Justru Memperkeruh Situasi

124

SEMARANG – Aksi Bela Rohingya yang rencananya digelar di kawasan Candi Borobudur, Magelang, hari ini, Jumat (8/9), rentan ditunganggi pihak yang ingin memperkeruh kerukunan antarumat beragama di Jateng. Widhi Handoko dari forum komunikasi Pemerintahan Tokoh Agama dan Masyarakat Semarang (Petamas) menilai,Permasalahan di Rohignya adalah karena sumber daya alam dan politik. Jika dibawa ke SARA malah menjadi sensitif.

“Sebenarnya semua ajaran agama tidak mengajarakan peperangan, penindasan. Di Rohingnya itu bukan intoleransi, karena pemerintah Myanmar memandang itu sebuah peperangan, dengan terjadinya pelanggaran peperangan jangan dihubungkan dengan SARA,” katanya, Kamis (7/9).

Bakal calon gubernur (bacagub) dari PDIP ini berharap, aksi di Borobudur tidak menjurus ke isu SARA. Apalagi Myanmar memandang Indonesia adalah satu-satunya negara yang dipercaya untuk ikut mengatasi gejolak di Rohingya. Jika kepercayaan Myanmar hilang, dikhawatirkan akan menambah kesulitan untuk ikut mengatasi konflik di sana. “Akhirnya malah menambah penderitaan etnis Rohingnya,” ucap pengusaha ini.

Sementara, organisasi mahasiswa pergerakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kota Semarang, memutuskan tidak ikut dalam aksi Bela Rohingya di Borobudur Jumat. Humas KAMMI Semarang, Sigit Tirti Utomo, justru memilih aksi solidaritas di Semarang di hari yang sama.

“Setelah dikaji, kami memutuskan tidak ikut ke Borobudur. Karena tidak ada sangkut pautnya dengan tempat ibadah umat lain yakni Buddha. Kami akan menggelar aksi solidaritas mengecam kejahatan kemanusiaan di Myanmar,” katanya.

Di lain pihak, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ahmad Daroji meminta agar aksi bela Rohingya di Borobudur dibatalkan. Apalagi Borobudur selain sebagai tempat ibadah umat Buddha di waktu tertentu, juga sebagai destinasi wisata yang sudah mendunia.

“Selain itu, kaitannya dengan suadara kita di Borobudur sebagai aksi simpatik, tidak usah dilanjutkan karena kita sudah toleran, dengan umat muslim jumlah mayoritas dan umat Budha yang minoritas suasana sangat toleransi. Ini bisa menjadi contoh,” katanya.

Meski sebagai aksi simpatik, Ahmad Daroji justru mengkhawatirkan terjadi tindakan di luar kendali bahkan ditakutkan ada provokator yang menyulut pada anarkhis.”Tunjukan jika kita ini Rahmatan Lil Alamin, takutnya ada provokator yang menyulut suasana tak terkendali,” tambahnya. (amh/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here