Guru Pembina Tunas Muda

spot_img

GURU, apa jadinya kita tanpa mereka? Sungguh menakjubkan bagi seorang anak bisa membaca menulis dan berhitung istilah ngetrennya calistung. Saya teringat waktu masih kelas lima SD, saya punya seorang guru Bu Sumartini, yang mengajar berhitung dan bahasa Indonesia. Saya begitu bersemangat untuk belajar menulis puisi dan cerita dongeng anak-anak, karena ibu saya selalu mendongeng sebelum berangkat tidur setiap malam.

Guru yang bagaimana yang tampaknya memberikan pengaruh terbesar? Apakah guru TK/PAUD, SD, SMP, atau SMA? William Ayers menjawab dalam bukunya To Teach—The Journey of a Teacher, ”Untuk dapat mengajar dengan baik, yang paling dibutuhkan adalah seorang guru yang penuh perhatian, kepedulian, dan pengabdian terhadap kehidupan murid-muridnya. Mengajar dengan baik bukanlah soal teknik atau gaya, rencana atau tindakan tertentu. Mengajar adalah pada dasarnya soal kasih.

”Jadi guru yang berhasil itu yang seperti apa? Beliau mengatakan, “Guru yang menyentuh hati kita, guru yang memahami kita atau peduli kepada kita secara pribadi, guru yang gairahnya akan sesuatu, matematika, bahasa, musik, menular dan memotivasi.”

Tidak diragukan lagi bahwa mengajar pada dasarnya adalah soal kasih dan sayang kita terhadap murid-murid seperti anak kita sendiri. Tidak diragukan lagi, banyak guru yang telah menerima pernyataan dan penghargaan dari murid-muridnya, dan bahkan dari orang tua murid. Sehingga merasa terdorong untuk terus-menerus mengajar, meskipun menghadapi berbagai masalah. Ciri umum dari begitu banyak komentar ini  adalah minat yang tulus dan kebaikan hati yang diperlihatkan oleh sang guru kepada muridnya.

Baca juga:   Menonton Tayangan Film Memudahkan Siswa Menulis Cerpen

Banyak Tekanan

Tentu saja, tidak semua guru menggunakan pendekatan positif demikian. Selain itu, kita juga hendaknya mengingat bahwa guru seringkali menghadapi banyak tekanan yang membuat mereka tidak dapat berbuat banyak demi murid-muridnya. Hal ini membuat kita bertanya: Mengapa orang orang mau menjalani profesi yang sulit ini? Mengapa menjadi guru?

Kebanyakan kita sebagai guru memilih karir demikian, karena mungkin ini adalah profesi yang dapat membantu orang lain, dan mungkin termasuk dalam ilmu yang  bermanfaat dan mungkin juga termasuk amal jariyah yang bisa mengantarkan ke surga kelak. Insya’Allah. Sebab, mengajar adalah merupakan sebuah komitmen untuk membuat perubahan dalam kehidupan anak-anak.  Untuk mewujudkan generasi yang terpuji, berkarakter, ber-Ketuhanan yang Maha Esa, terampil, jujur dan bertanggung jawab demi masa depan yang gemilang menuju Indonesia Emas.

Meskipun beberapa guru sepertinya dapat dengan mudah melaksanakan tugasnya mengajar sebenarnya mengandung banyak rintangan, mengatasi kelas yang muridnya terlalu banyak, birokrasi yang terlalu rumit, murid-murid yang tidak selalu menyimak dan gaji yang kurang memadai. Bapak Umar seorang guru swasta di Kendal, mengatakan ”Menjadi guru sama sekali tidaklah mudah. Itu adalah pekerjaan yang menuntut banyak pengorbanan. Namun tidak soal adanya berbagai kesulitan ini, saya masih menganggap profesi mengajar lebih memuaskan daripada pekerjaan dalam dunia bisnis.”

Baca juga:   Pentingnya Pemberian Motivasi dalam Kegiatan Pembelajaran

Dalam waktu yang sekarang ini tidak hanya di kota kota besar saja tantangan dan kendala yang luar biasa sulit, narkoba, kejahatan, kebejatan moral, dan kadang kadang ketidakpedulian orang tua berpengaruh serius terhadap suasana dan disiplin sekolah. Sikap memberontak merupakan hal yang umum.

Apakah belajar itu harus selalu menyenangkan? Bapak Heriyanto yang juga adalah seorang guru BK SMA swasta di Kendal membuat daftar berisi sepuluh mitos tentang mengajar. Salah satunya adalah,”Guru yang baik membuat belajar lebih menyenangkan.” Beliau melanjutkan kesenangan itu  mengalihkan perhatian, membuat orang terhibur. Badut itu lucu. Lelucon bisa menyenangkan. Belajar bisa membuat orang terlibat dan terserap ke dalam apa yang di pelajarinya, bisa membuat takjub dan heran, dan seringkali bisa sangat mengasyikkan. Kalau belajar menyenangkan itu bagus. Tetapi belajar tidak harus menyenangkan,” beliau menambahkan, Mengajar menuntut pengetahuan yang luas dan kesanggupan, keterampilan, daya pengamatan, serta pemahaman yang tinggi dan yang terpenting adalah menuntut orang untuk memberikan perhatian yang cukup kepada siswa. Semoga guru sebagai pendidik dapat memberikan kontribusinya untuk generasi penerus bangsa yang berkarakter menuju Indonesia yang gemilang. (*/aro)

Author

Populer

Lainnya