Hanya Jadi Konsumen, Penulisan Jurnal Ilmiah Perlu Didorong

  • Bagikan

SEMARANG – Penulisan jurnal ilmiah oleh para dosen dan peneliti harus terus didorong oleh Kementrian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) ataupun universits itu sendiri dengan memperbanyak pelatihan bagi para dosen ataupun akademisi. Hal ini bertujuan agar karya para akademisi bisa terindeks dalam jurnal nasional ataupun internasional.

Ketua Forum Pengelola Jurnal Management (PPJM) Moh Khoruddin mengatakan, perlu adanya dorongan dari unversitas dan pemerintah untuk mengadakan workshop terkait penulisan jurnal ilmiah. Tujuannya agar bisa menghasilkan jurnal ilmiah yang layak terindeks di jurnal internasional.

“Pelatihan harus diperbanyak, dengan begitu akan muncul jurnal ilmiah yang berkualitas dari dosen,” katanya usai Workshop Riset Management, Call for Paper and Coaching Clinic Manuscript di Hotel Grand Edge, kemarin.

Minimnya penulisan jurnal yang terindeks internasional, kata dia, lantaran Indonesia hanya menjadi konsumen dari jurnal yang sudah ada. Pihak PPJM sendiri menginginkan agar Indonesia menjadi produsen, caranya dengan mengelola jurnal yang dihasilkan akademisi dari universitas di Indonesia. “Jurnal yang ada harus dikelola dengan baik dengan menjadi produsen,” tandasnya.

Dengan banyaknya pelatihan, lanjut dia, minimal jurnal ilmiah yang dihasilkan bisa bermanfaat bagi masyarakat. Saat ini sudah ada 20 jurnal dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang sudah menyandang akreditasi nasional dan satu junral yang lolos indeks jurnal internasional. “ Tahapannya adanya banyak mulai dari administari, konten, format, konsistensi hingga tahapan penentuan,” tuturnya.

Ia mengaku saat ini banyak jurnal ilmiah yang hanya sekadar terbit, namun isi dari jurnal itu sendiri belum bisa dikutip ataupun dijadikan acuan bagi masyarakat. Semakin banyak dikutip oleh masyarakat, lanjut dia, jurnal ilmiah atau penelitian tersebut dianggap sangat penting dan bermanfaat.

“Dalam workshop ini ada 50 jurnal dari beberapa universitas di Indonesia yang masuk, kami akan mendorong dan dipetakan lagi jurnal mana yang bisa masuk di indeks internasional maupun akreditasi nasional,” bebernya. (den/zal)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *