Oleh: Nur Hikmah SPd
Oleh: Nur Hikmah SPd

TERGELITIK dari cerita pemilik kantin sekolah yang mengalami keanehan saat siswa selesai makan di kantin. Usai menyantap makanan, dia tidak membayar apa yang dimakan, tetapi meminta uang kembalian pada pemilik kantin. Padahal, menurut pemilik kantin, bayar saja dia belum, tetapi dia malah minta kembalian? Pertanyaan besar bagi pemilik kantin. Dalam hati bertanya, kenapa siswa seperti itu? Di mana kejujuran mereka?

Tragedi di kantin itu, membuat saya bertanya pada diri,  seberapa besarkah kontribusi saya sebagai seorang guru dalam menumbuhkan kejujuran di sekolah ini? Apakah yang harus saya perbuat untuk mendidik mereka dalam kejujuran?

Sekolah penulis adalah sekolah negeri yang dikelilingi oleh pondok pesantren. Meski bukan sekolah keagamaan, tetapi kegiatan pembiasaan keagamaan di sekolah sangat kental. Didukung oleh siswa yang beragama Islam 99,9 persen, sehingga pola belajarnya mendekati  pondok pesantren. Apabila sekolah penulis tidak mengikuti pola belajar di lingkungan sekitar, maka sekolah penulis pasti ditinggalkan mereka. Alhamdulillah meski sekolah negeri, sekolah penulis tetap menjadi favorit di lingkungan sekitar.

Absen salat atau disingkat dengan “Sensol”  adalah  kegiatan guru untuk mengabsen salat dari setiap siswa sebagai pengganti absen hadir siswa. Cara absen salat siswa adalah dengan menjawab melalui dua kata menggunakan Bahasa Inggris. Kata pertama adalah keterangan berapa banyak siswa tidak melaksanakan salat fardhu (wajib )  atau salat lima waktu. Sedangkan kata kedua adalah keterangan siswa telah melaksanakan 2 salah sunnah, yakni salat dhuha dan salat Tahajud. Kenapa harus salat tahajud dan dhuha?

Penulis jelaskan alasannya. Setidaknya penulis sudah berusaha untuk mengingatkan siswa dalam hal kebaikan.  Sebagai contoh, ketika si Fulan diabsen, maka bukan ada atau izin/sakit cara menjawabnya, tetapi dijawab dengan dua kata dalam bahasa Inggris. Misalnya zero one, artinya bahwa si Fulan telah melaksanakan seluruh salat wajib ( 5 waktu) dan telah melaksanakan satu salat sunnah, misalnya tahajud. Tetapi si Ahmad ketika diabsen menjawab one one, berarti si Ahmad tidak melakukan salat wajib satu kali dan melakukan salat tahajud 1 kali.

Selanjutnya akan ditanya apa salat yang ditinggalkannya? Maka si Ahmad akan dapat sanksi berupa hafalan surat pendek beserta artinya. Tidak hanya sanksi yang diberikan kepada yang melanggar, tetapi reward penulis siapkan untuk siswa yang konsisten melaksanakan saalt 5 waktu dan 2 salat sunnah tersebut selama satu tahun.

Seminggu setelah sosialisasi tentang “Sensol” ini, ternyata menunjukkan sikap positif yang luar biasa pada kebiasaan ibadah siswa. Antara lain, pada istirahat pertama para siswa berbondong-bondong ke musala untuk melaksanakan salat dhuha yang sebelumnya musala sepi di saat istirahat pertama, jamaah dzuhur membeludak di musala. Sampai-sampai sekolah penulis harus menggunakan laboratorium fisika untuk salat berjamaah.

Rasa bangga terhadap perubahan perilaku siswa pada kebiasaan ibadah khususnya salat. Meski di awal siswa merasa terpaksa melakukan hal tersebut agar tidak malu dengan guru dan teman-temannya, ternyata untuk melaksanakan Sensol pun tidak memakan waktu yang lama, cukup 3-8 menit setiap pertemuan tergantung dari jumlah siswanya.

Konsekuensi dari Sensol ini mengandung beberapa pelajaran yang dapat diambil dan diterapkan dalam kegaitan pra pembelajaran, antara lain: menumbuhkan kejujuran siswa, meningkatkan ketaatan ibadah siswa khususnya siswa muslim, sehingga kewajiban salat 5 waktu dapat dilaksanakan.

Sikap lain yang dapat ditumbuhkan adalah meningkatnya sikap disiplin waktu. Ini berefek positif terhadap kegiatan pembelajaran di kelas dan di luar kelas. Yakni, sikap disiplin dalam mengerjakan PR atau tugas-tugas lain yang diberikan. Untuk sikap positif di luar kelas, siswa menjadi taat, sopan dan hormat kepada guru. Meski di awal kesepakatan siswa merasa terpaksa melakukannya tetapi diharapkan akan menjadi suatu pembiasaan positif.

Sensol ini jelas tidak dapat digunakan untuk semua sekolah, tetapi untuk sekolah yang memiliki kondisi lingkungan yang sama bisa diujicobakan. Apalagi untuk jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah yang merupakan kunci utama penumbuhan karakter jujur tersebut. Pada akhirnya kejujuran menjadi karakter bangsa. (*/aro)