33 C
Semarang
Rabu, 30 September 2020

Pedagang Awul-Awul Sulit Ditemui

Baca yang Lain

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak...

UNGARAN-Pakaian bekas impor atau yang kerap disebut awul-awulan pernah berjaya dan menjadi pilihan masyarakat. Namun sekarang sulit ditemui sejak diterbitkannya Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 51/M-DAG/PER/7/2015 tentang Larangan Impor Pakaian Pakaian Beka.

Padahal pakaian bekas tersebut sebagian untuk memenuhi kebutuhan sandangnya, dan sebagian lagi untuk sekedar berpenampilan modis. Maklum saja, meski hanya menjual pakaian bekas, namun awul-awul sebagian besar adalah pakaian bekas bermerek terkenal dengan harga terjangkau oleh semua kalangan.

Salah satu pedagang awul-awul, Febri mengakui selain karena adanya larangan pemerintah, diperparah dengan naiknya harga jual pakaian bekas impor juga menjadi penyebab lain. Akibatnya, sebagian besar pedagang awul-awul harus mengganti produk dagangannya menjadi pakaian-pakaian baru namun tetap murah. “Sekarang teman-teman banyak yang sudah ganti menjual pakaian serba Rp 35 ribu,” kata Febry.

Padahal, kata Febry, penjualan pakaian awul-awul memiliki prospek yang cukup bagus. “Masih banyak yang mencari pakaian bekas dari kalangan yang mengerti merek bagus dan sulit dicari di Indonesia. Sedangkan kalangan bawah seperti sopir truk, kuli, hingga petani yang katanya untuk pakaian dia bekerja,” ungkap Febry.

Pakaian awul-awulan memiliki harga terjangkau dengan merek ternama. Contohnya saja jaket dengan merek ternama, hanya dihargai Rp 10 ribu sampai Rp 200 ribu saja. Sedangkan pakaian serba Rp 35 ribu merupakan pakaian baru yang dijual dengan merek terkenal, namun bukan produk asli. ”Yang membeli biasanya pekerja pabrik. Karena murah, memang selera gaya pakaian mereka” ungkap Ahmad salah satu penjual pakaian serba Rp 35 ribu yang juga mantan penjual awul-awulan. (mg46/bas/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...

Setuju BTP

BTP kini sudah menjadi ''orang dalam" BUMN. Posisinya bisa dibilang menentukan, bisa dibilang kejepit. Tergantung pemegang sahamnya. Secara resmi pemegang saham BUMN itu adalah Menteri Keuangan....

Artikel yang Lain

- Advertisement -

Populer

Semarang 10K, Cetak Atlet Sekaligus Kenalkan Wisata 

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang akan mengadakan event lari 10K pada 16 Desember 2018 mendatang. Rencananya kegiatan tersebut akan menjadi agenda tahunan. Selain...

Apersepsi, Pembangkit Motivasi Dan Minat Siswa

RADARSEMARANG.COM - DARI tahun pelajaran 2016/2017 sampai dengan saat ini, terdapat kebijakan baru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)....

Traveling di Sela Kerja

DUNIA memang tidak selebar daun kelor. Ungkapan itu yang dipegang Ratih Mega Rizkiana. Wanita kelahiran Ambarawa Kabupaten Semarang, 8 Maret 1988 ini selalu menyisihkan...

Sport Center Bisa Tingkatkan Prestasi

SEMARANG - DPRD meminta agar Pemprov dan kabupaten/kota lebih serius menggarap potensi atlet di Jateng. Salah satunya dengan meningkatkan dan menambah keberadaan pusat olahraga...

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak,...

Teknologi Augmented Reality untuk Kelas Inspiratif

RADARSEMARANG.COM - PERKEMBANGAN teknologi menuju era digitalisasi sudah merambah ke bidang pendidikan. Siswa dengan istilah “anak zaman now” tidak dapat lepas dari teknologi. Hampir...