33 C
Semarang
Minggu, 27 September 2020

Modal dari Tabungan, Omzet Rp 1 Juta per Hari

Dua Mahasiswa Rintis Bisnis Kuliner Bola Ubi Kopong “Bobipong”

Baca yang Lain

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak...

Saat ini, Ricky Sanjaya dan Kevin Dendy tengah menimba ilmu di Jakarta. Namun sejak awal tahun ini, ia membuka bisnis kuliner bola ubi kopong atau Bobipong di kota kelahirannya, Semarang. Seperti apa?

YOBELTA KRISTI AYUNINGTYAS

MERINTIS bisnis baru yang produknya masih belum familiar di masyarakat memang tidak mudah. Ditambah lagi bisnis tersebut harus dikelola secara jarak jauh oleh dua mahasiswa ini, Ricky Sanjaya, 21, yang mengambil studi di Universitas Multimedia Nusantara Jakarta, dan Kevin Dendy, 21, yang kuliah di Universitas Pelita Harapan Jakarta. Dua pemuda Semarang ini nekat merintis bisnis kuliner camilan bola ubi di kota kelahiran mereka meski secara fisik keduanya banyak menghabiskan waktu di Ibu Kota.

“Awalnya, kami sempat mengalami kesulitan dalam membagi waktu antara ngurus usaha ini sama kuliah. Tapi seiring berjalannya waktu, kami sudah mulai bisa ngebagi waktunya, karena dua-duanya harus berjalan seimbang,” ujar Ricky kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Bisnis camilan bola ubi yang diberi nama Bobipong atau bola ubi kopong itu dirintis sejak 2 Juni 2017 lalu. Meski selama ini makanan olahan ubi masih dianggap sebelah mata oleh penikmat kuliner usia muda, namun keduanya optimistis bisnis tersebut bisa berkembang. Sebab, ubi yang semula terkesan tradisional tersebut berhasil disulap menjadi bola ubi kopong yang lebih kekinian.

“Ide awal bikin Bobipong itu karena melihat tren yang ada di pasaran anak muda, khususnya di daerah Jakarta dan Bandung, terus kepikiran deh untuk mencoba usaha ini dan membukanya di Semarang. Karena di Semarang belum ada, makanya berani coba untuk membuka bisnis ini,” papar Ricky.

Saat ditanya modal awal usaha mereka dari mana, keduanya kompak menjawab, “Dari tabungan masing-masing.”

Setelah tabungan dikumpulkan, barulah mereka kembali ke kampung halaman untuk memberanikan diri membuka bisnis Bobipong.  Bisnisnya itu hanya buka setiap Jumat hingga Minggu malam di Pasar Semawis, kawasan Pecinan. Untuk pengelolaannya, karena Dendy dan Ricky kuliah di Jakarta, keduanya meminta bantuan kepada orang tua masing-masing untuk ikut mengelola bisnis ini saat mereka tidak sempat pulang ke Semarang.

“Tapi tetap kok, kita pasti sempatkan waktu untuk pulang ke Semarang demi maintain secara langsung usaha ini,” tambah Dendy.

Meski terbilang masih cukup baru di dunia kuliner Semarang, Ricky dan Dendy tetap optimistis untuk terus mengembangkan bisnisnya yang hingga kini per hari bisa meraup omzet sebesar Rp 1 juta.

“Ke depannya, kita ingin membuka beberapa stand lagi di daerah lain di Semarang. Selain itu juga membuka frenchise bagi yang berminat untuk menjalani usaha ini,” ujar Ricky.

Memanfaatkan kemajuan teknologi, promosi Bobipong gencar dilakukan melalui sosial media, khususnya Instagram.

“Iya, kalau promosi kami tetap mengandalkan apa yang dekat dengan anak muda, apalagi kalau bukan lewat Instagram. Terus sama promosi dari mulut ke mulut sih, dengan mengajak keluarga atau teman-teman dulu untuk mencicipi produk kami,” katanya.

Menurut keduanya, keunikan Bobipong dari jenis camilan lainnya terletak pada bentuknya yang sederhana, bulat meneyerupai tahu bulat, namun berbahan dasar ubi. Di tengah ramainya camilan-camilan saat ini yang berbahan dasar kentang ataupun martabak manis dengan topping aneka rasa, Bobipong hadir sebagai alternatif makanan olahan ubi yang simple, tidak repot untuk dimakan karena bisa sekali gigit, dan yang pasti, terasa nikmat di lidah dengan rasa manisnya.

Ditanya kiat usahanya hingga tetap bisa bertahan, Ricky menyebutkan yang penting tetap mempertahankan cita rasa agar tidak berubah dan disukai oleh customer.  (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...

Setuju BTP

BTP kini sudah menjadi ''orang dalam" BUMN. Posisinya bisa dibilang menentukan, bisa dibilang kejepit. Tergantung pemegang sahamnya. Secara resmi pemegang saham BUMN itu adalah Menteri Keuangan....

Artikel yang Lain

- Advertisement -

Populer

Semarang 10K, Cetak Atlet Sekaligus Kenalkan Wisata 

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang akan mengadakan event lari 10K pada 16 Desember 2018 mendatang. Rencananya kegiatan tersebut akan menjadi agenda tahunan. Selain...

Apersepsi, Pembangkit Motivasi Dan Minat Siswa

RADARSEMARANG.COM - DARI tahun pelajaran 2016/2017 sampai dengan saat ini, terdapat kebijakan baru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)....

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak,...

Headline Radar Semarang Terbaik se-Jawa Pos Group

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Jawa Pos Radar Semarang meraih penghargaan bergengsi dalam Kompetisi Product Quality Jawa Pos Group 2017-2018. Headline Jawa Pos Radar Semarang berjudul “Pabrik Pil...

Sport Center Bisa Tingkatkan Prestasi

SEMARANG - DPRD meminta agar Pemprov dan kabupaten/kota lebih serius menggarap potensi atlet di Jateng. Salah satunya dengan meningkatkan dan menambah keberadaan pusat olahraga...

Jateng Bantu Rohingya Rp 256 Juta

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Pemprov Jateng menyerahkan bantuan yang dihimpun dari masyarakat dan berbagai lembaga di Jateng, untuk masyarakat Rohingya Myanmar. Yakni, berupa uang tunai sebesar Rp...