33 C
Semarang
Senin, 3 Agustus 2020

Stop Bullying dengan Penguatan Pendidikan Karakter

Another

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan...

DEWASA ini kasus bullying masih menjadi isu penting di masyarakat Indonesia. Perilaku yang menyimpang ini bahkan marak di kalangan siswa. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh LSM Plan International dan International Center for Reseach on Women (IRCW) pada 2015, terdapat 84 persen anak Indonesia mengalami bullying. Yang mencengankan adalah angka tersebut lebih tinggi dari negara-negara di kawasan Asia, yakni sebesar 70 persen. Alih-alih potensi diri tereksplorasi, bisa jadi hal sederhana yang biasa mereka lakukan tak nampak lagi. Para orang tua kita mulai  memprihatinkan fenomena bullying di kalangan anak-anak. Namun sayang keprihatinan tersebut sepertinya masih di awang-awang dan belum di-ejawantah-kan dalam bentuk yang nyata.

Bullying adalah perilaku atau tindakan agresif yang dilakukan oleh seseorang maupun kelompok berupa penghinaan, pelecehan, menyakiti baik secara fisik maupun mental, mengancam dan menindas orang yang dianggap lemah atau tidak mampu mempertahankan diri sendiri.  Perilaku ini dilakukan berulang-ulang, sehingga anak yang mengalami perilaku bullying sering merasa rendah diri, menutup diri, cenderung semakin pasif. Manifestasi bullying bisa berbentuk verbal, seperti memaki, memfitnah, mengejek atau mengancam. Dapat pula berbentuk fisik, seperti memukul, menampar, mendorong, mencubit dan lain-lain.

Yang lebih berbahaya adalah bullying dalam bentuk psikologis, seperti mengintimidasi, mengucilkan, mengabaikan dan mendeskriminasikan. Hal tersebut akan memberi dampak yang sangat negatif, baik bagi pelaku, terlebih bagi korban. Anak yang menjadi pelaku bullying akan cenderung tidak konsentrasi dalam belajar karena pikirannya lebih banyak mengincar dan merencanakan tindakan berikutnya. Sedangkan anak yang menjadi korban akan mengalami tekanan secara psikologis, sehingga berakibat menurunnya semangat belajar, kecemasan dan ketakutan yang berlebihan. Kepribadian, pola berpikir dan perilakunya tidak dapat berkembang secara normal dan seimbang. Akibatnya adalah prestasi belajar menurun dengan kemampuan sosialita yang rendah.

Kasus bullying yang kian marak ini bukanlah masalah sederhana yang muncul dengan tiba-tiba. Frekuensinya yang semakin tinggi bisa jadi andil dari kita semua. Di antara penyebab bullying adalah sifat agresif dari anak, merasa dirinya lebih, terbiasa merendahkan orang lain atau melihat ada orang yang direndahkan, rendahnya pengawasan, kurangnya kepedulian lingkungan sekitar.

Pola asuh orang tua terhadap anak yang kurang kurang sesuai, kurangnya kedekatan secara fisik dan emosional anak terhadap orang tua juga menjadi celah bagi mereka untuk meniru perilaku-perilaku negatif di lingkungan. Pengawasan dan kepedulian guru dan tenaga kependidikan di sekolah juga sangat penting. Dalam pengawasan yang baik, anak akan takut melakukan tindakan tidak menyenangkan terhadap temannya. Kepedulian guru terhadap siswa akan membuat siswa berani bercerita tentang kejadian-kejadian menyimpang yang dilihat atau dijumpai oleh mereka. Sehingga siswa tidak lagi memiliki ruang untuk melakukan bullying.

Saat anak berada di luar sekolah masyarakat memberi kontribusi cukup besar membentuk karakter mereka. Masyarakat yang acuh tak acuh, enggan mengingatkan atas perilaku-perilaku menyimpang yang di lakukan oleh anak-anak membuat mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal benar dan baik-baik saja. Tayangan acara di berbagai media massa yang menyajikan contoh-contoh yang kurang baik. Tanpa disadari hal ini membentuk karakter negatif pada diri anak sehingga berpotensi tinggi berperilaku menyimpang.

Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang menjadi implementasi kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tentang 8 jam belajar dalam sehari atau lima hari sekolah kini sedang digalakkan. Hingga saat ini gaung PPK ini masih menggema. Program yang rencananya akan diterapkankan mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah atas ini tak pelak langsung menyulut banyak cemas. Ada yang menganggap miskin urgensi hingga dianggap rendah evaluasi. Atau masyarakat yang underestimate terhadap guru dan sekolah, mengkhawatirkan panjangnya jam belajar di sekolah hanya akan menghabiskan waktu anak, sehingga anak tidak memiliki waktu untuk berekspresi dan bereksplorasi dalam kreativitas yang lain. Namun tidaklah demikian seharusnya tanggapan kita. Justru PPK menjadi angin segar untuk mengembangkan karakter positif anak di sekolah. Lima  karakter utama yang menjadi prioritas PPK, yakni religius, nasionalis, integritas, mandiri dan gotong royong diharapkan dapat berkembang secara seimbang dan dinamis. Lima karakter utama yang bersumber dari Pancasila ini, berkesempatan ditumbuhkembangkan di sekolah dengan bimbingan dan pendampingan guru serta tenaga pendidik di sekolah.

PPK bisa jadi merupakan salah pintu masuk dalam pembenahan karakter anak. Namun tanpa keseragaman dan kebersamaan sepertinya mustahil terwujud, karena pendidikan anak tidak hanya berpusat di sekolah. Tiga pusat pendidikan, yakni orang tua dalam keluarga, guru di sekolah dan masyarakat sebagai komunitas harus seiring, sejalan, serentak, seia sekata dalam menanamkan karakter positif kepada anak.

Gerakan 3B pada 18.21

Pola asuh yang baik dan sesuai dalam keluarga. Adanya “Gerakan 3B pada 18.21” bisa menjadi budaya yang positif. Di mana pada pukul 18.00 sampai dengan 21.00, anak dalam pendampingan orang tua untuk belajar, bermain dan berbicara (3B). Orang tua yang dekat dengan anaknya dan memperoleh keteladanan positif yang menjadi fondasi utama karakter anak. Sesampai di sekolah mereka mendapatkan ilmu secara akademis, bimbingan dan pembinaan karakter yang sesuai dengan ajaran orang tua.

Penerapan pola pendidikan yang berpijak pada filosofi Pendidikan Karakter Ki Hajar Dewantara dengan olah hati, olah pikir, olah karsa dan olah raga yang seimbang akan menciptakan kestabilan mental dan perilaku. Di sisi yang lain, masyarakat sebagai komunitas mereka juga mencontohkan hal-hal positif yang bisa mereka teladani, dengan kepedulian yang tinggi. Keseragaman ini akan menjadi sinergi yang kuat, sehingga anak tidak lagi melihat hal-hal negatif yang bisa mereka tiru. Dari pandangan mata yang mereka lihat tersaji contoh yang baik. Dari perilaku yang mereka rasakan adalah kenyamanan. Ketiga pusat pendidikan yang secara serentak mengembangkan nilai-nilai utama dalam pendidikan karakter akan membentuk karakter anak dengan baik. Trias sinergi tiga pusat pendidikan yang kuat adalah langkah nyata penguatan pendidikan karakter yang utuh penuh seluruh. Maka akan menjadi sebuah keniscayaan turunnya kasus bullying di kalangan anak-anak. Semoga kita semua mampu mengimplementasikan keprihatinan kita terhadap bullying ke dalam bentuk yang lebih konkrit. Sehingga anak jauh dari perilaku impulsif, agresif, bahkan intimidatif. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

Arang Galang

Inilah jalan berliku itu. Tapi yang penting hasilnya: anak muda ini berhasil menjadi pengusaha. Bahkan jadi eksporter. Memang masih sangat kecil. Tapi arah bisnisnya...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Langgar Aturan, Ratusan APK Diturunkan

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA - Ratusan alat peraga kampanye (APK) Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah tahun 2018 di Kota Salatiga diturunkan paksa. Penindakan terhadap APK yang...

Lima Pejabat Pemkot Mendadak Dimutasi

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Lima orang pejabat eselon II Pemerintah Kota Semarang dirotasi, Kamis (19/7). Kelima pejabat tersebut di antaranya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata...

Operasi Pasar Sasar 3 Wilayah

MUNGKID—Melonjaknya sejumlah harga kebutuhan bahan pokok menjelang Idul Fitri, membuat Dinas Perdagangan Koperasi (Disdagkop) UKM Kabupaten Magelang, melakukan langkah antisipasi. Mereka menggelar operasi pasar...

Hendi Ancam Pecat Pegawai Tak Produktif

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi terus menggenjot pelayanan masyarakat kepada jajarannya. Salah satunya di lingkungan Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta...

Jalin Silaturahmi

RADARSEMARANG.COM - KAPENDAM IV Diponegoro Letkjol Zaenudin saat melakukan kunjungan di kantor Redaksi Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (18/4). Kedatangannya diterima oleh GM Radar...

Konsumsi Kopi Terus Meningkat

SEMARANG – Produktifitas kopi di Jawa Tengah awal tahun ini mulai membaik. Namun demikian, cuaca yang kurang bersahabat dikhawatirkan akan menurunkan kualitas kopi tersebut. Wakil...