33 C
Semarang
Sabtu, 4 Juli 2020

Pendidikan Karakter Harus Perhatikan Kearifan Lokal

Another

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya...

SEMARANG–DPRD mengapresiasi diterbitkannya Perpres 87 Tahun 2017 soal Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Dewan meminta agar segera dikeluarkan atuan turunannya berupa Permendikbud. Karena Permendikbud 23 tahun 2017 tentang hari sekolah telah dibatalkan.

Harapannya, kebijakan baru yang dikeluarkan bisa benar-benar menguatkan Pendidikan Karakter. Pasal 9 Perpres 87 kegiatan PPK dalam KBM bisa 6 hari atau 5 hari sekolah. “Harus ditunggu, apakah nanti menguatkan pendidikan karakter atau tidak. Kami berharap ini bisa menjadikan pendidikan karakter sebagai perioritas,” kata anggota Komisi E DPRD Jateng, Muh Zen Adv.

Ia menambahkan, untuk Madrasah bisa dipastikan akan tetap menggunakan 6 hari sekolah. Sebab ada Mapel keagamaan yang tidak memungkinkan dilaksanakan 5 hari sekolah. Meski begitu, untuk yang melaksanakan 5 hari sekolah harus ada beberapa persyaratan. Di antaranya ketersediaan guru dan TU serta tersedianya Sarpras Satuan pendidikan.

“Pertanyaannya, apakah sekolah sudah menjamin lingkungan sekolah termasuk ruang kelas yang nyaman dalam KBM sampai sore hari? Apakah sarana ibadah sudah ada sesuai daya tampung anak, termasuk ketersediaan air untuk bersuci? Apakah kantin sehat sekolah juga sudah siap dan representatif,” ujarnya.

Hal itu, kata dia, sangat penting untuk diketahui. Ternyata lebih dari 40 persen sarpras sekolah banyak yang sudah rusak, 70 persen lebih belum memiliki sarana ibadah dan tempat wudlu yang representatif. Keberadaan kantin sekolah yang masih apa adanya, serta banyaknya penjual jajanan di lingkungan sekolah yang kadang harus diperhatikan kesehatannya. “Ini persoalan yang harus diselesaikan, jangan sampai kegiatan belajar mengajar terganggu masalah sarana prasarana,” tambahnya.

Dewan mendukung adanya Penguatan Pendidikan Karakter. Tetapi yang harus diperhatikan, semua itu juga harus tetap memperhatikan kearifan lokal, pendapat komite kekolah, tokoh agama serta tokoh masyarakat. Poin ini sangat penting dan  harus komprehensif, tulus tanpa rekayasa. Misalnya seperti bagaimana cara agar satuan pendidikan bisa memastikan bahwa program PPK ini didukung oleh mereka. Bentuk kerja sama seperti apakah dengan kearifan lokal seperti madin, TPQ, pesantren dan lainnya. “Harapananya, agar penguatan pendidikan karakter (PPK) benar-benar dengan perencanaan yang matang, tidak hanya sekedar asal jalan, memenuhi kebutuhan jam mengajar, memenuhi kebutuhan anggaran besar tapi hasil produknya semakin tidak jelas (revolusi mental gagal),” tambahnya. (fth/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

Tambah Puyeng, Suami Nganggur

RADARSEMARANG.COM, LADY Sandi, 38, harus siap menanggung beban dua kali lebih besar setelah menjatuhkan talak suaminya. Bukan tanpa alasan, John Dori, 45, yang gagah...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Hendak Tawuran, Pelajar Bawa Pedang

MUNGKID— Giat patroli Polsek Salam di Dusun Gatakan, Desa Gulon, Kecamatan Salam, pada Selasa (3/10) sore berhasil menggagalkan aksi tawuran antarpelajar. Sejumlah pelajar dari...

Buruh Nyonya Meneer Tuntut Rp 98,2 Miliar

SEMARANG-Setelah Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Semarang, saat ini giliran kantor advokat Anwar, Agoeng and Associates mengklaim sedang mendampingi 1.104 buruh PT Nyonya Meneer (PT...

UM Magelang Juarai Robotik di Malaysia

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID—Prestasi membanggakan diukir oleh tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang. Mereka berhasil meraih juara pertama kontes robotik di ajang   4th TMAC Design Workshop...

Viral Video Jenazah Imam Samudera Utuh, Mabes Polri Pastikan Hoax

JawaPos.com - Beredar video mengklaim jenazah Abdul Aziz alias Imam Samudera, terpidana mati dalam bom Bali 2002, masih utuh. Namun hal tersebut dipastikan hoax...

Menanti Wajah Baru Stadion Jatidiri

SEMARANG – Setelah dipastikan molor, renovasi Stadion Jatidiri Semarang tahap kedua bakal segera terwujud awal September 2017 ini. Segala persiapan renovasi tahap kedua telah...

Perkuat Perlindungan Hak Cipta

SEMARANG - Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) Jawa Tengah, segera membentuk 35 Dewan Perwakilan Cabang...