Oleh: Sri Mulyani SPd
Oleh: Sri Mulyani SPd

SALAH satu wujud keprofesionalan guru adalah memahami karakteristik siswa, baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok di kelasnya. Dalam satu kelas banyak dijumpai berbagai macam karakter siswa. Salah satunya adalah suka bermain, bersenang-senang bahkan berteriak atau berbicara keras baik di dalam maupun di luar kelas.

Guru sebagai pendidik tentu akan selalu berupaya agar proses pembelajaran yang dilakukannya berhasil dengan baik, serta siswa memahami apa yang disampaikan guru dengan hasil nilai yang memuaskan. Model, teknik, strategi, metode pembelajaran akan dipilih sesuai dengan kaidah-kaidahnya.

Dengan memahami karakteristik siswa, guru akan lebih mudah memilih dan menerapkan model pembelajaran. Siswa yang setingkat SMP dengan ciri khas masih suka bermain dan berteriak bisa ditampung atau disalurkan dengan memerankan dirinya sendiri dalam suatu peran yang sudah disetting dan diskenariokan sebelumnya. Role playing atau bermain peran sesuai dengan perhatian dan penghargaan guru terhadap karakteristik siswa tersebut.

Role playing adalah sejenis permainan gerak yang di dalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield, 1986). Dalam role playing siswa dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas. Selain itu, role playing seringkali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas di mana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain. (Basri Syamsu, 2000).

Keleluasaan

Pembelajaran Bahasa Inggris akan lebih bermakna dan cepat dipahami siswa apabila mereka sering diberi keleluasaan untuk mengekspresikan bakat dan kemampuannya dalam berkomunikasi (speaking). Siswa memerankan berbagai macam tokoh dengan karakter masing-masing. Mereka berimajinasi dan menghayati perannya dengan rasa senang. Siswa terlibat secara emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Siswa diperlakukan sebagai subjek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab) bersama teman-temannya pada situasi tertentu.

Bermain peran perlu persiapan yang matang, teliti dan memperhatikan karakter siswa, tentu saja tidak lepas dari kompetensi dasar yang akan dicapai. Guru harus mengorganisasi kelas secara kelompok. Setiap kelompok memperagakan peran yang sudah diskenariokan. Meski demikian, siswa tetap diberi kebebasan untuk berimprovisasi. Setelah selesai, siswa diberi lembar kerja untuk memberi penilaian terhadap kelompok yang telah tampil, yang selanjutnya dipresentasikan di depan kelas. Tentu saja sebisa mungkin siswa diarahkan untuk menyampaikannya dengan menggunakan Bahasa Inggris. Guru tinggal memberikan evaluasi dan penguatan.

Selain bermain peran, model pembelajaran lain yang bisa disesuaikan dengan karakteristik siswa masih banyak ragamnya. Siswa yang suka menyanyi di dalam kelas, berikan dia kesempatan untuk menyanyi di depan kelas dengan lagu yang berlirik Bahasa Inggris. Berdeklamasi ataupun membuat dan membaca puisi berbahasa Inggris dapat pula untuk membiasakan siswa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Bisa pula menulis surat ataupun cerita pendek berbahasa Inggris. Jika dalam pembelajaran siswa diperlakukan sebagaimana yang menjadi keinginannya, maka ia akan merasa senang hati. Terlebih lagi, dia akan mengikuti proses pembelajaran dengan ikhlas yang pada akhirnya semakin antusias secara emosional dan selalu menantikan kiprahnya di kesempatan yang akan datang. Siswa telah memiliki harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi untuk mengikuti dan menyelesaikan kompetensi demi kompetensi dalam pembelajaran yang disampaikan gurunya.

Dalam pembelajaran, siswa harus aktif dan banyak aktivitas. Tanpa aktivitas siswa, proses pembelajaran tidak mungkin berjalan dengan baik dan efektif sesuai yang diharapkan. Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri siswa (Departemen Pendidikan Nasional, 2002). Guru harus memahami diri siswa yang telah menjadi ciri karakteristiknya apabila ingin efektif dan efisien proses pembelajarannya. Karena dengan memahami karakteristik siswa, maka setengah kesuksesan proses pembelajaran dapat dicapai. (*/aro)