Bangun KUB, Permudah Perajin Mengakses Perbankan

Program Sonjo Deso, Bupati dan OPD Bermalam di Botosari Penghasil Sapu Gelagah

149
BERWISATA BARENG : Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi bersama para kepala Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) dan warga usai bermalam di Desa Botosari, Paninggaran, Pekalongan (FOTO FOTO : TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG).
BERWISATA BARENG : Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi bersama para kepala Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) dan warga usai bermalam di Desa Botosari, Paninggaran, Pekalongan (FOTO FOTO : TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG).

PROGAM Sonjo Deso atau berkunjung dan bermalam di desa terpencil, kembali dilakukan Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, Rabu (27/9) kemarin. Kali ini, Bupati Asip selalu mengajak beberapa pimpinan Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) Kabupaten Pekalongan untuk menginap di Desa Botosari, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan.

Desa Botosari merupakan desa yang mayoritas penduduknya perajin sapu gelagah atau sapu lantai yang terbuat dari serabut pohon gelagah (semacam semak-semak). Kerajinan sapu gelagah tersebut merupakan warisan nenek moyang. Kini, sapu gelagah dipasarkan ke berbagai kota di Jawa Tengah bahkan luar Jawa.

Desa Botosari yang berada di dataran tinggi Dieng ini, memiliki pemandangan yang asri dan sejuk. Desa ini yang diapit oleh beberapa perbukitan, memiliki hawa yang dingin. Dari 2400 kepala keluarga (KK), 70 persennya berprofesi sebagai perajin sapu gelagah. Tak heran jika setiap saat, terlihat hilir mudik warga yang membawa gelagah (semak) dari hutan-hutan sekitar Desa Botosari.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Asip bersama rombongan berdialog dengan warga Desa Botosari. Terungkap bahwa sebagian besar perajin kesulitan mengakses perbankan, lantaran kebanyakan dari mereka tidak memiliki izin usaha. Padahal dalam sepekan, rata–rata tiap perajin sapu gelagah mampu memproduksi 3000 sapu atau 12 ribu sapu selama satu bulan dengan variasi harga antara Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu per sapu.

Abu Tal’ah, Kepala Desa Botosari, menjelaskan bahwa warganya setiap minggu mengirimkan hasil kerajinan sapu gelagah ke Surakarta, Surabaya, Semarang, Jakarta, bahkan ada keluar Jawa, yakni Medan dan Bali. Rata-rata tiap perajin sapu gelagah mendapatkan keuntungan Rp 5 juta perbulan. Makanya, hampir semua rumah di Desa Botosari besar, bagus dan mewah.

“70 persen warga menjadi perajin sapu gelagah. Kalau ditambah dengan warga pencari gelagah atau penyuplai gelagah, jasa ekspedisi sapunya, lebih dari 70 persen. Kerajinan ini sudah warisan turun-temurun, entah dari tahun berapa mulainya,” jelas Abu Tal’ah.

Abu Tal’ah juga mengatakan bahwa hampir di setiap rumah memiliki gudang penyimpanan gelagah yang dicari dari hutan. Bahkan, beberapa warga sengaja membudidayakan tanaman semak gelagah, untuk mencukupi kebutuhan bahan baku pembuatan sapu. Warga membudidayakan gelagah di lahan-lahan perbukitan setempat.

Menurutnya, setiap perajin di desa setempat, dalam sebulan bisa membutuhkan bahan baku gelagah sebanyak 1,5 ton, bahkan hingga 3 ton. Saat ini, para perajin kehabisan lahan untuk membudidayakan gelagah. “Uniknya, setiap perajin dan kelompok perajin sapu gelagah di Desa Botosari, mempunyai pasar di kota atau daerah yang berbeda-beda. Hal inilah yang membuat para perajin satu sama lainnya tidak berebut pasar. Bahkan, ada perajin yang khusus mencukupi kebutuhan sapu lokal, yakni di Pekalongan-Batang saja,” kata Abu Tal’ah.

Sementara itu, Bupati Asip menegaskan bahwa program Sonjo Deso yang digagasnya, untuk melakukan pemetaan permasalahan desa yang dikunjungi. Kemudian langsung ada tindak lanjutnya. Sehingga persoalan-persoalan warga di pegunungan desa terpencil, bisa langsung ditangani.

Bupati Asip juga apresiatif, kesadaran warga Desa Botosari dalam menempuh pendidikan, cukup tinggi. Terbukti, kendati jauh dari perguruan tinggi, setidaknya di tahun ini tercatat terdapat 16 mahasiswa yang berasal dari desa setempat yang menyelesaikan kuliahnya.

“Hasil dari kerajinan sapu gelagah ini, menjadikan anak-anak bisa berkuliah sampai jauh keluar kota. Saya berharap, sekembalinya mereka menimba ilmu, bisa bersama-sama membangun desa ini agar lebih maju lagi,” harapnya.

Bupati Asip juga menuturkan bahwa pihaknya akan bekerjasama dengan pihak terkait yakni Perhutani, agar para perajin sapu gelagah bisa menggunakan sebagian lahan milik Perhutani, sehingga kemakmuran warga setempat terus meningkat.

“Jika kendalanya suplai bahan baku, saya mau minta ke Perhutani. Kami akan bermitra dengan Perhutani untuk mengatasai pengembangbiakan tanaman gelagah,” tutur Bupati Asip.

Sedangkan harapan para perajin agar dapat mengakses perbankan, pihaknya akan membantu para pengrajin mendirikan Kelompok Usaha Bersama (KUB) sapu gelagah. “Dengan begitu, akan ditata manajemen dan pemasarannya,” tandasnya.

Usai bermalam di Desa Botosari, bupati bersama rombongan berkunjung ke SMP Negeri 1 Paninggaran, untuk membagikan Kartu Kajen Cerdas dan memantau perkembangan proses belajar mengajar. (thd/adv/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here