32 C
Semarang
Sabtu, 19 Juni 2021

Menteri PUPR Gelontor Kota Lama Rp 191 Miliar

SEMARANGPeserta World Heritage Camp Indonesia (WHCI) 2017 mengkaji kawasan Kota Lama yang saat ini masuk dalam list tentative World Heritage UNESCO. Ada beberapa pembahasan untuk pengembanhan Kota Lama, di antaranya mengenai zonasi atau batas wilayah, pemangku kepentingan, faktor-faktor yang mengancam terhadap Kota Lama dan kajian terkait revitalisasi.

Ketua World Heritage Camp Indonesia (WHCI) 2017, Fadli Kurniawan, mengatakan, hal terpenting adalah semua pihak agar turut terlibat dalam mengampanyekan untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya dunia ini kepada generasi muda.

“Ada beberapa isu yang kami bahas terkait pertemuan dengan Wakil Wali Kota Semarang. Di antaranya mengenai zonasi atau batas wilayah, pemangku kepentingan, faktor-faktor yang mengancam terhadap Kota Lama Semarang dan kajian-kajian terkait revitalisasi,” katanya.

Nanti, hasil kajian tersebut bisa dijadikan pertimbangan dalam pengembangan kawasan Kota Lama. “Output-nya, mereka membuat poin-poin rekomendasi pengusulan Kota Lama Semarang menjadi World Heritage UNESCO,” ujarnya.

Sejauh ini, kata dia, Kota Lama ini masih dalam tahap pembenahan secara bertahap. Sedikit demi sedikit kondisi Kota Lama yang dulu kumuh, sekarang menjadi lebih tertata rapi. Sesuai dengan tema “Warisan Industri Membentuk Peradaban” mengangkat sejarah perjalanan Semarang sebagai sebuah kota yang terbentuk dari aktivitas industri dan perdagangan. “Generasi muda diharapkan bisa berkomitmen menjaga Kota Lama ini,” katanya.

Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, mengatakan, pihaknya telah diminta oleh Kementerian Pariwisata untuk mengajukan proposal terkait konsultan pengelolaan Kota Lama.

“Kami sudah sampaikan, ada BUMN-nya Spanyol yang memang ahli dalam bidang heritage. Kedua, kami akan menyusun program-program, sehingga tidak bertabrakan dengan program Kementerian PUPR. Kemarin, kami sudah bertemu dengan pak menteri. Alhamdulillah, anggaran Rp 191 miliar disetujui. Tetapi untuk tahap awal Rp 60 miliar. 2017 ini Rp 10 miliar dan Rp 50 miliar untuk 2018. Itu untuk pembenahan infrastruktur di kawasan tengah Kota Lama. Sisanya itu untuk penguatan tanah, pembuatan polder, di sekeliling Kota Lama,” katanya.

Prosesnya nanti berjenjang maksimal hingga 2019. Tetapi, kalau bisa, kata Hevearita, 2018 bisa diselesaikan.

“Tahun ini pembenahan infrastruktur drainase. Anggarannya menggunakan sistem tahun jamak, sehingga bisa dilanjut 2018. Pelaksanaannya, semua dilaksanakan oleh Kementerian PUPR. Tetapi mengenai revisi Detail Engineering Design (DED), tetap melibatkan Pemkot Semarang dan BPK2KL,” ujarnya. (amu/aro)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here