33 C
Semarang
Jumat, 10 Juli 2020

Ubah Mindset, Sampah Bisa Jadi ‘Mata Uang’

Sampahmuda.com, Kelola Sampah dengan Sistem Digital

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Reanes Putra Tito M mengembangkan bisnis sampah lewat sistem berbasis digital. Melalui startup yang dibuatnya, siapapun bisa ikut membantu menjaga lingkungan dengan menjual sampahnya secara cepat dan mudah melalui sampahmuda.com. Seperti apa?

YOBELTA KRISTI AYUNINGTYAS

SEBAGIAN besar masyarakat pasti masih asing dengan alur atau siklus peredaran sampah dari rumah tangga hingga berujung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Belum lagi dengan siklus peredaran sampah industri yang juga tidak kalah panjangnya untuk dipahami. Namun bagi pemuda yang akrab disapa Reanes ini, justru dirinya tertarik untuk menjadi bagian dalam mengelola alur peredaran sampah yang ada di Kota Semarang.

“Aku berkutat dengan sampah sudah sejak tahun 2013 ketika masih kuliah. Itu nekat banget sih. Awalnya, dari pengepul kecil, aku ngambilin sampah anak-anak kampus, kayak kertas-kertas bekas skripsi, buku-buku gitu,” kenang pemuda 26 tahun ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Bahkan dulu kamar kosnya yang berukuran 2,5 x 2,5 meter persegi sempat penuh tumpukan sampah kertas sampai ke plafon. Sebab, saat itu ia menjadikan kamar kosnya sebagai gudang menyimpan sampah yang habis dikumpulkan.

Meski sempat bangkrut dan mengalami jatuh bangun dalam bersaing dengan para pengusaha yang mengelola sampah lainnya, Reanes tidak berputus asa. Hingga akhirnya pada 2015, pemuda kelahiran Magetan, Jawa Timur, ini bertemu dengan seorang kawan bernama Ferrindo yang juga memiliki passion yang sama dalam mengelola sampah. Akhirnya, keduanya memutuskan mendirikan Kertas Muda dengan fokus yang masih sama sebagai pengepul sampah kertas, baik itu dari instansi, kantor, pabrik dan perorangan.

“Saingannya berat banget kalau sudah masuk ke pabrik-pabrik, dan kantor juga. Akhirnya kami berubah dari Kertas Muda jadi Sampah Muda. Fokus kita yang semula hanya profit, menjadi lebih ke sosial,” papar Reanes.

Pada 2016 menjadi kelahiran resmi Sampah Muda yang kemudian semakin berkembang. Tidak hanya sampah kertas saja yang dikumpulkan, sampah lain, seperti sampah plastik, kaleng, juga mereka terima.

“Jadi di Sampah Muda ini sekarang lengkap. Ada campaign dan edukasinya  bagi para agen yang mengumpulkan sampah. Nggak cuma jual-beli saja, karena kalau bicara sampah itu sebenarnya masalah yang kompleks kan, terkait lingkungan dan kesehatan juga. Penyuluhan untuk pentingnya memilah-milah sampah misalnya juga kita berikan,” ujarnya.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, pemuda yang pernah mengambil kuliah di jurusan Marketing Managemen Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini kemudian mengembangkan sebuah website yang menjembatani antara agen pengepul sampah, yang diberinya sebutan agen muda, pada perusahaan pendaur ulang sampah yang mana nantinya nilai jual sampah bisa dihargai lebih tinggi.

“Jadi, sekarang lebih enak, dari agen bisa langsung jual ke pabrik yang daur ulang sampah. Kalau dulu awalnya kan saya yang ambilin satu-satu dari perorangan sampahnya terus dikirim ke pendaur ulang lewat saya. Nah, sekarang sudah nggak. Alur atau rantai perputaran sampahnya itu bisa jadi lebih pendek dan menguntungkan bagi siapapun, orang-orang yang ingin menjadi agen,” ungkap pria yang hobi berkebun ini.

Sampai sekarang tercatat ada lima agen muda yang tersebar di beberapa daerah di Semarang, meliputi daerah Genuk-Pedurungan, Gajahmungkur-Sampangan, Tembalang, Gunung Pati, dan Kaligawe. Setiap bulan, setiap agen bisa mengantongi hingga Rp 2 juta.

Menurutnya, yang membuat Sampah Muda berbeda dengan sistem bank sampah konvensional, selain sudah tersistem dengan rapi dan aman menggunakan website, agen-agen muda yang tergabung dalam Sampah Muda sudah dilengkapi dengan awareness tentang pentingnya mengelola sampah agar bisa lebih bermanfaat dan bernilai.

Ia menambahkan, sekarang, siapapun, orang awam sekalipun yang masih belum familiar dengan pengelolaan sampah, bisa ikut menyumbangkan sampahnya dengan menjualnya di website resmi Sampah Muda, yaitu sampahmuda.com. “Sampai saat ini sudah ada 2000-an users yang bukan agen, yang mengakses website kami untuk menjual sampahnya,” aku Reanes.

Setelah berhasil menorehkan prestasi di Gerakan 1000 Startup Digital Semarang yang sampai pada tahap inkubasi sebagai tiga startup terbaik, Reanes mengungkapkan bahwa ia bersemangat untuk ikut menyukseskan slogan Semarang Smart City dan gerakan Indonesia Bebas Sampah 2020.

“Pada akhirnya sekarang goal-nya nggak hanya sampai orang tidak membuang sampah sembarangan lagi, tetapi sudah sampai ke tahap di mana orang punya mindset kalau sampah itu bisa menjadi ‘mata uang’ baru,” tandasnya. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Ekspose Wisata dengan Jalan Sehat

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Pemkot Magelang terus berupaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakatnya. Salah satunya dengan menyelenggarakan jalan santai yang diikuti ribuan orang, di Alun-alun Kota...

Leaflet Untuk Mengembangkan Kemampuan Dialog

RADARSEMARANG.COM - BERBICARA merupakan salah satu keterampilan penting yang harus dikuasai siswa dalam mempelajari bahasa Inggris. Dengan berbicara, siswa berkesempatan untuk mengungkapkan ide, pikiran...

Adu Keterampilan Pramuka dengan Sportif

SALATIGA – Sebanyak 35 barung mengikuti Lomba Pesta Siaga Kwartir Ranting (Kwaran) 02 Kecamatan Sidomukti. Lomba tersebut digelar di halaman kantor kecamatan dan dibuka...

Bagikan Zakat pada 5.576 Mustahik

RADARSEMARANG.COM, WONOSOBO - Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) Kabupaten Wonosobo men-tasyaruf-kan zakat konsumtif kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) senilai  Rp 5.576.000,  Kamis (7/6) di...

Ruwatan Sengkolo Diikuti 212 Sukerto

DEMAK-Tradisi ruwatan masal hingga kini terus dijalankan. Kemarin, sebanyak 212 sukerto diruwat di Pendopo Notobratan, Kelurahan Kadilangu, Kecamatan Demak Kota. Ritual budaya ini cukup...

UMKM Pasarkan Lewat E-Marketing

WONOSOBO -  Dengan memanfaatkan e-marketing, UMKM di minta go internasional, harus mampu  menembus pasar global. Demikian ditegaskan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Wonosobo Ny Fairus Eko...