BUDAYA MEMBACA: Anak-anak saat memilih buku di Perpustakaan Gunung. (Inzet) Agung Supriyanto Widadi (Nathaza ayudya/ jawa pos radar semarang).
BUDAYA MEMBACA: Anak-anak saat memilih buku di Perpustakaan Gunung. (Inzet) Agung Supriyanto Widadi (Nathaza ayudya/ jawa pos radar semarang).

Sebuah perpustakaan umum didirikan di kaki Gunung Merbabu. Namanya Perpus Gunung. Tempat baca ini didirikan oleh pendaki gunung yang singgah di Desa Thekelan, Batur, Getasan, Kabupaten Semarang. Seperti apa?

NATHAZA AYUDYA

BUDAYA membaca masyarakat tengah digenjot. Ini bagian dari budaya literasi. Sebab, dengan membaca, wawasan akan bertambah. Di desa-desa, budaya membaca masih minim. Apalagi bagi mereka yang tinggal di kaki gunung. Hal itu yang menginspirasi seorang pendaki gunung merintis perpustakaan.

Dialah Agung Supriyanto Widadi, pendaki gunung asal Salatiga. Pria 30 tahun ini merintis rumah baca  di Desa Thekelan, Batur, Getasan, Kabupaten Semarang. Desa ini terletak di jalur pendakian menuju Gunung Merbabu yang memiliki ketinggian 1.600 Mdpl.  Karena letaknya di kaki gunung, Agung pun memberi nama rumah baca itu Perpus Gunung, yang diresmikan pada 25 Maret 2017 lalu.

Menurut Agung, sebagai pendaki dirinya tidak hanya mencintai alam, tetapi juga ingin menebar virus literasi kepada masyarakat yang masih terisolasi. Karena itulah, ia mendirikan perpustakaan tersebut. Saat awal dirintis, perpustakaan ini hanya memiliki koleksi buku 50 buah. Namun setelah hampir setengah tahun berdiri, sekarang memiliki 800 lebih koleksi buku yang tertata rapi di rak-rak sederhana.

“Koleksi buku di Perpus Gunung didapat dari donasi para pendaki, termasuk para pegiat lingkungan, guru, dan seniman,” tutur Agung kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Dalam pengelolaannya, pria yang berprofesi sebagai ilustrator media online ini dibantu oleh beberapa kerabatnya, di antaranya Zakim, Gabo, Andri, Agnes, Bento, Yoyok, dan salah satu personel Komunitas Peduli Putra Syarif (KOMPAS) yang menunggui basecamp tersebut.

Menurut Agung, dibukanya Perpus Gunung ini diapresiasi warga yang tinggal di dekat basecamp Thekelan. Perpus Gunung yang dibuka setiap hari, rata-rata dikunjungi  hingga 35 orang per hari. Tidak hanya anak-anak usia sekolah saja, tapi juga para pemuda desa, termasuk para orangtua. Tidak jarang pula para pendaki yang akan melakukan pendakian di Gunung Merbabu lewat Thekelan singgah di Perpus Gunung. “Perpus Gunung ini memang terbuka untuk siapa saja. Membaca di Perpus Gunung juga tidak dipungut biaya,” kata Agung sembari menambahkan jika perpustakaan yang dikelolanya memiliki slogan “Mendaki Budaya Membaca.”

Selain mengembangkan budaya membaca dan literasi, di perpustakaan ini juga dibuka kelas Bahasa Inggris, diskusi buku, belajar menggambar, dan workshop handycraft. Pesertanya anak-anak warga setempat. Gerakan budaya membaca dan literasi ini didukung oleh seniman Sujiwo Tejo. Bahkan, ia ikut berpartisipasi dalam peresmian Perpus Gunung dan mendonasikan buku karyanya.

Saat ini, Perpus Gunung masih menempati basecamp Thekelan. Rencananya, ke depan akan dipindah di bangunan baru berupa rumah bambu. Rumah bambu tersebut akan dibangun di sebelah basecamp, dan terdiri atas dua tingkat. Bagian bawah akan dipergunakan untuk parkir kendaraan, sedangkan tingkat kedua diperuntukkan sebagai perpustakaan Perpus Gunung serta ruang berdiskusi.

Perpus Gunung yang terbilang masih baru ini menginspirasi komunitas pendaki lainnya untuk membangun perpustakaan di kaki gunung. Rencananya, dalam waktu dekat akan didirikan perpustakaan di kaki Gunung Andong oleh beberapa komunitas pendaki. (*/aro)