Nobar G30S Dianggap Tebarkan Kebencian

SEMARANG – Kalangan Nahdlatul Ulama (NU) menilai pemutaran film Gerakan 30 September (G30S) PKI yang marak dilakukan di sejumlah daerah setiap bulan September, justru menjadi embrio penebar kebencian. Terutama pada kalangan generasi muda yang belum punya wawasan dan referensi luas terhadap tragedi G30S.

Komandan Densus 99 Banser-Ansor, Mohammad Nurruzaman menegaskan, gerakan komunisme sudah tidak ada lagi di Indonesia. Artinya, jika ada yang menghembuskan isu lahirnya PKI, bisa jadi itu hanya menjadi komuditas politik saja. Dia pun menilai, sampai sekarang belum ada ancaman yang berarti dari paham komunis.

“Mereka (paham komunis) sudah bubar semua, kok. Isu PKI itu selalu jadi isu politik bukan hanya tiap bulan tapi hampir setiap tahun setiap 30 september,” ungkapnya dalam diskusi bertemakan “Menjaga Pancasila” di Hotel Quest Semarang, kemarin.

Mengenai permasalahan NU dengan PKI, lanjutnya, sudah selesai. Termasuk proses rekonsiliasi antar korban dan pelaku tragedi G30S. Warga nahdliyin telah melupakan kasus berdarah yang merenggut jutaan nyawa rakyat Indonesia.

“Jika ingin rekonsiliasi maka lupakanlah masa lalu. Saya yakin di tahun 2018 jauh lebih parah dari sekarang. Karena bisa dilihat kelompok-kelompok yang menghembuskan isu PKI. Kelompok ini menganggap PKI isu seksi karena PKI tidak beragama. Jadi komoditas politik yang dimainkan kelompok Islam radikal,” bebernya.

Dia menegaskan, Ansor tidak akan memutar film kontroversial tersebut. Meski begitu, diakui banyak elemen TNI yang mengajak Ansor untuk menggelar nonton bareng. “Kami tidak akan memutar. Soalnya film G30S itu malah menimbulkan kebencian,” terangnya.

Narasumber lain, Prie GS menilai, dewasa ini memang banyak teror di masyarakat. Teror yang dimaksud bukanlah ancaman bom bunuh diri. Menurutnya, melihat kondisi sosial dan perkotaan yang amburadul saja sudah menjadi ancaman teroris.

“Melihat status media sosial orang lain saja sudah jadi teror, lho. Tiap hari posting apa saja yang dimakan, lagi piknik, bahkan perut hamil saja diposting. Itu menurut saya merupakan teror kecil-kecilan,” ucap budayawan asli Semarang ini.

Di lain pihak, Sekda Jateng Sri Puryono justru ingin mengajak aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Pemprov Jateng menonton film G30S. “Jas merah. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Kalau nonton saja kan tidak apa-apa,” tegasnya.

Menurutnya, mencari referensi sejarah untuk melihat tragedi G30S harus dengan kacamata kebenaran. Sejarah harus teruji. Jangan sampai ada kelok yang merekayasa sejarah. “Harusnya mengedukasi masyarakat supaya tidak ada sejarah yang berbelok,” terangnya. (amh/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here