30 C
Semarang
Kamis, 10 Juni 2021

Puasa di Bulan Muharram

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum Bapak DR. KH. Ahmad Izzuddin, M. Ag di Radar Semarang yang saya hormati dan dimuliakan Allah SWT. mau tanya, belakangan ini banyak beredar di media sosial broadcast tentang anjuran berpuasa di bulan Suro. Apakah memang ada dalil atau anjuran untuk melakukan puasa tersebut? Dan apakah nabi pernah melakukannya? Demikian pertanyaan saya, mohon penjelasan dan keterangannya. Semoga pak kiai selalu dilindungi Allah. Amin. Wassalamu’alaikum Warahmatullah

Hisyam, 085641755xxx di Genuk  

Jawaban :

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Bapak Hisyam di Genuk yang saya hormati dan juga dimuliakan oleh Allah. Terimakasih banyak atas pertanyaan bapak dan semoga bapak sekeluarga senantiasa dalam lindungan Allah pula, amin.

Hari Asyura atau hari yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, adalah merupakan hari yang diagungkan dan memiliki banyak sejarah. Dalam literatur kitab klasik kita tentu sering mendengar kejadian pada tanggal 10 Asyura. Diantaranya, Allah menerima taubatnya Nabi Adam, Allah mengangkat derajat Nabi Idris, Allah mengeluarkan Nabi Nuh dari kapal, Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim dari Api, Allah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa, Allah mengeluarkan Nabi Yusuf dari Penjara, Allah mengembalikan pengelihatan Nabi Ya’qub, Allah memulihkan kesehatan Nabi Ayyub, Allah mengeluarkan Nabi Yunus dari Ikan Paus, Allah membelah laut untuk Bani Israil pada kejadian Nabi Musa, Allah mengampuni dosanya Nabi Nuh dan Nabi Daud.

Namun dibalik itu semua, orang muslim dilarang untuk berbuat bid’ah didalamnya. Hanya ada anjuran untuk berpuasa sebagaimana Nabi pernah melakukannya pada zaman Jahiliyyah. “dari Abi Qatadah, sesungguhnya Nabi SAW. bersabda : Puasa hari Asyura, aku mengharapkan pahalanya disisi allah dapat menghapuskan dosa-dosa kecil setahun sebelumnya” (HR. Muslim dan Ibnu Majah). Dari Ibnu Abbas, “Rasulullah SAW memerintahkan berpuasa pada hari ‘Asyura, hari kesepuluh dari bulan Muharram.” (HR. Tirmidzi).

Kemudian perlu juga untuk dietahui, bahwasanya tanggal 10 Muharram merupakan hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani. Ibnu Abbas berkata, ketika Rasulullah melakukan puasa Asyura dan memerintahkan kaum muslim melakukannya, ada salah satu sahabat yang berkata, “Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani”. Kemudian beliau mengatakan, “Apabila tiba tahun depan –Insyaallah- kita akan berpuasa pula pada hari ke sembilan”. Ibnu Abbas mengatakan “Belum sampai tahun berikutnya, Nabi meninggal dunia

Oleh karenannya, disunnahkan berpuasa pada hari ke sembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi Saw berpuasa pada hari kesepuluh dan berkeinginan juga berpuasa pada hari kesembilan atau sering disebut dengan hari Tasu’a.

Namun ada pula ulama yang memiliki perbedaan pendapat, yakni berpuasa pada hari sebelum Asyura dan sesudahnya. Dengan kata lain mereka berpuasa pada tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Hal ini bertumpu kepada hadits yang diriwayatkan Abdur Rozaq, Ath Thohawiy dalam Ma’anil Atsar, dan juga Al-Baihaqi, dari jalan Ibnu Juraij dari Atho dari Ibnu Abbas. Beliau berkata “Selisilah Yahudi, puasalah pada hari kesembilan dan kesepuluh muharram” dan “Puasalah pada hari Asyura dan selisilah Yahudi. Puasalah pada hari sebelumnya atau hari sesudahnya”. Banyak ulama yang mengatakan hadits pertama mauquf (atau hanya  dinilai sebagai perkataan sahabat saja) meskipun ada yang menganggap sanad hadits ini shahih.

Demikian jawaban dan penjelasan dari saya, wallahu a’lam bisshowab. Semoga ada manfaatnya dan barokah. Amin

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here