32 C
Semarang
Sabtu, 19 Juni 2021

20 Tahun Berjuang Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Muh Zen Adv sudah mengabdikan diri selama 20 tahun untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan di Jawa Tengah. Semua itu dilakukan tanpa pamrih dan semata-mata hanya ingin berkontribusi dalam meningkatkan dan membekali sumber daya manusia (SDM) dengan pendidikan yang layak. Jika tingkat pendidikan tinggi, jelas akan menjadi bekal utama untuk memperbaiki kualitas hidup dan memajukan Jawa Tengah.

“Pendidikan itu kunci mewujdukan dan memajukan taraf hidup keluarga, dan tentunya masa depan daerah. Dengan pendidikan bagus, jelas akan memberikan kontribusi yang nyata,” katanya, kemarin.

Alumnus UIN Walisongo ini sudah terjun ke dunia pendidikan sejak tahun 1997 silam. Awalnya ia tidak memiliki background mengajar, sebab masuk di Fakultas Syariah. Tetapi karena aktifitasnya lebih banyak dihabiskan di Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) Jateng, ia mulai terpanggil untuk terjun dan berkontribusi di bidang pendidikan.

Semua itu, tidak terlepas dari kenyataan masih banyaknya anak-anak di Jateng yang belum mendapatkan pendidikan yang layak. Padahal, Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan, jika pendidikan merupakan urusan wajib dan harus menjadi perioritas pemerintah.

“Dari situ saya mulai terjun ke dunia pendidikan. Dulu megajar Pendidikan Agama Islam di SMP-SMA Nusa Putra Guru  dan sejumlah sekolah lain,” ujarnya.

Setelah terjun langsung menjadi pendidik, Zen mengaku semakin terenyuh melihat kondisi pendidikan di Jawa Tengah. Iapun semakin membulatkan tekat untuk berkontribusi dan ikut memperbaiki pendidikan generasi muda. Atas dukungan sejumlah pihak, iapun semakin aktif di Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama Jateng. Dengan begitu, keinginanya untuk berkontribusi dalam dunia pendidikan semakin maksimal.

“LP Ma’arif kan memang konsennya di dunia pendidikan, jadi saya bisa lebih mengeksplor kemampuan di bidang itu,” akunya.

Keinginannya untuk bergabung di LP Ma’arif NU Jateng bukan tanpa alasan. Selain agar bisa berkontribusi dalam pendidikan, ia menilai pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif memiliki kelebihan dibandingkan dengan pendidikan di sekolah formal lainnya. Saat ini saja, di Jateng tercatat ada sekitar 17 ribu sekolah di bawah LP Ma’arif NU. Mulai dari SD/MI sampai SMA/MA yang murni dibawah LP Ma’arif atau yang dibawah yayasan dan koordinasi dengan LP Ma’arif.

“Di sekolah-sekolah Ma’arif pendidikan agama lebih banyak jamnya dibandingkan dengan sekolah formal lain. Ini merupakan salah satu nilai lebih untuk mengembangkan pendidikan karakter secara utuh,” tutunya.

Komitmen Zen untuk meningkatkan kualitas pendidikan semakin besar ketika ia didapuk menjadi pengurus lembaga pendidikan di Jateng. Mulai dari Ketua PGSI Jateng (2006-Sekarang); Dewan Penasehat Pergunu Jateng (2014-sekarang); Dewan Pembina PGSI Pusat ; Dewan Pembina FKDT; Pengrus LPTQ Jateng; sampai menjadi Pengurus PW LP Ma’arif Jateng (2006-seakarang).

“Jabatan ini jelas amanah dan membutuhkan tanggung jawab besar. Tapi InsyaAllah saya yakin bisa amanah karena semua mendukung,” tegasnya.

Meski sudah puluhan tahun bergelut di dunia pendidikan, ia mengaku di Jateng masih belum banyak perubahan yang menggembirakan. Meski begitu, prestasi sekolah-sekolah di Jateng sudah mulai menunjukan kemajuan pesat. Tetapi dibalik semua itu, ia tetap mengaku prihatin dengan sikap pemerintah pusat, pemprov maupun kabupaten/kota yang masih menganaktirikan sekolah-sekolah swasta. Sudah rahasia umum, kesenjangan anggaran dan sarana prasana dengan sekolah negeri sangat berbeda jauh.

“Ini yang akan terus saya perjuangkan, jangan sampai ada dikotomi atau menganaktirikan sekolah swasta. Bagaimanapun juga swasta memiliki peran penting untuk mengembangkan pendidikan di Jateng,” tegasnya.

Zen bahkan terus menyuarakan agar pemerintah benar-benar merealiasikan anggaan pendidikan sebesar 20 persen baik dari APBN, APBD provinsi maupun kabupaten/kota. Kekuatannya untuk menyuarakan suara rakyat semakin besar mengingat saat ini duduk sebagai Anggota Komisi E DPRD Jateng (2009-2014; 2014-2019).

“Saya optimis jika anggaran 20 persen benar-benar direalisasikan, pasti tidak akan ada anak yang putus sekolah di Jateng sampai tingkat SMA. Ini membutuhkan komitmen dari pemprov apalagi pasca adanya pengambilalihan kewenangan SMA/MA di Jateng. Sebagai wakil rakyat saya akan terus memperjuangkannya,” ucapnya.

Alasan lain, pendidikan merupakan urusan wajib yang harus didulukan oleh pemerintah. Jadi jangan sampai ada kebijakan yang main-main atau anggaran yang minim untuk pendidikan. Lebih baik membesarkan anggaran pendidikan untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia (SDM) dan meningkatkan skill generasi muda di Jateng. “Kalau SDM bagus, pasti Jateng akan lebih maju dan kesejahteraan meningkat. Itu lebih penting karena sesuai dengan amanah Undang-Undang,” katanya.

Politisi PKB ini mengaku akan terus menggelorakan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Jateng melalui pendidikan. Salah satu yang harus dilakukan, adalah mendorong pemprov maupun kabupaten kota untuk berkomitmen ikut andil di dalamnya. Karena selama ini masyarakat juga sudah banyak yang secara totalitas terlibat untuk pendidikan di Jateng. Terbukti dengan banyak sekolah-sekolah swasta yang terus bertahan dan berkontribusi dalam pendidikan.

“Masyarakat sudah ikut terlibat, jadi tinggal menunggu komitmen pemeritah. Jangan sampai pendidikan di Jateng terus menurun kualitasnya karena pemerintah terkesan membedakan antara sekolah swasta dan negeri,” harapnya. (fth/zal)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here