31 C
Semarang
Sabtu, 21 November 2020

Pelanggar Tanpa Pelat Nomor Sulit Diusut

Pemberlakuan E-Tilang CCTV

Menarik

Semut Raksasa

RADARSEMARANG.COM-DUNIA tidak jadi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa satu perusahaan mendapat suntikan dana sebanyak Rp 500 triliun (USD 35 miliar) secara tiba-tiba. Itulah dana yang akan...

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

SEMARANG Penerapan e-tilang CCTV di Kota Semarang ternyata masih menyisakan banyak persoalan. Berbagai kemungkinan kasus yang terjadi di lapangan sepertinya belum mendapat antisipasi maupu kajian secara matang. Mulai bagaimana saat terjadi jual beli kendaraan dan belum dilakukan balik nama, keabsahan data digital berupa capture CCTV untuk dijadikan alat bukti di pengadilan, hingga adanya pelanggar lalu lintas tanpa pelat kendaraan yang sulit diusut.

Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Semarang di Simpang Tlogosari, Rabu (27/9), titik tersebut memang menjadi wilayah paling banyak terjadi pelanggaran lalu lintas. Arus lalu lintas sangat padat mengingat wilayah tersebut dikelilingi kawasan padat penduduk. Mulai dari pusat perbelanjaan, sekolah, hingga permukiman penduduk. Sehingga intensitas aktivitas warga sangat tinggi.

Meski telah diberlakukan kebijakan e-tilang CCTV, rupanya tak banyak mempengaruhi warga yang melintas untuk sekadar takut ditilang. Faktanya, banyak pengendara tetap nekat melanggar lalu lintas dengan santai, bahkan seperti tanpa dosa. Terutama pengendara kendaraan roda dua. Rata-rata jenis pelanggaran yang dilakukan adalah berhenti melebihi garis marka, bahkan hingga nyaris di tengah  perempatan. Selain itu adalah pengendara tidak mengenakan helm dan berboncengan tidak sesuai aturan.

Meski melanggar, mereka cenderung seperti biasa saja. Padahal posisi ia berhenti di traffic light yang melebihi garis tersebut jelas terpantau dari kamera CCTV. Tentu, sesuai rencana pemerintah, pelat kendaraan pelanggar tersebut tercatat dan akan dikenai sanksi tilang melalui e-tilang CCTV. Polisi akan menyambangi ke alamat rumah pelanggar.

“Memang kondisi lalu lintas di sini sangat ramai. Pengendara motor juga sangat banyak, karena dekat permukiman, pusat perbelanjaan, sekolah, hingga perkantoran,” kata salah satu warga di sekitar traffic light Tlogosari, Susanto, 45, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurutnya, masih banyak warga tidak mengetahui atau belum paham mengenai e-tilang CCTV. “Saya sendiri belum begitu paham bagaimana prosedurnya maupun sistem kerjanya. Tahunya di situ dikasih CCTV,” ucapnya.

Selama pantauan kurang lebih satu jam, terjadi puluhan pelanggaran lalu lintas. Salah satu kasus pelanggaran yang cukup unik ada remaja berboncengan mengendarai motor protolan dan tanpa mengenakan helm. Pengendara tersebut dengan santainya menerobos hingga ke tengah persimpangan bermaksud hendak menyeberang. Mereka kemungkinan besar jelas terekam CCTV. Tetapi kendaraan protolan tersebut tidak ada pelat nomornya. Tentunya, meski terekam CCTV, petugas akan kesulitan mengusut untuk dilakukan e-tilang CCTV. “Saya santai saja, Mas. Mau kelacak dari mana, wong motor saya nggak ada pelat nomornya,” ujar remja itu santai.

Kemungkinan yang bakal menyulitkan petugas adalah jika pelanggar mengendarai motor atau mobil luar kota. Misalnya, berpelat nomor B (Jakarta), D (Bandung) atau AD (Solo). Tentu saja, krosceknya akan lebih sulit.

Pakar Information Technology (IT) Universitas Dian Nuswantoro Semarang,  Dr Solichul Huda MKom mengatakan, dari sisi IT, e-tilang CCTV sebetulnya lemah. “Identifikasi pelanggaran belum dilakukan secara otomasi oleh sistem. Media yang menjadi penunjuk identitas pelanggar tidak dapat langsung menentukan identitas pelanggar. Untuk menentukan pelanggar masih perlu analisis terhadap foto yang diperoleh dari CCTV,” katanya.

Hasil analisis berupa nomor kendaraan tersebut baru dijadikan dasar penentu pelanggar. “Sehingga tindakan manualnya masih ada, dan ini rentan dengan keadilan bagi pengendara, bisa jadi sama melanggarnya, tapi hanya sebagian yang ditilang,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, identitas kendaraan ada 2, nopol kendaraan dan nomor mesin. Kalau dasar penindakan hanya berdasar pada pelat nomor, akan muncul banyak fitnah.

“Bisa orang beli pelat nomor palsu untuk ngerjai orang lain. Semestinya di pelat nomor kendaraan dipasang chip yang berisi identitas pemilik. Alat untuk deteksi pelanggaran juga dipasang stanby, begitu ada yang melanggar, data yang terekam oleh alat deteksi pelanggaran dan identitas yang ada di chip plat nomor dikirim ke server,” terangnya.

Memang, untuk hal tersebut memerlukan investasi besar. Selain itu, alat bukti pelanggaran di CCTV sekarang ini belum bisa untuk alat bukti yang sah. Alat bukti berupa data digital, kata dia, kelebihan dari data digital itu mudah dimodifikasi. “Sehingga untuk sah sebagai alat bukti elektronik masih ada pendukung lainnya yang diperlukan. Sebaiknya, kalau belum siap dari sisi IT-nya, uji coba ditunda,” katanya.

Apalagi kalau ada pengendara dengan pelat palsu, tentu akan muncul masalah lain yang lebih meresahkan masyarakat. “Kalau pelat nomornya palsu, orang lain bisa kena sampur,” ucapnya.

140 Pelanggar

Sementara sejak pemberlakuan e-tilang CCTV sejak Senin (25/9) dan Selasa (26/9), tercatat sebanyak 140 pelanggaran.

Kasatlantas Polrestabes Semarang, AKBP Yuswanto Ardi SIK SH MSi, mengatakan, pada hari pertama pelaksanaan tilang menggunakan CCTV, pihaknya menerima setidaknya 88 pelanggaran. Di hari kedua pada Selasa (26/9) kemarin, jumlah pelanggaran menurun menjadi 52.

“Penurunan ini sudah bagus, artinya masyarakat mulai menyadari dan melakukan tertib lalu lintas. Selanjutnya ya kita proses laporan pelanggaran dari surat yang diberikan Dishub kepada kami,” ujarnya saat berkunjung ke kantor redaksi Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (27/9).

Ardi menjelaskan, surat yang diterima pihaknya dari Dinas Perhubungan adalah data dari pelat nomor kendaraan pelanggar yang terekam CCTV milik Dishub. Nantinya itu menjadi modal untuk melakukan tindak lanjut dengan mendatangi alamat rumah sesuai data kendaraan yang didapat dari pelat nomor tersebut.

“Kita datangi ke rumah untuk melakukan konfirmasi, apakah pada tanggal dan jam sekian berkendara dan melanggar aturan. Karena belum tentu pemilik kendaraan yang melakukan pelanggaran saat itu,” bebernya.

Menurutnya, jangka waktu penindakan dengan mendatangi rumah pemilik kendaraan dilakukan sehari setelah kedatangan surat atau data dari Dishub yang berisi foto screenshoot pelat nomor kendaraan pelanggar. Maksimal 2×24 jam, pihaknya akan datang ke rumah dan kroscek. Jika benar, maka akan diproses dengan memberikan surat tilang.

Diakui, data pelanggar pada hari pertama e-tilang CCTV diberlakukan, sudah masuk ke Satlantas Polrestabes Semarang. Bahkan, kemarin sudah mulai dilakukan kroscek ke alamat yang bersangkutan. Jika pelanggar mengakui, maka akan diberikan surat tilang, dan pelanggar diminta tanda tangan, berikut akan ditahan SIM atau STNK kendaraannya.

Ia juga menjelaskan, terkait dengan luasnya wilayah hukum Polrestabes Semarang, maka pihaknya akan berkoordinasi dengan 15 polsek yang ada di Kota Semarang.

“Kami koordinasi dengan polsek setempat untuk membantu kroscek alamat pemilik kendaraan pelanggar. Tujuannya untuk lebih memudahkan, karena personel kami juga tidak banyak,” terangnya.

Ditanya terkait dengan mekanisme pembayaran dan persidangan tilang di Pengadilan Negeri, Ardi menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi sejak awal sebelum proses sosialisasi e-tilang CCTV. Pada prinsipnya, kata dia, tidak ada perubahan yang besar dalam sistem di pengadilan maupun kejaksaan.

“Koordinasi sudah, karena kita prediksi dengan penindakan melalui e-tilang CCTV ini akan mengalami kenaikan pelanggaran. Tetapi secara sistem tidak ada yang berubah, kita tetap kirimkan barang bukti berupa SIM atau STNK yang ditahan. Justru yang banyak berubah itu dari internal kepolisian,” tegasnya.

Ardi mengimbau, e-tilang CCTV ini hanya bentuk penindakan baru. Jika sebelumnya pelanggar akan langsung ditindak oleh petugas, sekarang akan terlebih dahulu diingatkan, jika tetap melanggar baru mendapat penindakan dengan di-screenshoot nomor kendaraan dan didatangi ke rumahnya. “Yang pasti ini untuk mewujudkan keamanan, keselamatan, disiplin dan tertib lalu lintas bagi para pengguna jalan,” tandasnya. (amu/tsa/aro)

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Semut Raksasa

RADARSEMARANG.COM-DUNIA tidak jadi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa satu perusahaan mendapat suntikan dana sebanyak Rp 500 triliun (USD 35 miliar) secara tiba-tiba. Itulah dana yang akan...

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...