporan-laporan atau deskripsi-deskripsi dari persepsi, pengalaman, situasi, penilaian, kepercayaan atau opini seseorang, dan menaksir kekuatan logis dari hubungan inferensial. Keempat, Inferensi berarti mengidentifikasi dan memperoleh unsur-unsur yang diperlukan untuk membuat kesimpulan yang masuk akal, membuat dugaan dan hipotesis, mempertimbangkan informasi yang relevan dan menyimpulkan konsekuensi dari data, situasi, pertanyaan atau bentuk representasi lainya.

Pembelajaran siswa untuk berpikir kritis di sekolah mengalami hambatan yang besar. Pemberlakuan Kurikulum K 13 dengan mengedepankan langkah ilmiah ternyata belum sesuai dengan harapan. Model belajar discover learning, problem based learning dan Project Based Learning belum mulus dalam proses belajar mengajar di kelas. Metode diskusi terasa kurang greget dan nyaris tanpa ada adu pendapat.

Peran Orang Tua

Lantas siapa yang bisa meningkatkan daya kritis siswa? Jawaban yang logis adalah keluarga. Keluarga adalah tempat lahirnya benih generasi berkarakter dan sekolah adalah tempat tumbuh kembangnya generasi tersebut. Peran orang tua sebagai pendidik di rumah penting dalam mengiringi masa tumbuh kembang anak.

Komunikasi yang efektif di dalam keluarga akan menimbulkan energi positif yang mempengaruhi suasana rumah. Anak yang tumbuh dengan komunikasi efektif akan tumbuh menjadi anak/remaja/orang dewasa yang percaya diri, pendengar yang baik, dan mampu mengendalikan diri baik di rumah maupun di luar rumah. Orang tua bisa meluangkan waktu satu jam untuk berbincang masalah-masalah yang terjadi di masyarakat dengan anaknya. Perbincangan ini pelan tapi pasti akan mendorong kemampuan anak berpendapat.

Ketika muncul berita di televisi tentang suatu permasalahan maka kembangkanlah diskusi dengan anak tentang berita tersebut. Pancing anak untuk memberikan komentar sedikit demi sedikit. Saya yakin ketika diskusi ini terus berkembang maka daya kritis anak akan terus tumbuh. Sejarah mencatat bahwa negara ini dibangun oleh orang-orang yang kritis. Tentu sebagai generasi muda, si anak akan memegang tongkat estafet pembangunan. (*/aro)