33 C
Semarang
Jumat, 7 Agustus 2020

Pilis dan Endok Remek di Pengantin Semarangan

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

SEMARANG Prosesi pernikahan atau ritual pernikahan adat asal Semarang, kini mulai jarang digunakan. Padahal rias pengantin Semarangan dan prosesinya berbeda dengan adat dari Jogja ataupun Solo. Dari segi busana, pengantin Semarangan memiliki akulturasi berbagai budaya, di antaranya Jawa, Arab, Tionghoa dengan segi filosofi kemajukan budaya.

Sepasang pengantin Semarangan tampak diarak dengan menggunakan kuda di kawasan Kota Lama, tepatnya dari halaman Kantor Pos sampai Gereja Blenduk, Jumat (15/9) petang kemarin. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian masyarakat, terutama generasi muda untuk kembali menggunakan adat, busana, dan prosesi pernikahan asli Semarang ini.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Masdiana Safitri, mengatakan, jika nilai dan aktulturasi budaya yang ada dalam pengantin Semarangan ini coba dihidupkan kembali mengadakan arak-arakan, lomba rias, yang ditambah dengan ajang kuliner, rock Kota Lama yang merupakan rangkaian dari Festival Kota Lama.

“Sengaja digelar di Kota Lama, biar menjadi daya tarik bagi para wisatawan dari dalam ataupun luar negeri,” katanya.

Tujuan dari arak-arakan kemarin, lanjut dia, agar masyarakat bisa menyaksikan keindahan busana pengantin Semarangan sekaligus melihat prosesi yang ada, sebagai sarana sosialisasi.

Menurut dia, banyak sanggar rias pengantin yang belum tahu dengan adat asli Semarang.  “Kalau digarap dan sosialisasikan pasti generasi muda akan tertarik, karena cenderung simpel dan tidak bertele-tele. Goalnya tentu juga meningkatkan kunjungan wisata di Kota Lama,” jelasnya.

Sekda Kota Semarang, Adi Tri Hananto, mengatakan, dengan acara tersebut, Pemerintah Kota Semarang berusaha memperkaya khasanah budaya yang ada di Semarang.

Menurut dia, dengan adanya kegiatan tersebut terutama di Kota Lama, akan mengungkit kegiatan lain yang ada di Kota Semarang.

“Pariwisata yang maju bisa mengungkit kegiatan lain yang ada di dalam kota, ke depan Kota Lama akan dikembangkan untuk memperkuat budaya dan pariwisatanya,”katanya.

Anggota Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) Kota Semarang, Adriyani Trisno, menjelaskan, jika tata rias pengantin khas Semarang di zaman modern ini semakin tersisihkan dan mulai tertinggalkan. Padahal tata rias pengantin khas Semarangan memiliki nilai bobot filosofi yang sangat tinggi dan menceritakan tentang kemajemukan budaya warga Semarang.

Riasan ini memiliki dua unsur, yakni pilis dan endok remek, di mana menonjolkan dua unsur budaya Arab dan China.

“Perbedaannya sangat mendasar, untuk rias pengantin Semarang cenderung ke arah muslim. Lantaran sang mempelai memakai kaos tangan dan dan kaos kaki. Busananya pun merupakan percampuan dari China, Arab dan Jawa. Jika rias pengantin Solo dan Jogjakarta lebih condong ke kerajaan,” paparnya.

Menurutnya, unsur akulturasi budaya Arab dan China ada pada pilis yang merupakan asesoris pada mempelai wanita yang terletak pada dahi, terdiri atas tiga lapisan bertingkat, yakni pilis bermata emas, pilis bermata perak, dan pilis terbuat dari beludru berpayet. Selain itu, endok remek  yang merupakan asesoris berupa gulungan memanjang bunga melati dan cempaka kuning yang terletak di sisi telinga atau mata kanan dan kiri si wanita.

“Dua unsur tersebut menghiasi mahkota dan cundhuk menthul yang berjumlah dua bagian, yakni lima buah berada di atas pilis mengambarkan lima rukun Islam dan tujuh belas buah di atas mahkota melambangkan jumklah rakaat salat wajib lima waktu,” jelasnya.

Sedangkan untuk pengantin pria memakai kopiah atau syurban dengan baju gamis beludru dan  endok remek bunga melati yang diselipkan pada sisi kiri telinga atau mata pengantin pria.  “Endok remek melambangkan sekat bahwa kedua pengantin sebelum disahkan tak diperkenankan saling melirik atau memandang dikarenakan masih belum muhrimnya,” ujarnya. (den/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Ajak Siswa Gemar Minum Susu

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA - Gerakan kampanye gemar minum susu telah lama dicanangkan oleh pemerintah Indonesia. Tetapi hingga saat ini, gerakan tersebut belum serta merta membuat...

Kawal Bantuan agar Tepat Sasaran

SEMARANG - Pemprov Jateng ikut mengambil porsi program pemerintah pusat berupa bantuan pangan nontunai sebagai upaya penanggulangan kemiskinan di tujuh daerah. Selain membantu sosialisasi,...

Optimalisasi Pengembangan Potensi bagi Anak Lambat Belajar

RADARSEMARANG.COM - ANAK yang mengalami lambat belajar (slow leaner) adalah anak yang memiliki potensi intelektual di bawah normal, tetapi tidak termasuk tuna grahita. Kondisi...

Kejurkab PBSI Kendal Siap Digeber

RADARSEMARANG.COM, KENDAL - Kejuaraan Djarum Foundation Kejurkab PBSI Kendal 2018 bakal digelar mulai hari ini, Kamis (23/8), di GOR Trend Sport Center, Weleri. Penyelenggaraan...

Pernah Amankan 16 Ekor Ular dalam 2 Malam

RADARSEMARANG.COM - Sejatinya, ular adalah hewan liar. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan, hewan berbisa ini bisa dijinakkan. Asal tahu chemistry-nya, ular bisa digendong layaknya...

Semarang Berangkatkan 55 Mobil Fortuner  

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Sebanyak 55 mobil anggota Semarang Fortuner Community (SFC) diberangkatkan ke Surabaya, untuk mengikuti Jambore Nasional (Jamnas) ke-3 pada Sabtu (14/4) dan Minggu (15/4)...