33 C
Semarang
Senin, 13 Juli 2020

Ribuan Warga Lakoni Tradisi Perang Lumpur

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

UNGARAN–Ribuan warga Desa Sendang Kecamatan Bringin terlibat perang lumpur, Jumat (22/9) kemarin. Tradisi tahunan yang bernama Popokan tersebut dilakukan di persawahan dan jalan-jalan desa tersebut.

Kepala Desa Sendang Syamsudin menjelaskan aksi tersebut terjadi bukan karena sebuah permusuhan, namun tradisi luapan kegembiraan setelah masa panen. “Pada tradisi ini, semua warga yang merantau keluar daerah, pasti kembali untuk berkumpul melakukan tradisi ini,” ujar Syamsudin.

Tradisi diawali dengan ziarah di makam pendiri desa. Selanjutnya kerja bakti bergiliran membersihkan mata air, sumur, serta kolam air di rumah-rumah warga. Kemudian dilakukan arak-arakan budaya mengelilingi desa.

Setiap RT, dalam kesempatan tersebut menampilkan kreativitas mereka. Mulai dari berdandan ala wayang, hingga menampilkan kesenian drumblek. Ribuan warga melakukan arak-arakan budaya mengelilingi jalan-jalan desa dan berakhir di balai desa setempat.

Setelah berkumpul, gunungan berisi buah-buahan yang sudah disiapkan oleh panitia di balai desa menjadi sasaran warga. Mereka berebut buah-buahan dan makanan seperti ayam bakar yang sudah di baluri doa-doa oleh sesepuh desa setempat.

“Warga disini beranggapan jika makan dari makanan yang diarak keliling desa dan didoakan akan mendapatkan berkah, makannya mereka pada berebut,” katanya.

Tidak hanya itu, warga juga saling bertukar makanan ketupat. Ketupat dipercaya warga setempat sebagai simbol dari permintaan maaf yang tulus antar warga. Puncak acara yaitu popokan, dimana semua warga di desa tersebut mencari lumpur di sawah untuk dilempar ke warga lain. Tidak ada satupun warga yang tersinggung ketika terkena lemparan lumpur. “Mereka senang, karena percaya lumpur tersebut juga membawa berkah,” ujarnya.

Dijelaskan Syamsudin, tradisi Popokan sudah dilakukan oleh warga setempat selama ratusan tahun. Tradisi popokan tersebut juga dilakukan untuk mengenang perjuangan pendiri Desa Sendang yang saat itu sering diserang kawanan hewan buas. “Popokan ini, berasal dari kata popok yang artinya melempar dengan lumpur. Dengan cara dilempar hewan buas akan lari,” katanya.

Wakil Bupati Semarang, Ngesti Nugraha mengatakan banyak nilai sosial yang diwariskan para leluhur melalui tradisi tersebut. “Mempererat silahturahmi, sebab dalam kegiatan tersebut tidak membeda-bedakan antar warga. Selain itu juga menjadi tempat nguri-uri atau melestarikan budaya yang ada,” kata Ngesti.

Dalam tradisi tersebut, semua kalangan baik itu tua maupun muda juga ikut melakukan perang lumpur. Anak-anak juga terlihat ikut serta dalam perang lumpur tersebut. Salahsatu warga setempat, Ardianto, 24, mengatakan, meski terkesan urakan namun semenjak diadakan pertama kali tradisi itu tidak pernah menimbulkan persilisihan maupun permusuhan di akhir acara. “Justru tradisi ini dinanti-nanti banyak warga. Bahkan tidak hanya warga biasa,aparatur desa juga ikut perang lumpur,” ujarnya. (ewb/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Cuci Kereta Api Bareng Anggota Komunitas

SEMARANG–Puluhan anggota komunitas pencinta kereta api (KA) dari Komunitas Railfans Daop Empat (KRDE) dan Indonesian Railways Preservation Society (IRPS), bersama manajemen PT KAI Daop...

Semangka Mantul

Videonya cuma memuat dua konten. Yang pertama, yang diupload sejak 17 Januari 2009, sudah ditonton 912.344 kali. Sampai kemarin (20/8).   Video kedua muncul 22 Februari...

Ganti Speed Gear, Tarikan Kencang

Toyota Corolla DX kini menjadi buruan para modifikator dan pencinta mobil tua. Pasalnya mobil ini memiliki bentuk yang minimalis dengan gaya retro klasik yang...

Membangun Mimpi dari Atas Atap

Oleh: Dahlan Iskan ­ —-Ujian Rustono akhirnya mencapai batas. Berkat sumber air dari kuil itu, Rustono berhasil membuat tempe dengan sempurna. Berikut laporan wartawan Disway,...

Tercepat dan Terluas

TERCEPAT DAN TERLUAS: Sony dan Ariel sedang menujukan video liburan dengan smartphone menggunakan jaringan 4G LTE Telkomsel saat berkunjung di sawah neneknya di jalan...

12.208 Warga Belum Rekam Data

UNGARAN – Belasan ribu warga Kabupaten Semarang masih belum melakukan rekam data KTP Elektronik (E-KTP). Dari data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) saat...