Tarikan Beksan Caraka Walik, Lyra Laku Spiritual

Lyra De Blauw, Tak Lelah Tularkan Seni Tari Klasik

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

Nama aslinya: Lyra Van Deer Blauwee. Hanya saja, perempuan ayu ini, cukup populer dengan nama Lyra De Blauw. Bagi warga kota dan Kabupaten Magelang, nama Lyra sudah tidak asing. Ia aktif terlibat dalam berbagai pementasan tari klasik. Juga aktif di berbagai kegiatan kesenian lainnya.

AGUS HADIANTO, Magelang

SELAMA lima belas tahun, Lyra berkutat dengan tari klasik. Padahal, awal menari, ia justru kurang suka. Tari-tarian kreasi baru merupakan debut pertamanya. Toh, seiring berjalannya waktu, ibu dua anak itu, mulai kesengsem menari klasik. Jadilah, tari klasik merupakan seni tari yang Lyra ajarkan kepada anak-anak didiknya di Sanggar Tari: Srikandi Enterprise.

Perempuan kelahiran Magelang, 21 September 1971 itu bercerita, masa kecilnya dilalui dengan sifat tomboy. Perilakunya seperti bocah laki-laki pada umumya, salah satunya naik pohon. Kumpulannya juga dengan teman laki-laki.

“Oleh ibu, saya lalu dimasukkan ke Sanggar Sunu Pratiwi, pada usia 6 tahun. Pertama kali belajar adalah tari Satria, tari kreasi baru. Karena pada waktu itu di Kota Magelang masih banyak sanggar yang menyajikan tari klasik, jadi sanggar Sunu Pratiwi langsung mendapat murid hampir ribuan orang, karena merupakan hal baru,” kata Lyra kepada Jawa Pos Radar Kedu di sanggar tarinya, kemarin.

Pada 1970-an, kata Lyra, sebelum hadirnya Sanggar Sunu Pratiwi, di Kota Magelang sudah ada sanggar tari tak bernama mengajarkan tari klasik. Seperti tari Gambyong dan lain-lain. Sanggar ini, menurut Lyra, merupakan cikal bakal Sanggar Tari Pitaloka yang dibentuk oleh Dewan Kesenian melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dinas P&K) Magelang. “Tari klasik memang sulit dan proses belajarnya butuh kesabaran dan ketekunan.”

Tari klasik untuk anak di bawah usia 10 tahun, sambung Lyra, sulit dipelajari karena jeda waktu perubahan gerak dengan gong. “Sebenarnya, untuk mempelajari tari, lebih bagus awalnya mempelajari tari klasik, baru belajar tari kreasi baru.”

Lyra yang memiliki darah seni dari sang kakek, mengaku cukup lama belajar di Sanggar Sunu Pratiwi asuhan Yasin dan Bagong Kusumodihardjo di Gedung Ahmad Yani Kota Magelang setiap Minggu sore.

Awalnya, ia belajar tari Ksatria. “Setelah itu, ujian kenaikan tingkat dan belajar tari Gambyong, tari Boneka, tari Bondan dan tari lainnya.” Pada saat ujian kenaikan tingkat, tarian dipentaskan di depan masyarakat. Penontonnya mencapai ribuan orang. “Karena pada tahun itu (1970-an), sangat jarang pementasan tari secara umum.”

Ketekunannya belajar tari kreasi baru, terhenti saat Lyra kelas 5 SD. Saat membawakan tari Kukila pada ajang lomba dan ia masuk peringkat 10 besar, Dinas P & K memberikan kritik. Lyra disarankan belajar tari klasik agar menarinya jauh lebih bagus. “Karena pada saat itu, Dinas P & K masuk ke sekolah-sekolah mengajarkan tari klasik kepada siswa. Kemudian, saya diajak ke sanggar tari dan belajar dasar-dasar tari klasik.”

Sejak saat itulah, Lyra menjadi anak asuh sanggar binaan Dinas P & K. “Kebetulan keluarga mendukung, maka mulai saat itu saya belajar tari klasik.” Bakatnya menari, membawa Lyra pada berbagai ajang lomba tari. Mulai even sekolah hingga tingkat karesidenan Kedu. Hanya saja, begitu masuk SMA, Lyra lebih tertarik nge-band. Maka, untuk sementara, ia tidak menari. “Maklum, namanya masih muda, jadi masih labil. Saya main band hingga lulus SMA, dunia tari sama sekali saya tinggalkan.”

Lulus SMA, ia bimbang. Suatu hari, ia main ke Jogja, melihat sanggar tari milik Bagong Kusumodihardjo. Lyra pun kepincut menari. Karena itu, ia berniat kuliah di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI). “Orang tua saya tidak mengizinkan. Mosok meh nari ae kudu sekolah duwur, Nduk. Ndak usah, mending sekolah lione ae. Akhirnya, saya kuliah di Surabaya. Saya kuliah sambil bekerja. Jadi, praktis tari saya tinggalkan.”

Masa perpisahannya dengan tari, berakhir ketika ia lulus kuliah DIII Teknik dan hanya bekerja. Saat itu, Lyra melintas di kampus Universitas Airlangga. Ia melihat banyak orang latihan menari tari klasik. “Di situlah, saya jatuh hati pada dunia tari. Saat itu juga, saya mulai belajar menari klasik dari awal lagi.”

Pulang ke kampung halamannya di Magelang, Lyra belajar tari klasik dari satu sanggar ke sanggar lainnya, hingga ia mahir memainkan berbagai tarian klasik Nusantara. Kecintaan menari klasik, membuat Lyra mendirikan sanggar tari Srikandi Enterprise. Sanggar ini mengajarkan seni, terutama tari klasik. Sebab, Lyra mengaku prihatin dengan kondisi saat ini.

Satu sisi, tari klasik sulit berkembang. Selain perhatian dari pemerintah yang sangat kurang, juga dari masyarakat sendiri. “Saat ini, gempuran tari Topeng Ireng sungguh cukup mempengaruhi anak-anak untuk mau belajar tari klasik.”

Faktor lain, orangtua maupun pihak sekolah terkesan instan dalam memasukan anaknya belajar tari di sanggar tari, baik tari kreasi baru maupun tari klasik. Biasanya, saat orangtua atau pihak sekolah memasukan anaknya ke sanggar, kata Lyra, pertanyaan yang sering diajukan adalah berapa kali latihan dan kapan bisa pentas? “Itu yang sering ditanyakan. Entah karena takut biaya latihan besar atau karena mengejar prestasi. Padahal, saya dalam mengenalkan tari, justru sangat senang misal ada anak berbakat, tidak memikirkan biaya. Bagi saya, bagaimana tari klasik bisa terus dipertahankan eksistensinya.”

Padahal, sambung Lyra, dalam mempelajari dan menampilkan tari klasik, butuh penghayatan cukup tinggi. Bahkan, terkadang para penari, harus menjalani laku spriritual, sebagaimana pakem tarian yang dibawakan. “Entah kepercayaan atau tidak, tetapi itulah syarat tradisi leluhur menampilkan tari tertentu, terkadang perias tari dan penari juga berpuasa. Laku spiritual yang dijalani, nantinya akan merasuk totalitas penampilan yang muncul dari hati.”

Lyra mencontohkan ketika ia membawakan tari Beksan Caraka Walik pada ajang Festival Gunung Tidar 2016 silam. Sebelum menari, Lyra melakukan persiapan spiritual. Tarian itu diiringi mantra-mantra Gayatri yang berfungsi untuk tolak bala. Tari Beksan Cara Walik, artinya carakan Jawa yang dibunyikan terbalik. Maksudnya, sebagai mantra tolak bala dan doa keselamatan untuk semua makhluk. Artinya, energi paku tanah Jawa, diharapkan dapat memancar untuk tetap menjaga keseimbangan empat energi unsur kosmis (air, api, tanah, udara) yang tetap ajeg bertumpu pada pancer (pusat kosmis) kiblat papat lima pancer.

“Saat menari selalu dikepung angin besar, tetapi penonton tidak bisa merasakan. Saya sulit mengendalikan selendang dan jarit, karena angin gede banget. Banyak teman yang bilang, seperti bukan saya yang menari.”

Minimnya generasi muda tertarik belajar tari klasik, membuat Lyra sedih sekaligus prihatin. Padahal, orang luar negeri saja, mulai banyak yang tertarik belajar tari klasik dengan total. “Saya punya teman dari luar negeri yang menjadi penari di Borobudur. Saat melihat penampilannya, saya sangat minder karena sangat luar biasa membawakan. Sangat sempurna dan penghayatan tinggi. Saya seperti tidak ada apa-apanya dibanding dia. Jangan sampai orang luar negeri yang fasih membawakan tarian asli Indonesia, sedang bangsa sendiri tidak mampu. Ini bentuk kepunahan tradisi tari kita, orang setempat tidak mau mempelajari tari klasik,” tutup Lyra. (*/isk)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -