Nobar G30S Dianggap Tebarkan Kebencian

147

SEMARANG – Kalangan Nahdlatul Ulama (NU) menilai pemutaran film Gerakan 30 September (G30S) PKI yang marak dilakukan di sejumlah daerah setiap bulan September, justru menjadi embrio penebar kebencian. Terutama pada kalangan generasi muda yang belum punya wawasan dan referensi luas terhadap tragedi G30S.

Komandan Densus 99 Banser-Ansor, Mohammad Nurruzaman menegaskan, gerakan komunisme sudah tidak ada lagi di Indonesia. Artinya, jika ada yang menghembuskan isu lahirnya PKI, bisa jadi itu hanya menjadi komuditas politik saja. Dia pun menilai, sampai sekarang belum ada ancaman yang berarti dari paham komunis.

“Mereka (paham komunis) sudah bubar semua, kok. Isu PKI itu selalu jadi isu politik bukan hanya tiap bulan tapi hampir setiap tahun setiap 30 september,” ungkapnya dalam diskusi bertemakan “Menjaga Pancasila” di Hotel Quest Semarang, kemarin.

Mengenai permasalahan NU dengan PKI, lanjutnya, sudah selesai. Termasuk proses rekonsiliasi antar korban dan pelaku tragedi G30S. Warga nahdliyin telah melupakan kasus berdarah yang merenggut jutaan nyawa rakyat Indonesia.

“Jika ingin rekonsiliasi maka lupakanlah masa lalu. Saya yakin di tahun 2018 jauh lebih parah dari sekarang. Karena bisa dilihat kelompok-kelompok yang menghembuskan isu PKI. Kelompok ini menganggap PKI isu seksi karena PKI tidak beragama. Jadi komoditas politik yang dimainkan kelompok Islam radikal,” bebernya.

Dia menegaskan, Ansor tidak akan memutar film kontroversial tersebut. Meski begitu, diakui banyak elemen TNI yang mengajak Ansor untuk menggelar nonton bareng. “Kami tidak akan memutar. Soalnya film G30S itu malah menimbulkan kebencian,” terangnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here