Strategi Anti selfie di Sekolah

spot_img

DI ANTARA gaya hidup yang paling populer saat ini adalah selfie. Tak lengkap rasanya jika melakukan aktivitas baru atau pergi ke tempat baru tanpa selfie. Berbekal smartphone yang canggih, maka dengan mudah mereka mendapat bidikan pose pribadi tanpa harus repot menggunakan jasa orang lain. Bahkan adanya Tongsis (tongkat narsis) membuat jeprat-jepret foto narsis tak hanya lebih mudah, namun hasilnya boleh dikatakan sempurna dan hebatnya bisa dilakukan sendiri.

Koleksi foto selfie biasanya mereka akan unggah ke media sosial supaya mendapat ragam komentar, like, view atau apalah dari sesama pengguna media sosial. Ada perasaan bangga bahkan cenderung pamer jika foto selfie mereka mendapat banyak like. Namun tidak menutup kemungkinan akan berujung kekecewaan karena mendapat respons negatif dari netizen.

Diakui atau tidak, demam selfie telah melanda siapa saja, termasuk para pelajar. Wajar sih memang, karena mereka terlahir dari generasi milenia atau generasi digital. Ketidakmampuan mereka lepas dari aktivitas selfie karena siswa abad 21 memandang dunia digital sebagai dunia asli mereka (hiperealitas). Penyebaran angket yang dilakukan kepada 50 responden di salah satu sekolah di Semarang diperoleh informasi, jumlah skor 65 – 80 sangat menyukai selfie.

Narsisme

Tingkat kegandrungan selfie yang tinggi pada pelajar di atas dipicu oleh perkembangan teknologi semakin meningkat. Teknologi kamera yang cukup canggih membuat beberapa orang menjadi mudah menyalurkan perilaku narsisme yang ada di dalam diri mereka. Munculnya Facebook juga mendongkrak penggemar selfie. Mereka memperbarui status akun Facebook hampir setiap hari, bahkan setiap jam. Saat meng-up date status Facebook, tidak jarang mereka menampilkan foto selfie mereka dengan berbagai variasi ekspresi wajah.

Baca juga:   Bermain sambil Mendeskripsikan Objek yang Berkesan

 Narsisme merupakan sebuah paham/aliran yang mengagungkan diri pribadi secara berlebihan. Salah satu aktivitas narsis adalah berfoto selfie. Selfie merupakan aktivitas memotret wajah sendiri dengan menggunakan kamera/smartphone, dan menggunggahnya ke internet. Menurut referensi pustakawan Britania, selfie merupakan sebuah aktivitas memotret wajah diri sendiri dengan menggunakan kamera, smartphone atau webcam yang kemudian diunggah ke jejaring sosial atau internet.

Selfie sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial manusia, karena perasaan narsis yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan hilangnya perasaan menghargai orang lain. Menurut Equivalent Pangasi (2014), memamerkan foto selfie dapat berdampak buruk pada perkembangan psikis seseorang. Adapun pengamatan di salah satu SMP di Kota Semarang,  diperoleh info bahwa selfie berakibat negatif, yakni terpeleset di tangga saat berfoto selfie, berfoto selfie pada jam pelajaran secara sembunyi-bunyi, sehingga tidak fokus dengan pelajaran. Selfie juga dapat menyebabkan depresi berat. Seorang remaja di Inggris penggila foto selfie hampir mati bunuh diri, karena menurutnya foto selfie yang dihasilkan tidak bagus (okezone.com).

Guru di lapangan terus memeras otak, agar selfie dapat diminimalisasi. Salah satu caranya adalah menggunakan antiselfie strategies. Metode ini menggabungkan psikologi dan ilmu sosial untuk menurunkan perilaku selfie melalui lingkungan pendidikan, keluarga, dan teman sebaya. Strategi-strategi antiselfie antara lain meliputi strategi yang dikembangkan melalui lingkungan pendidikan, keluarga, dan teman bermain.

Dalam upaya penurunan selfie di lingkungan pendidikan, peneliti memberikan beberapa usulan untuk membuat kebijakan pelarangan membawa handphone di sekolah dengan tujuan agar perilaku selfie menurun. Peneliti dan pihak sekolah bersama-sama mengkaji mengenai dampak negatif membawa handphone di sekolah, di antaranya: 1) Terganggunnya proses belajar mengajar di sekolah. 2) Penggunaan HP membuat siswa malas, dan 3) Penggunaan HP mengurangi sikap sosial siswa untuk berinteraksi.

Baca juga:   Asyiknya Belajar Hafalan Huruf Hijaiyah dengan Metode Bernyanyi

Dalam strategi antiselfie melalui lingkungan keluarga, langkah pertama adalah dengan mengundang orang tua siswa yang terindikasi berperilaku selfie. Setelah itu, orang tua diberikan pengarahan mengenai dampak buruk perilaku selfie terhadap anaknya. Selain itu, untuk menjelaskan dampak buruk selfie, sehingga orang tua siswa disarankan untuk memberikan pembatasan kepada anak dalam menggunakan HP.

Dalam upaya penerapan antiselfie melalui teman bermain, diterapkan strategi di antaranya adalah saling mengingatkan dan komunikasi aktif. Beberapa teman yang terindikasi berperilaku selfie, diberi arahan mengenai bahaya selfie sebagai upaya pencegahan perilaku selfie. Dengan penjelasan tersebut, maka upaya saling mengingatkan akan berjalan dengan sendirinya. Beberapa teman yang sudah diberi penjelasan mengenai dampak selfie lambat laun akan berkomunikasi secara aktif dengan teman yang sering menggunakan HP untuk berfoto selfie, sehingga lambat laun perilaku selfie yang terdapat pada siswa mulai berkurang dan tumbuh interaksi sosial secara interaktif.

Dari upaya guru di atas telah membuahkan hasil memuaskan. Penerapan antiselfie strategies, setiap kategori selfie mengalami perubahan yang signifikan. Pada kategori kurang suka selfie mengalami kenaikan, semula 4 menjadi 19 siswa. Kategori cukup suka selfie mengalami kenaikan, semula 15 menjadi 21 siswa. Kategori suka selfie mengalami penurunan, semula 21 menjadi 5. Kategori sangat suka menalami penurunan, semula 10 menjadi 5.  (*/aro)

Author

Populer

Lainnya