Bangun KUB, Permudah Perajin Mengakses Perbankan

Program Sonjo Deso, Bupati dan OPD Bermalam di Botosari Penghasil Sapu Gelagah

206
BERWISATA BARENG : Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi bersama para kepala Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) dan warga usai bermalam di Desa Botosari, Paninggaran, Pekalongan (FOTO FOTO : TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG).
BERWISATA BARENG : Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi bersama para kepala Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) dan warga usai bermalam di Desa Botosari, Paninggaran, Pekalongan (FOTO FOTO : TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG).

PROGAM Sonjo Deso atau berkunjung dan bermalam di desa terpencil, kembali dilakukan Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, Rabu (27/9) kemarin. Kali ini, Bupati Asip selalu mengajak beberapa pimpinan Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) Kabupaten Pekalongan untuk menginap di Desa Botosari, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan.

Desa Botosari merupakan desa yang mayoritas penduduknya perajin sapu gelagah atau sapu lantai yang terbuat dari serabut pohon gelagah (semacam semak-semak). Kerajinan sapu gelagah tersebut merupakan warisan nenek moyang. Kini, sapu gelagah dipasarkan ke berbagai kota di Jawa Tengah bahkan luar Jawa.

Desa Botosari yang berada di dataran tinggi Dieng ini, memiliki pemandangan yang asri dan sejuk. Desa ini yang diapit oleh beberapa perbukitan, memiliki hawa yang dingin. Dari 2400 kepala keluarga (KK), 70 persennya berprofesi sebagai perajin sapu gelagah. Tak heran jika setiap saat, terlihat hilir mudik warga yang membawa gelagah (semak) dari hutan-hutan sekitar Desa Botosari.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Asip bersama rombongan berdialog dengan warga Desa Botosari. Terungkap bahwa sebagian besar perajin kesulitan mengakses perbankan, lantaran kebanyakan dari mereka tidak memiliki izin usaha. Padahal dalam sepekan, rata–rata tiap perajin sapu gelagah mampu memproduksi 3000 sapu atau 12 ribu sapu selama satu bulan dengan variasi harga antara Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu per sapu.

Abu Tal’ah, Kepala Desa Botosari, menjelaskan bahwa warganya setiap minggu mengirimkan hasil kerajinan sapu gelagah ke Surakarta, Surabaya, Semarang, Jakarta, bahkan ada keluar Jawa, yakni Medan dan Bali. Rata-rata tiap perajin sapu gelagah mendapatkan keuntungan Rp 5 juta perbulan. Makanya, hampir semua rumah di Desa Botosari besar, bagus dan mewah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here