33 C
Semarang
Jumat, 7 Agustus 2020

Warga Kesulitan Pesan Makan

Dampak Ojek Online Berhenti Operasi

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

MAGELANG – Usai mogoknya angkutan umum dan angkutan taksi di Kota Magelang, pengemudi ojek online meliburkan diri atau tidak melayani order. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menciptakan suasana kondusif menyusul adanya dugaan pemukulan terhadap pengemudi ojek online.

Salah satu koordinator pengurus paguyuban pengemudi Go-Jek, Dwi Yoko, 35, warga Banyuurip Tegalrejo, saat ditemui Jumat (29/9), membenarkan adanya kasus pemukulan terhadap salah satu pengemudi Go-Jek di depan Giant Pakelan, Kamis (28/9) siang. “Saat ini sedang diproses pelaporan kepada pihak kepolisian karena ranahnya sudah ke hukum. Untuk mengantisipasi hal lainnya, kami paguyuban dan manajemen Go-Jek menyarankan agar para driver untuk tidak ready mengambil orderan. Namun ini hanya sebagai imbauan saja kepada seluruh driver,” papar Dwi.

Dijelaskannya, langkah ini sebagai upaya dari pihaknya untuk menjaga suasana agar kondusif dan menghindarkan kejadian lainnya. Selain itu, pihaknya dan manajemen tidak memaksakan agar para pengemudi untuk libur hingga waktu yang tidak ditentukan dalam mengambil orderan. “Jika pun memang karena mata pencariannya dari ojek online, kami mempersilakan untuk ready ambil orderan. Yang terpenting, saran kami agar driver untuk sementara tidak menggunakan atribut saja,” jelasnya. Dari sekitar 900 pengemudi, hanya sekitar 20 orang yang kemarin aktif melayani konsumen.

Dwi memastikan, seluruh pengemudi Go-Jek akan tetap sabar dan menunggu itikad baik dari Pemkot Magelang menyikapi kebijakan yang akan dikeluarkan. Jika memang rekomendasi dari Pemkot Magelang sama sekali tidak ada ojek online di Kota Magelang, Dwi memastikan pihaknya siap menerima keputusan tersebut. “Asalkan pemerintah punya solusi untuk para driver yang memang mencari nafkah dari ojek online, jika setelahnya mereka tidak menjadi driver ojek online. Kebijakan Pemkot jangan sampai berat sebelah. Untuk diingat oleh Pemkot Magelang, dari sekitar 900-an lebih driver ojek online, sekitar 50 persennya adalah warga Kota Magelang yang menggantungkan hidupnya,” papar Dwi.

Penurunan pendapatan diakui pengemudi ojek online dari Grab, Angga Eka, 22, warga Perum Depkes Kota Magelang. Ia mengaku, pendapatan sebagai pengemudi ojek online menurun karena terpaksa membatalkan atau tidak mengambil orderan. “Saya juga terpaksa tidak memakai atribut, hanya memakai jaket biasa untuk menghindarkan gesekan. Saya juga sebisa mungkin tidak mengambil semua orderan karena memang harus berhati-hati juga dengan kondisi sekarang. Harapan kami, kebijakan pemkot bisa menyejukkan atau memberi solusi bagi kami juga,” harap Angga.

Minimnya orderan dari jasa ojek online dirasakan pula oleh pemilik usaha Ayam Geprek Babak Belur di Nambangan Kota Magelang, Bayu Setyawan, 34. Bayu mengaku, sebelum masuk sebagai menu pilihan di jasa ojek online untuk makanan, ia hanya mampu mengantongi laba Rp 1-2 juta per bulan. “Setelah bergabung dengan jasa antar makanan di ojek online, pendapatan saya bisa mencapai Rp 4 juta dan bisa mengangkat karyawan. Sudah dua hari ini, rumah makan saya sepi karena saat saya tanya sama rekan ojek online, mereka katanya berhenti operasi sementara. Infonya hanya sekitar 20-an orang yang aktif mengambil orderan,” papar ayah dua anak tersebut.

Kesulitan memesan jasa antar makanan dikeluhkan oleh Ana Fitri, 30, warga Kedungsari, Kota Magelang. Ia mengaku, sudah dua hari ini sulit untuk memesan makanan pada layanan ojek online. “Ketika saya sedang ada kerja lemburan, biasanya memesan makanan, tanpa harus keluar. Sekarang ini sulit untuk pesan. Kemarin pas ada lembur dan pesan makanan malah banyak driver yang tidak respon. Terpaksa hujan-hujanan keluar membeli makanan sendiri,” ujar ibu satu anak tersebut.

Pengurus paguyuban pengemudi Go-Jek lainnya, Lani Tarmanto, 32, warga Karet, Jurangombo, mengaku sangat bingung dengan kondisi yang saat ini dianggap lebih memihak kepada angkutan kota dan taksi konvensional. Pasalnya, ia terpaksa membatalkan dan tidak mengambil orderan dari konsumen. “Dua hari ini saya sudah meng-cancel atau tidak mengambil orderan sekitar 15 konsumen. Terus terang saya kehilangan pendapatan. Biasanya dalam sebulan dari driver bisa meraih Rp 900.000 per bulan. Padahal saya harus menghidupi istri saya yang hanya menjadi guru honorer dengan gaji hanya Rp. 300.000 per bulannya,” kata Lani.

Menurut Lani, sebenarnya bukan layanan Go-Ride atau layanan antar jemput penumpang yang mendominasi tetapi layanan Go-Food atau jasa antar makanan. “Jadi dari total pesanan di ojek online kami, justru didominasi pemesanan antar makanan, ya porsinya 80 persen, sedangkan penumpang hanya 20 persen,” papar Lani. (cr3/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Bupati Sampaikan Penjelasan 5 Rancangan Peraturan Daerah

RADARSEMARANG.COM, WONOSOBO – Bupati Wonosobo Eko Purnomo menyampaikan penjelasan 5 Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pemerintah Kabupaten Wonosobo Rabu (7/3) kemarin. Raperda disampaikan dalam rapat paripurna...

30 Pemandu Karaoke Terjaring Razia

SEMARANG - Sejumlah tempat hiburan malam dan karaoke liar dirazia aparat gabungan Satpol PP Kota Semarang bersama aparat Polrestabes Semarang dan TNI. Dalam razia...

Suka Sosok Batman

RADARSEMARANG.COM - SOSOK Batman memberikan daya tarik tersendiri bagi Dhinda Kharismaningtyas. Sejak SMA, gadis kelahiran Semarang, 7 Juni 1994 ini mulai jatuh cinta pada...

Layani Kebutuhan Fisioterapi Masyarakat

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Jika BPJS Kesehatan tak lagi menjamin layanan fisioterapi, maka Stikes Widya Husada (WH) Semarang kini membuka klinik pendidikan fisioterapi bagi masyarakat umum. Layanan...

Telkom Optimistis Lampaui Target

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) terus memperkuat mesin pertumbuhan baru, salah satunya melalui layanan fixed broadband IndiHome. Kini, jumlah pelanggan IndiHome mencatat...

Renovasi Jatidiri Tak Sesuai Harapan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Grand design renovasi Jatidiri dipastikan berubah. Yang paling mencolok adalah wisma atlet Pusat Pendidikan Latihan Olahraga Pelajar (PPLOP). Awalnya, wisma atlet...