32 C
Semarang
Kamis, 24 Juni 2021

Kesulitan Ciptakan Celar and Green City

SEMARANG – Sekda Jateng, Sri Puryono punya obsesi mengemas seluruh wilayah Jateng menjadi clear and green city. Sebuah konsep wilayah yang bersih dan hijau. Minimal bebas dari sampah. Tapi hingga saat ini, Pemprov Jateng bisa dibilang masih kesulitan dalam pengelolaan sampah.

Sampah memang masalah klasik. Menjadi problem turun-temurun yang belum sepenuhnya tuntas. Seiring bertambahnya jumlah penduduk, kompleksitas pengelolaan sampah pun meningkat. “Pengelolaan sampah menjadi masalah sejak lahir. Orang-orang pendahulu kita sudah dihadapkan dengan masalah sampah, meski tidak serumit sekarang. Saat ini manusia makin banyak frekuensi aktivitasnya, makin banyak persoalan sampah yang muncul,” papar Sekda saat menjadi narasumber FGD ‘Pengelolaan Persampahan Berbasis Masyarakat’ di Hotel Candi Indah, belum lama ini.

Menurutnya, perlu ada semacam konsep pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Hanya saja, kendalanya mengenai sosialisasi. Sebab untuk bisa mengajak massa bisa bergerak bersama untuk ‘melawan’ sampah, tidak semudah membalikkan telapak tangan. “Menggerakkan masyarakat itu tidak mudah. Perlu menciptakan mindset,” ujarnya.

Padahal, saat ini sudah banyak orang yang sebenarnya sadar mengenai dampak buruk sampah. Banjir yang sudah menjadi langganan beberapa daerah setiap tahun, misalnya. Menurut Sri Puryono, banjir tidak melulu karena buruknya sistem drainase. Tapi juga disebabkan masalah sampah yang belum ditangani dengan baik. Karena itu, pengelolaan sampah berbasis masyarakat merupakan hal penting yang harus diterapkan.

Jika melihat kondisi sekarang, program clean and green city bakal sulit diciptakan. Padahal, lewat program tersebut, dia berharap budaya untuk memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali daur ulang sampah dapat diterapkan secara kontinyu.

Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Jateng Bidang Pengembangan Energi, Tegoeh Wynarno Haroeno menjelaskan, masalah sampah sebenarnya bisa menjadi sangat bermanfaat jika dilihat dari sudut pandang lain. Yaitu ketika diolah menjadi energi baru terbarukan (EBT).

Beberapa tempat di Jateng, sudah ada yang mengolah sampah menjadi bio gas. “Bio gas itu bisa dimanfaatkan sebagai pengganti elpiji untuk menyalakan kompor, hingga menghidupkan genset agar menjadi tenaga listrik. Di negara lain, ada yang mengolah sampah plastik menjadi BBM,” katanya.

Meski terbukti bermanfaat, tapi pemerintah dirasa masih kurang serius menggarap EBT. Masih banyak potensi EBT yang disia-siaka n. Bisa jadi karena alasan biaya. Memang, untuk membuat satu unit EBT jenis apa saja, butuh anggaran yang besar. Selain itu, masyarakat belum melirik kehebatan EBT karena masih merasa di zona nyaman. Yaitu mendapat subsidi biaya energi dari pemerintah. (amh/ric)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here